AS dan UE Prihatin atas Tindakan China di Perairan Sengketa

Para pejabat Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa mengatakan penting menjaga kontak dekat untuk menghadapi "persaingan sistemik dengan China"
Amerika Serikat telah menyuarakan keprihatinan tentang tindakan China di Laut China Selatan (Foto: dw.com/id)

Jakarta - Selama pembicaraan di Washington, para pejabat Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa mengatakan penting menjaga kontak dekat untuk menghadapi "persaingan sistemik dengan China." AS dan Uni Eropa (UE) merilis pernyataan bersama pada Kamis, 2 Desember 2021, yang merinci keprihatinan mereka atas tindakan China di Laut China Selatan, Laut China Timur, dan Selat Taiwan.

Dikatakan kegiatan China "merusak perdamaian dan keamanan di kawasan itu,” dan menekankan perlunya mengelola "persaingan sistemik” dengan Beijing.

Pernyataan itu muncul setelah pembicaraan di Washington antara Wakil Menteri Luar Negeri AS, Wendy Sherman, dan Sekretaris Jenderal European External Action Service (EEAS), Stefano Sannino.

Pengarahan itu juga membahas penindasan etnis minoritas Uighur dan Tibet di China, pengikisan otonomi Hongkong, dan sistem politik demokratis.

armada chinaArmada Angkatan Laut milik China di Laut China Selatan, foto diambil pada 12 April 2018 (Foto: dw.com/id)

1. Bagaimana posisi UE di Laut China Selatan?

Direktur Jenderal Staf Militer UE, Herve Blejean, mengatakan, diperlukan koordinasi UE-AS yang lebih besar untuk "mengungkapkan keinginan kuat kami membela hukum internasional di laut terhadap kebijakan secara de facto yang telah kami lihat di Laut China Selatan”

Blejean mengatakan, bahwa Prancis adalah kekuatan Pasifik dan negara-negara anggota UE lainnya seperti Jerman, Belanda, dan Denmark menunjukkan minat di kawasan itu.

Prancis mengelola sejumlah wilayah di Pasifik, termasuk Kaledonia Baru yang menolak kemerdekaan dalam referendum tahun lalu, Polinesia Prancis, Kepulauan Wallis, dan Futuna.

Blejean mengatakan, UE dapat mempertimbangkan untuk mendirikan "area kepentingan maritim” di Laut China Selatan, serupa dengan proyek percontohan yang bertujuan untuk lebih mengoordinasikan kehadiran UE di Teluk Guinea, bagian dari Samudra Atlantik. Proyek lain di Samudra Hindi bagian utara juga sedang dipertimbangkan.

kapal China terlihat ditambatkan di Whitsun Reef,Beberapa dari 220 kapal China terlihat ditambatkan di Whitsun Reef, Laut China Selatan, 7 Maret 2021 (Foto: voaindonesia.com/via AP)

2. Bagaimana posisi UE di Laut China Selatan?

Direktur Jenderal Staf Militer UE, Herve Blejean, mengatakan, diperlukan koordinasi UE-AS yang lebih besar untuk "mengungkapkan keinginan kuat kami membela hukum internasional di laut terhadap kebijakan secara de facto yang telah kami lihat di Laut China Selatan”

Blejean mengatakan, bahwa Prancis adalah kekuatan Pasifik dan negara-negara anggota UE lainnya seperti Jerman, Belanda, dan Denmark menunjukkan minat di kawasan itu.

Prancis mengelola sejumlah wilayah di Pasifik, termasuk Kaledonia Baru yang menolak kemerdekaan dalam referendum tahun lalu, Polinesia Prancis, Kepulauan Wallis, dan Futuna.

Blejean mengatakan, UE dapat mempertimbangkan untuk mendirikan "area kepentingan maritim” di Laut China Selatan, serupa dengan proyek percontohan yang bertujuan untuk lebih mengoordinasikan kehadiran UE di Teluk Guinea, bagian dari Samudra Atlantik. Proyek lain di Samudra Hindi bagian utara juga sedang dipertimbangkan.

klaim china di laut china selatanPeta tumpang tindih klaim antara China dan negara-negara Asia Tenggara di atas Laut China Selatan (Foto: dw.com/id)

3. Kekhawatiran tentang apa?

Pembicaraan di Washington terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara AS dan China atas Taiwan.

Pada bulan lalu, Presiden China, Xi Jinping, memperingatkan kembalinya "ketegangan perang dingin,” sementara Presiden AS Joe Biden berbicara tentang komitmen AS untuk membela Taiwan.

Beijing telah berusaha untuk meningkatkan dominasinya di Laut China Selatan yang disengketakan, di mana beberapa negara, termasuk China, Filipina, Vietnam, dan Indonesia, memiliki klaim teritorial yang tumpang tindih.

Dalam satu konfrontasi baru-baru ini, penjaga pantai China terlibat dalam insiden yang memblokir dua kapal Filipina. Pada 2016, Pengadilan Arbitrase di Den Haag memutuskan bahwa sebagian besar klaim China di Laut China Selatan adalah ilegal [rw/ha (Reuters)]/dw.com/id. []

Konflik Filipina dan China Memanas di Laut China Selatan

Instalasi Militer Vietnam di Spratly Laut China Selatan

China dan Vietnam Harus Hindari Sengketa Laut China Selatan

Adu Kekuatan Kapal Perang di Laut China Selatan

Berita terkait
China Blokir Kapal Filipina di Laut China Selatan
Dua kapal Filipina bawa persediaan makanan untuk tentara di kawasan Second Thomas Shoal diduga diblokir oleh penjaga pantai China
0
AS dan UE Prihatin atas Tindakan China di Perairan Sengketa
Para pejabat Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa mengatakan penting menjaga kontak dekat untuk menghadapi "persaingan sistemik dengan China"