UNTUK INDONESIA
Bukti Peradaban Islam Masa Kerajaan di Aceh Tertinggal di Batu Nisan
Peneliti sejarah Herwandi dan Khanizar Chan (2002:10-13), dalam catatannya, Kaligrafi Islam pada makam-makam Nangroe Aceh Darussalam: Telaah Sejarah Seni (Abad XIII – XVII M), mengatakan, batu nisan Aceh merupakan salah satu bukti peninggalan masa lampau.
Kompleks makam Kandang XII yang terletak di Gampong Kampung Baru Kelurahan Keraton, Kecamatan Baiturahman, Banda Aceh.(Fahzian Aldevan)

Aceh, (Tagar 1/6/2018) – Aceh merupakan salah satu daerah Islam yang sangat tinggi peradaban dan kebudayaannya, yang masih bisa dilihat saat ini. Hal ini disebabkan adanya pengaruh kerajaan-kerajaan Islam di daerah Aceh pada masa lalu, dimana sejak abad ke 13 Masehi telah muncul kerajaan Pasai,kerajaan Darussalam, (13-15 Masehi), dan setelah itu muncul Kerajaan Aceh Darussalam yang didirikan oleh Sultan Ali Mughayat Syah di abad 16 Masehi.

Jauh sebelum abad tersebut, sekira abad ke 7, Aceh sudah memiliki kerajaan besar, namun hingga saat ini masih menjadi perdebatan sengit di kalangan sejarawan seperti kerajaan Lamuri dan Perlak.

Batu Nisan Kerajaan IslamBatu Nisan Kerajaan Islam. Aceh saat ini sangat banyak memiliki peninggalan sejarah seperti bangunan, makam kuno, naskah, beserta pahatan seni Islam yang banyak didapatkan dalam batu nisan. Ini membuktikan bahwa jauh sebelumnya, Aceh sudah memiliki masa kejayaan baik dalam ilmu pengetahuan, kesenian, pembangunan bahkan perdagangan bercirikan Islam. (Fahzian Aldevan)

Atribut Batu Nisan
Salah satu bukti peninggalan tersebut ialah kompleks makam Kandang XII yang terletak di Gampong Kampung Baru Kelurahan Keraton, Kecamatan Baiturahman. Dalam kompleks yang berjarak 500 meter dari Mesjid Raya Baiturrahman ini, terdapat 12 makam tepatnya di samping Mesjid Al-Fitrah Keraton atau di sisi barat pendopo Gubernur Aceh.

Makam kandang XII tersebut merupakan lokasi pemakaman Sultan Aceh Darussalam abad ke 16 Masehi.

Sejarawan Aceh, Rusdi Sufi dalam bukunya Batee Jirat (batu nisan) Aceh sebagai aset Parawisata menyatakan bahwa  nisan merupakan salah satu bagian dari atribut pemakaman Islam, misalnya dalam sistem pemakaman ini, seluruh proses pemakaman adalah termasuk di dalamnya tata cara pemakaman yang bersifat ritual dan penghormatan arwah di satu pihak serta di pihak lainnya yang secara arkeologi dapat diamati adalah bentuk dan arsitektur makam.

Sebagai artefak arkeologi makam dapat diamati bentuknya untuk acuan kronologis ataupun tipologinya.

Batu Nisan Kerajaan IslamBentuk Kaligrafi yang ada di makam Kandang XII yang terletak di Gampong Kampung Baru Kelurahan Keraton, Kecamatan Baiturahman, Banda Aceh.(Fahzian Aldevan)

Peneliti sejarah Herwandi dan Khanizar Chan (2002:10-13), dalam catatannya, Kaligrafi Islam pada makam-makam Nangroe Aceh Darussalam: Telaah Sejarah Seni (Abad XIII – XVII M), mengatakan, batu nisan Aceh merupakan salah satu bukti peninggalan masa lampau yang memiliki seni artistik yang mahal untuk diteliti dan dikaji, yang hingga kini masih banyak tersebar dalam masyarakat wilayah Aceh. Sayangnya, sebagian situs sejarah itu ada yang terpelihara dan terurus dan ada yang tidak.

