Bahan Bakar Fosil Atasi Kemiskinan Beberapa Negara di Afrika

Agresi tersebut menyebabkan harga energi melonjak tajam, dan akhirnya mendorong inflasi ke level tertinggi dalam beberapa dekade
Pekerja konstruksi lokal bekerja membangun struktur di lokasi Proyek Gas Renergen di Afrika, pada 22 September 2021. (Foto: voaindonesia.com/AFP)

TAGAR.id, Resor Sharm El Sheikh, Mesir - Negara-negara Afrika mendesak untuk diizinkan mengembangkan bahan bakar fosil untuk membantu mengangkat rakyat mereka keluar dari kemiskinan. Hal ini dikatakan oleh sejumlah pemerintah Afrika pada KTT perubahan iklim COP27 di Mesir.

Tekanan untuk meninggalkan sumber daya alam yang mengandung hidrokarbon kembali melemah pada tahun ini akibat invasi Rusia ke Ukraina.

Agresi tersebut menyebabkan harga energi melonjak tajam, dan akhirnya mendorong inflasi ke level tertinggi dalam beberapa dekade.

Kondisi tersebut membuat negara-negara -- bahkan sejumlah negara yang telah berkomitmen untuk beralih ke energi rendah karbon-- telah bergeser, setidaknya dalam jangka pendek. Dan negara-negara Afrika melihat potensi pasar ekspor baru, serta peluang untuk mengakhiri kemiskinan bahan bakar domestik.

"Ada banyak perusahaan minyak dan gas yang hadir di COP karena Afrika ingin mengirim pesan bahwa kami akan mengembangkan semua sumber daya energi untuk kepentingan rakyat karena masalah kami adalah kemiskinan energi," kata komisaris perminyakan Namibia, Maggy Shino, yang bekerja di Kementerian Pertambangan dan Energi negara itu.

Shino mengatakan negara-negara kaya telah gagal memberikan dana yang dijanjikan untuk membantu mereka menggunakan energi bersih daripada mengeksploitasi sumber daya bahan bakar fosil mereka.

"Jika Anda akan memberitahu kami untuk meninggalkan sumber daya kami di tanah, maka Anda harus siap untuk menawarkan kompensasi yang cukup, tetapi saya tidak berpikir ada orang yang akan membuat tawaran seperti itu," katanya.

buruh konstruksi gas di afrikaBuruh konstruksi lokal bekerja membangun struktur untuk Proyek Gas Renergen di Afrika pada 22 September 2021. (Foto: voaindonesia.com/AFP)

Penemuan Migas Besar

Pada awal tahun ini, Shell dan TotalEnergies menemukan cadangan minyak besar di lepas pantai Namibia.

Selain Namibia, negara-negara lain termasuk Mauritania, Tanzania, dan Senegal juga bekerja sama dengan perusahaan energi Barat untuk mengembangkan lapangan-lapangan minyak dan gas yang ditujukan untuk ekspor dan menghasilkan listrik bagi masyarakat lokal.

Ahmed Vall, penasihat komunikasi di Kementerian Perminyakan, Pertambangan dan Energi Mauritania, mengatakan negaranya menandatangani kerja sama pengembangan proyek hidrogen dengan BP di sela-sela COP27 pada awal pekan ini.

"CEO BP Bernard Looney berdiskusi dengan presiden dan menteri energi (untuk) lebih banyak (melakukan) eksplorasi gas di Mauritania," kata Vall, seraya menambahkan diskusi itu kebanyakan tentang hidrogen.

Seorang juru bicara di BP mengkonfirmasi kehadiran CEOnya di acara tersebut dan mengatakan BP sedang menghitung sumber daya angin dan matahari untuk pembangkit listrik terbarukan skala besar dan produksi hidrogen dari energi terbarukan.

Olaf Scholz, kanselir Jerman --negara Eropa yang paling terkena gangguan pasokan gas Rusia -- pada Mei mengatakan negaranya ingin mengejar proyek gas dengan Senegal.

Utusan iklim Jerman Jennifer Morgan mengatakan, bagaimanapun, pertarungan untuk menggantikan gas yang hilang dari Rusia akan menyebabkan penggunaan gas secara keseluruhan mencapai puncaknya lebih awal dari yang diperkirakan sebelumnya. Ia juga menegaskan bahwa kontrak pasokan gas akan bersifat jangka pendek untuk menghindari penguncian emisi karbon selama bertahun-tahun.

Ia menekankan bahwa Jerman tetap memprioritaskan energi bersih, sambil mengutip kesepakatan Jerman untuk membantu mendanai upaya Kenya dalam memiliki sistem energi yang sepenuhnya terbarukan pada 2030.

pembangkit listrik batu bara di maltaAsap mengepul dari menara pendingin Pembangkit Listrik Matla, pembangkit listrik tenaga batu bara yang dioperasikan oleh Eskom di Provinsi Mpumalanga, Afrika Selatan, 20 Mei 2018. (Foto: voaindonesia.com/Reuters)

Hangat dengan Industri Migas

Pejabat dan eksekutif pemerintah mengatakan minat Mesir, tuan rumah KTT iklim PBB, dalam mengembangkan sumber dayanya telah menyebabkan mencairnya sikap terhadap perusahaan minyak dan gas.

Uni Emirat Arab, anggota Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC), akan menjadi tuan rumah KTT perubahan iklim PBB pada tahun depan. Negara itu mengatakan akan memasok minyak dan gas selama dunia membutuhkannya.

Pada KTT iklim PBB tahun lalu di Glasgow, para pemimpin industri minyak dan gas mangkir setelah perusahaan mereka dianggap tidak memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh penyelenggara Inggris. Kriteria tersebut memerlukan rencana berbasis sains dalam upaya pengurangan emisi.

Para ilmuwan dan pakar energi lainnya mengatakan investasi dalam bidang bahan bakar fosil harus dihentikan jika ada kemungkinan untuk membatasi pemanasan global hingga 1,5 derajat Celcius, titik di mana dampak iklim diperkirakan akan memburuk secara signifikan.

Proyek-proyek gas yang sudah direncanakan oleh sejumlah negara dapat mengambil 10 persen dari sisa anggaran karbon dunia, atau jumlah karbon dioksida yang dapat dipancarkan sebelum suhu global melebihi 1,5 Celcius di atas suhu pra-industri, menurut penelitian Climate Action Tracker (CAT) baru-baru ini.

Proyek-proyek yang sudah direncanakan itu termasuk pengeboran gas baru di Kanada dan kapasitas impor gas alam cair (LNG) di Jerman dan Vietnam, kata CAT. (ah)/Reuters/voaindonesia.com. []

Berita terkait
Uni Eropa Hentikan Penjualan Mobil dengan Bahan Bakar Fosil Mulai 2035
UE capai kesepakatan atas undang-undang untuk secara efektif melarang penjualan mobil berbahan bakar bensin dan solar mulai tahun 2035
0
Bahan Bakar Fosil Atasi Kemiskinan Beberapa Negara di Afrika
Agresi tersebut menyebabkan harga energi melonjak tajam, dan akhirnya mendorong inflasi ke level tertinggi dalam beberapa dekade