UNTUK INDONESIA
Daya Inovasi Indonesia Peringkat 2 ASEAN dari Bawah
Angka indeks inovasi Indonesia menempati posisi kedua ASEAN dari bawah. Hal ini menjadikan daya saing Indonesia masih rendah.
Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bambang Brodjonegoro. (Foto: Antara/Widodo S. Jusuf)

Jakarta - Menteri Riset dan Teknologi Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro mengatakan angka indeks inovasi Indonesia menempati posisi kedua ASEAN dari bawah. Hal ini menjadikan daya saing Indonesia masih rendah.

"Indeks inovasi global kita itu nomor dua terendah di ASEAN. Jauh di bawah negara tetangga kita Singapura dan Malaysia. Rendahnya indeks inovasi global membuat daya saing kita tidak terlalu baik," kata Bambang melalui konferensi video di acara Konferensi Forum Rektor Indonesia, Sabtu, 4 Juli 2020.

Di sini butuh perjalanan panjang. Karena untuk mengejar GNI per kapita 12 ribu kita butuh upaya yang biasa untuk lompat dari 4 ribu.

Menurutnya, untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi maka inovasi juga harus dikembangkan. Padahal, Indonesia memiliki target menjadi negara berpendapatan tinggi pada 2024. Untuk mencapai itu pendapat per kapita suatu negara harus mencapai lebih dari US$12.535.

Baca juga: Tunjang Tugas Satgas Covid Unhas Ciptakan Ventilator

Diketahui pendapatan perkapita Indonesia saat ini masih di angka US$4.050. Ini hanya beda 5 dolar di atas batas pendapatan per kapita negara berpendapatan rendah.

"Di sini butuh perjalanan panjang. Karena untuk mengejar GNI per kapita 12 ribu kita butuh upaya yang biasa untuk lompat dari 4 ribu," ujarnya.

Bambang berharap ada sebuah terobosan baru yang dilakukan oleh banyak pihak sebagai upaya untuk mengembangkan industri dan akademisi. Salah satunya memperbaiki ekosistem riset dan inovasi.

Dikatakannya, ekosistem riset dan inovasi di Indonesia saat ini memang sudah baik, namun belum direalisasikan. Di samping itu pemanfaatan dana untuk riset dan inovasi juga belum dimaksimalkan.

Baca juga: Inovasi dan Revolusi Engineering di Ruang Publik

Menurutnya, belanja penelitian dan pengembangan atau GERD Indonesia baru mencapai 0,25 persen atau Rp37 triliun. Dan pemanfaatan itu juga didominasi sektor pemerintah sebanyak 84 persen.

Bambang menyebut, kondisi ini jauh dari angka ideal, apalagi jika dibandingkan dengan negara yang gencar inovasi seperti Korea Selatan, di mana belanja litbang mereka di atas 4 persen. Dan 70 persen di antaranya didominasi sektor swasta.

Terakhir, Bambang menyarankan agar Indonesia tidak hanya berpaku pada sumber daya manusia. Melainkan mencoba memaksimalkan nilai tambah pada sumber daya alam. []

Berita terkait
Inovasi Petani Kudus yang Bikin Ganjar Pranowo Kagum
Gubernur Ganjar Pranowo kagum dengan inovasi buah yang dikembangkan seorang petani muda asal Kudus. Seperti apa inovasi petani tersebut?
Inovasi Perkawinan Muslim dan Non Muslim Kulon Progo
Disdukcapil Kulon Progo, Yogyakarta meluncurkan program Kacar Kucur untuk nom muslim dan Kado Nikah untuk muslim.
Ventilator Made in Bandung Diserahkan ke Menkes
Tim Ventilator Portabel Vent-I sebagai penggagas ventilator ‘Made in Bandung’ menyerahkan tiga unit kepada Menkes Terawan Agus Putranto
0
Daya Inovasi Indonesia Peringkat 2 ASEAN dari Bawah
Angka indeks inovasi Indonesia menempati posisi kedua ASEAN dari bawah. Hal ini menjadikan daya saing Indonesia masih rendah.