UNTUK INDONESIA
Atto Sampetoding Lirik Industri 4.0 Indonesia
Atto Sakmiwata Sampetoding melihat nilai strategisnya industri 4.0 bagi Indonesia.
Industri 4.0

Advertorial - Industri 4.0 adalah istilah yang ramai didengungkan oleh berbagai pihak sebagai tonggak perkembangan industri dalam arti luas. Industri 4.0 ditopang oleh teknologi komputer pintar untuk akselerasi dan efisiensi produk barang dan jasa. Atto Sakmiwata Sampetoding juga melihat nilai strategisnya bagi Indonesia.

Menurut Atto Sampetoding, masyarakat Indonesia secara umum belum paham akan makna Industri 4.0 itu sendiri. Pemerintah dan pelaku industri perlu mendorong sosialisasi yang lebih luas dalam arti yang konkrit sumbangsih apa yang bisa diwujudkan untuk kemajuan Indonesia sebagai bangsa dan negara.

Jika pada awal abad 20, revolusi industri bermula dari mekanisasi produksi sehingga berbagai produk dan pelayanan jasa sangat memudahkan publik untuk mendapatkannya dalam jumlah yang cukup serta terjangkau.

Perkembangan revolusi industri secara bertahap setelah era baby boomer membawa otomatisasi alat produksi sehingga output yang dihasilkan semakin banyak dan dapat bekerja hampir sepanjang waktu sejauh diperlukan sesuai dengan kebutuhan pasar.

Selanjutnya ada lagi komputerisasi peralatan dan perangkat industri membawa pada efisiensi dan efektivitas dalam hal alokasi perangkat produksi dan bahan baku yang dipakai sehingga bisa memangkas biaya pada kedua faktor strategis tersebut secara ekonomis.

Era teknologi digital saat ini membawa perubahan besar pada berbagai bidang kehidupan. Sektor industri adalah salah satu sektor strategis yang merasakan dampak tersebut. Teknologi yang ada memungkinkan semua perangkat saling terhubung dan menumbuhkan pertumbuhan informasi yang dahsyat, yang disebut dengan big data.

Dalam industri 4.0, secara eksponensial, kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau disingkat AI semakin mempermudah dan mempercepat manusia dalam membuat keputusan atau pilihan yang lebih baik berdasarkan rekomendasi dan analisa AI.

Dalam industri, konsep Industri 4.0 berkutat pada pengembangan untuk memberdayakan mesin-mesin produksi dengan hubungan nir kabel dan berbagai sensor, yang bekerja sepanjang waktu, sehingga seluruh proses yang sedang bekerja dapat ditampilkan visualisasinya untuk lini produksi, kontrol dan membuat keputusan secara mandiri.

Dalam kerangka Industri 4.0 ini, beberapa istilah yang mengemuka selain AI dan big data adalah internet of things (IOT), cloud computing (komputasi awan). Namun ada istilah yang jarang sekali dipakai dalam bahasan yaitu cyber-physical systems (CPS).

Cyber-physical systems sebagaimana dilansir dalam Wikipedia, mengacu pada pembangunan suatu sistem dengan pendekatan secara tujuan dan desain. Ada enam fungsi yang menjadi perhatian utama yaitu sensor, proses, aksi fisik, komunikasi, energi, koordinasi dan kolaborasi. Dalam tren yang sedang berkembang saat ini, akses dan aplikasi mobile akan memungkinkan semua hal tersebut dilakukan melalui perangkat yang bisa dibawa kemana-mana.

Tentunya, kementerian negara yang terkait berperan aktif dalam menfasilitasi setiap langkah ke arah Industri 4.0 melalui deregulasi dan regulasi di sektor masing-masing. Kementerian Informasi dan Informatika akan mendukung untuk penyediaan jaringan komunikasi yang cepat dan tanpa gangguan dimana demam teknologi 5G sedang melanda berbagai negara di dunia.

Bagi Kementerian Perindustrian, pemetaan atas industri yang siap menyongsong Industri 4.0 ini antara lain otomotif, petrokimia, semen, serta makanan dan minuman.

Untuk sumber daya manusia yang bisa menunjang kehadiran industri 4.0 ini memerlukan peran perguruan tinggi dan lembaga penelitian pemerintah dan swasta dalam penelitian dan pengembangan yang terkait dengan interaksi antara mesin dengan mesin dan manusia dengan mesin. Hal ini dapat dilihat dari teknologi touch interface dan augmented reality.

Kemampuan manusia sebagai pengambil keputusan terakhir akan terbangun dari kemampuan analisa dan intelijen berbasis data melalui pembukaan bidang studi yang menunjang profesi yang dibutuhkan dalam Industri 4.0 seperti pakar data dan IOT, analis digital marketing, programmer, desainer UI/UX industri dan masih banyak lagi.

Menurut rilis yang ditampilkan di website Kementerian Perindustrian dalam rangka sosialisasi Roadmap Implementasi Industri 4.0 di Jakarta (20/3), aspirasi nasional yang hendak dicapai adalah Indonesia berada dalam jajaran 10 besar ekonomi dunia pada 2030, mengapai kembali net export sebesar 10 persen, produktivitas tenaga kerja 2x lipat dibanding biaya tenaga kerja, dan alokasi 2 persen dari GDP untuk kegiatan R&D teknologi dan inovasi.

Pemanfaatan teknologi dalam skala yang besar sudah pernah disaksikan oleh masyarakat Indonesia melalui penyelenggaraan Asian Games XVIII di Jakarta dan Palembang, pemilihan umum kepala negara dan anggota legislatif tingkat nasional dan daerah serentak di seluruh Indonesia.

Palapa Ring merupakan sebuah inisiatif pemerintah Indonesia melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika untuk menghubungkan seluruh pulau besar di Indonesia melalui saluran serat optik sepanjang 36.000 kilometer, untuk menjangkau 440 kota/kabupaten. Ketersediaan jaringan komunikasi yang terintegrasi ini akan mewujudkan kedaulatan negara dan ketahanan nasional.

Ini merupakan proyek besar yang bertujuan untuk menghubungkan wilayah Indonesia timur dengan panjang 4.450 kilometer (marine & land cable) dengan jaringan yang sudah ada, melalui 15 landing point di 21 kota/kabupaten.

Dengan kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, adanya revolusi Indonesia 4.0 akan memberikan stabilitas distribusi barang dan kebutuhan. Jalur pasokan akan bergulir tanpa batas geografis. Karena ini merupakan tantangan terbesar yang harus diatasi oleh Indonesia sampai beberapa dekade ke depan. []

Berita terkait
0
3 Cara Melindungi Lansia di Atas 60 Tahun saat Libur Panjang
Melindungi lanjut usia (lansia) berusia di atas 60 tahun dari risiko terpapar sebaiknya juga dilakukan saat momen libur panjang.