UNTUK INDONESIA
Corona Sebabkan 290 Juta Siswa Terjebak di Rumah
UNESCO sebut penutupan sekolah di 13 negara yang terkait dengan epidemi virus corona telah mengganggu pendidikan lebih dari 290 juta siswa
Sekolah ditutup karena wabah virus corona (Foto: tellerreport.com)

Jakarta – “Anak-anak yang kurang beruntung adalah yang paling terpukul oleh tindakan darurat,” kata Direktur Jenderal UNESCO, Audrey Azoulay. Terpukul di sini karena wabah virus corona.

Walaupun penutupan sekolah sementara sebagai akibat dari kesehatan dan krisis lainnya bukanlah hal baru, tapi skala global dan kecepatan gangguan pendidikan saat ini tak tertandingi. Jika berkepanjangan, bisa mengancam hak anak atas pendidikan.

Sembilan negara lebih lanjut telah menerapkan penutupan sekolah setempat. UNESCO memperkirakan bahwa jika negara-negara ini menutup sekolah secara nasional, 180 juta lagi anak tidak bersekolah.

Angka resmi UNESCO menunjukkan bahwa sebagian besar peserta didik yang terkena dampak virus corona berada di Cina (lebih dari 233.000.000), diikuti oleh Jepang (hampir 16.500.000), dan Iran (lebih dari 14.500.000).

Badan PBB tersebut memperingatkan bahwa penutupan sekolah bermasalah karena beberapa alasan. Mereka berdampak negatif terhadap prestasi belajar dan mengurangi produktivitas ekonomi. Hal ini terjadi ketika orang tua berjuang untuk menyeimbangkan komitmen kerja dengan pengasuhan anak. Bisa juga memperparah ketidaksetaraan, karena keluarga yang kurang beruntung cenderung memiliki tingkat pendidikan yang lebih rendah, dan lebih sedikit sumber daya untuk mengisi kesenjangan belajar.

unescoInstalasi Infinity Classroom di plaza utama di Markas Besar PBB, New York, AS, bertujuan untuk memberikan visibilitas terhadap krisis pendidikan global (26 September 2019). (Foto: news.un.org).

Konsekuensi negatif lainnya termasuk gizi buruk (banyak anak-anak bergantung pada makanan sekolah gratis atau diskon). Begktu juga dengan tekanan yang tidak diinginkan pada sistem perawatan kesehatan (wanita mewakili sebagian besar pekerja perawatan kesehatan di banyak negara). Sering juga mereka harus kehilangan pekerjaan ketika sekolah tutup, al. karena menjaga anak-anak mereka. Kondisi ini semua akan mengarah ke angka putus sekolah yang lebih tinggi. Itu artinya kondisi ini merupakan tantangan untuk memastikan anak-anak kembali ke sekolah setelah penutupan.

Azoulay mengatakan bahwa UNESCO bekerja dengan negara-negara untuk memastikan kesinambungan pembelajaran bagi semua. UNESCO membantu untuk mengimplementasikan program pembelajaran jarak jauh skala besar dan rencana untuk mengadakan pertemuan darurat para menteri pendidikan minggu depan (Sumber: news.un.org). []

Berita terkait
PM Jepang Liburkan Sekolah Antisipasi Virus Corona
Pemerintah Jepang meminta semua sekolah diliburkan untuk mengantisipasi dampak penyebaran virus corona baru jenis COVID-19,
0
Jokowi Ajak Peserta KTT Non Blok Solid Lawan Covid-19
Presiden Jokowi ajak peserta Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Gerakan Non-Blok (GNB) solid lawan pandemi Covid-19.