Berdasarkan kenyataan sekarang, masyarakat awam banyak yang tidak mengerti makna yang terkandung dari warisan budaya tersebut. Hal ini bukan tidak mungkin di suatu saat batu nisan ini akan punah ditelan masa. Sehingga akan hilang pula jejak sejarah tersebut sebagai suatu bukti untuk penulisan sejarah Islam di Aceh.

Nisan-nisan berhias kaligrafi Nanggroe Aceh Darussalam dapat diklasifikasi atas beberapa kelas dan tipe. Kelas nisan dikelompokkan berdasarkan wujud dasar badan, sedangkan tipologi disusun berlandaskan ciri-ciri tambahan (seperti sayap, tonjolan dan lengkungan pada bahu, puncak, dan kepala). 

Makam-makam yang berhias kaligrafi Islam masa Aceh Darussalam dapat diklasifikasi berdasarkan golongan sosial yang dimakamkan.

Di antara kompleks makam berhias kaligrafi yang diteliti dapat dikategorikan ke dalam;
- Makam-makam para sultan (beserta keluarga) dan bangsawan lainnya
- Makam kalangan laksamana dan bentara (beserta keluarga), serta kompleks makam para teungku, habib, syayed, dan ulama lainnya (beserta keluarga dan murid-muridnya).

Jenis Tulisan
Bentuk tulisan yang muncul dalam kaligrafi pada makam-makam masa Aceh Darussalam dapat dikategorikan atas 5 jenis yaitu tulisan: Naskhi, Thuluth (terdiri dari duatipe: Thuluth A dan Thuluth B), Kufi (terdiri atas dua tipe: Kufi A dan Kufi B), Figural, dan tulisan “Samar”.

Tulisan yang sangat disukai adalah Thuluth A dan boleh dikatakan sangat mendominasi jenis dan tipe tulisan lainnya (dari 4746 satuan kalimat, 3702 buah dituliskan dalam tulisan thuluth A).

Kemudian Jamil Yusuf, dkk, (1983:6-7) dalam catatannya menyebutkan, seni hias khas Islam berupa gubahan motif aksara Arab dan motif ilmu ukur yang digarap dalam hiasan bidang. Motif aksara Arab disusun dalam hiasan kaligrafi yang dipadukan dengan motif lain. Kaligrafi Arab tampil sebagai hiasan pada mesjid, makam dan pada benda kerajinan. Ayat-ayat suci dari Al-Qur'an dengan indah sekali disusun menjadi hiasan batu nisan makam para raja, hulubalang dan para pembesar Aceh dengan keluarganya.

Makam-makam semacam ini tersebar di daerah Kota Banda Aceh dan Samudra Pase. Bentuk batu nisannya adalah sangat khas untuk makam-makam di Aceh yang berbeda dengan batu nisan makam dari daerah lain. Sebagai jenis makam tertua di Aceh, makam Malik as-Shaleh di Pase memiliki gaya bangunan yang asing.

Menurut hasil penelitian makam ini menunjukkan persamaan dengan makam-makam dari Gurajat. Persamaan ini tidak hanya tampak pada bentuk makam beserta batu nisannya, tetapi juga pada jenis aksara Arab yang dipakai sebagai hiasan.

Makam-makam kuno yang menampilkan hiasan kaligrafi Arab hampir semuanya memperlihatkan gaya perpaduan antara aksara Nasach dan Kufah. Untuk membaca kalimat-kalimat dalam kaligrafi pada batu nisan makam tersebut dibutuhkan ketelitian karena susunan kalimat biasanya disesuaikan dengan bentuk bidang batu nisan dan dibuat secara sinopsis.
“Pahatan pada nisan sudah membuktikan nilai kebudayaan seninya sudah tinggi pada masa itu,” kata Husaini kepada Tagar, Jumat (1/6). (fzi)



Berita terkait
0
Program Sejuta Rumah di Sidempuan Sarat Kejanggalan
Yayasan Kompak melaporkan dugaan penyimpangan program sejuta rumah di Kota Padangsidempuan.