Semarang - Saat Idul Fitri, sudah jamak seseorang membagikan uang tunai pada seorang kerabat. Namun di masa depan, pemberian uang tunai bisa semakin berkurang.

Dimulai tahun 2012 saat revolusi teknologi uang terjadi. Di negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan China, hampir semua transaksi bersifat cashless atau tidak menggunakan uang tunai. 

Salah satu daya pendorongnya sejak Apple mengeluarkan sistem iCloud yang dapat menampung demikian banyak data di komputer. Berbagai usaha start-up booming termasuk digitalisasi uang. 

Berkurangnya penggunaan uang tunai semakin hari semakin menyebar. Sekarang setiap orang yang berberlanja sudah tidak menggunakan uang cash atau uang kontan lagi, namun dapat membayarnya dengan kartu debit atau lebih sering disebut uang digital. Tidak hanya berbelanja, untuk menggunakan angkutan umum pun juga tidak perlu menggunakan uang tunai.

Penumpang tidak harus khawatir ketika kartu pembayaran hilang, uang di dalamnya tidak otomatis lenyap. Mereka tinggal mengurusnya dengan cara melakukan registrasi online dengan menunjukkan nomer akun dan identitas diri. Demikian juga yang terjadi dengan kartu debit. Jikapun hilang, uang di dalamnya masih terproteksi.

Lain halnya jika kehilangan uang tunai, maka hilang keseluruhannya. Apalagi kalau uang tersebut untuk kebutuhan hidup beberapa waktu ke depan. 

Uang Digital Lebih Praktis

Membawa uang digital juga praktis, karena tidak memenuhi dompet. Berapa pun jumlahnya, hanya tersimpan di sebuah kartu.

Sebagai alat untuk pembayaran, uang berubah fungsi sebagai informasi. Misalnya saat menerima gaji misalnya, kita tidak melihat uang kita karena langsung ditransfer di bank.

Selain itu, uang digital juga menghindarkan pemiliknya dari tindakan kejahatan. Seorang kriminal biasanya lebih tertarik pada benda-benda yang proses penukarannya cepat, seperti uang tunai.

Uang Tunai itu Kotor

Bagi sebagian orang, mereka menganggap uang tunai itu kotor. Definisi kotor tersebut bisa diterangkan dalam nyata dan kiasan, yaitu

1. Kotor secara nyata, karena uang mengandung kuman dan bakteri dari berbagai tangan yang memegangnya. 

Uang tunai dalam bentuk kertas kumal dan receh telah berpindah beberapa kali di jalanan. Kita tidak pernah tahu, siapa saja yang memegang uang itu.

2. Kotor secara kiasan, uang tunai kotor karena penggunanya. 

Uang kas sering digunakan untuk kejahatan, baik itu korupsi, perampokan suap dan lain-lain. . []

Baca juga: