Semarang, (Tagar 5/2/2019) - Wali Kta Semarang Hendrar Prihadi mengaku menjadi bulan-bulanan di media sosial (medsos) usai menyatakan 'tidak mendukung Jokowi jangan pakai jalan tol'. Akun Instragram @hendrarprihadi di-bully oleh netizen yang tidak setuju dengan pernyataan politisi PDI Perjuangan tersebut.
"Dua hari sejak Sabtu, Minggu dan Senin ini, di akun saya dikomentari, tanda kutip di-bully," ungkap Hedrar Prihadi kepada Tagar News, Senin (4/2).
Pantauan di @hendrarprihadi, ribuan komentar memenuhi postingan milik walikota. Bahkan postingan yang tak ada kaitan dengan pernyataan kontroversi, turut menjadi sasaran empuk komentar pedas maupun umpatan netizen. Bully-an komentar bernada sarkastik juga menyertakan atau menyebut capres nomor urut 02 Prabowo Subianto.
Menyikapi respon warganet, Hendrar Prihadi melihat sebagai hal positif. Tanggapan-tanggapan tersebut dinilai sebuah pengakuan dari netizen pendukung 02 atas kerja keras Jokowi dalam membangun jalan tol. Artinya dengan menolak dilarang masuk tol mengindikasikan mereka membutuhkan jalan tol.
"Saya mencermati itu sebagai sebuah hal yang secara hati nurani mereka mengakui jalan tol yang dibangun Pak Jokowi ini manfaatnya besar. Mereka kan kemudian mengatakan saya ini keliru kalau melarang 02, padahal jalan tol ini milik bersama, manfaatnya besar, ya saya ucapkan terimakasih," ujar dia tersenyum.
Bahkan Hendi, sapaan akrab Hendrar Prihadi, menganggap kenyinyiran tersebut sebagai bagian support pendukung 02 atas kerja nyata Jokowi . Hendi pun berharap dengan adanya kesadaran atas kerja Jokowi, pendukung 02 segera sadar untuk beralih mendukung Jokowi di Pilpres 2019.
"(Pendukung) 02 akhirnya mengakui bahwa jalan tol ini manfaatnya sangat besar untuk bangsa. Dan saya doakan mudah-mudahanan pendukung 02 kemudian bisa mendukung Pak Jokowi, kan gitu," beber dia.
Soal cibiran jalan tol sudah ada sejak dulu, Hendi mengakuinya. "Oh ya benar, pemimpin-pemimpin dulu juga sudah menggagas dan mulai membangun jalan tol," ujar dia.
Namun ia menggarisbawahi bahwa membangun jalan tol dari ujung barat hingga timur Pulau Jawa butuh perencanaan matang.
"Tapi jangan lupa, kita harus mampu membaca keberanian Pak Presiden (Jokowi). Menyambung Jakarta sampai Surabaya ini bukan pekerjaan mudah,” tutur dia.
Hendi lantas membandingkan kerja Jokowi dengan pembangunan jalan yang dilakukan oleh penjajah dibawah pimpinan Herman Willem Daendels.
"Dulu pernah disambung oleh Daendels tapi kemudian ribuan orang harus kerja paksa dan banyak yang meninggal. Pak Jokowi menyelesaikan ini tidak sampai empat tahun," tukas dia. (ags)