UNTUK INDONESIA
China Tingkatkan Pengawasan Terhadap Agama
Pengawasan berupa sensor atas publikasi agama Kristen di China terus diperkuat oleh pemerintah China terhadap bahan-bahan publikasi
Bendera China berkibar di depan gereja Katolik di Desa Huangtugang, Provinsi Hebei, China, 30 September 2018 (Foto: voaindonesia.com/Reuters).

Jakarta - Pemerintah China tampaknya memperkuat pengawasan sensor atas publikasi agama Kristen yang disetujui untuk didistribusikan oleh negara. Meskipun Partai Komunis China melarang banyak teks agama dan buku lain yang dianggap subversif, tetapi beberapa kelompok Kristen bisa mendistribusikan buku-buku agama yang memenuhi persyaratan sensor negara.

Meski demikian, menurut China Aid, sebuah LSM Kristen yang berfokus pada peningkatan kesadaran akan kebebasan beragama di China baru-baru ini, sensor telah mulai menghapus kata "Kristus" dan "Yesus" dari beberapa publikasi, termasuk di jaringan media sosial China, menggantinya dengan huruf “JD” dan “YS”.

Cendekiawan lain mengatakan umat Kristen sendiri mungkin mengganti sendiri kata-kata dalam teks untuk menghindari sensor daring (online) yang mungkin memblokir kata-kata tersebut untuk menjangkau pembaca daring.

Pengawasan otoritas China terhadap umat Kristen lebih dari sekadar menyensor publikasi keagamaan. Dalam beberapa tahun terakhir, terjadi peningkatan jumlah gereja dan salib besar yang dibongkar oleh negara karena diduga melanggar peraturan.

Xu Yonghai, seorang pendeta di sebuah gereja keluarga di Beijing, mengatakan kepada VOA bahwa sejak 2014, Partai Komunis China telah menarget gereja-gereja yang disetujui pemerintah.

“Selama masa jabatan mantan Presiden Jiang Zemin, semua gereja resmi adalah pembantu Partai dan tidak pernah berada di bawah tekanan. Namun, sejak 2014, pemerintah mulai membatasi gereja bawah tanah dan gereja resmi," katanya, seraya menambahkan bahwa ini menunjukkan China memperketat pengawasan agama dan mendorong komunisme.

Sementara itu, ketika Vatikan melanjutkan hubungannya dengan Partai Komunis China, ada beberapa umat Katolik yang mengatakan kesediaan Gereja untuk bekerja dengan otoritas belum meningkatkan kebebasan beragama mereka sendiri, terutama bagi umat pengikut gereja bawah tanah.

Bulan ini Vatikan mengonfirmasi Paus Fransiskus telah menyetujui kesepakatan dengan China mengenai proses, yang masih dirahasiakan, untuk menyetujui para uskup di negara itu. Vatikan membela upaya itu sebagai hal yang diperlukan untuk mengembangkan gereja di sana. Namun, di China, sebagian umat Katolik berkeberatan dengan upaya tersebut. (my/pp)/voaindonesia.com. []

Berita terkait
PM Trudeau Sebut Kanada Tak Takut Ancaman China
PM Kanada berjanji akan terus membela masalah HAM di China dan dia mengatakan tidak takut ancaman China terkait suaka untuk aktivis Hong Kong
Beijing Tuding Kanada Biarkan Komentar Anti-China
Pemerintah China mengatakan ajukan keluhan ke Kanada karena diduga biarkan komentar-komentar anti-China beredar di media-media Kanada
0
Hutan Bakau Lubuk Kertang di Langkat Dirusak 104 Pabrik Arang
Kelompok Tani dan Nelayan Lestari Mangrove di Langkat, Sumatera Utara, meminta petugas kepolisian menangkap pelaku pencurian kayu bakau.