Sigi, Sulteng, (Tagar 22/10/2018) - Desa Jonoge, Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah terdiri atas lima dusun.

Dusun I dan II terletak pada ruas jalan provinsi yang menghubungkan Palu, Ibu Kota Provinsi Sulteng dengan Dataran Lore, Kabupaten Poso.

Sementara Dusun III, IV dan V terletak pada jalur Jonoge-Langaleso.

Saban hari sejak gempa bumi berkekuatan 7,4 SR mengguncang dan memorak-porandakan Kota Palu, Kabupaten Dongala dan Sigi pada 28 September 2018, jembatan kuning yang menghubungkan Dusun I dan Dusun II Desa Jonoge ramai dikunjungi oleh orang-orang yang datang dari berbagai penjuru di wilayah Sulteng maupun luar daerah.

Bahkan tidak hanya dari dalam negeri, tetapi juga dari berbagai negara di belahan dunia, terutama para sukarelawan kemanusiaan yang peduli dengan korban gempa bumi yang juga disertai tsunami menghajar dua wilayah di Sulteng yakni Kota Palu dan Kabupaten Donggala.

Dilansir kantor berita Antara Desa Jonoge menjadi salah satu wilayah terparah dilanda gempa bumi di Kabupaten Sigi.

Desa itu pun menjadi salah satu lokasi peliputan bencana alam gempa bumi oleh para jurnalis, mulai dari media cetak, elektronik dan juga media sosial.

Setiap hari, hiruk-pikuk kendaraan roda dua dan empat lalu-lalang melintas di jalur jalan provinsi Biromaru-Jonoge.

Rata-rata mereka yang datang ke desa itu, untuk melihat betapa dahsyatnya gempa bumi mengguncang wilayah tersebut sehingga 100 persen bangunannya rusak diterjang gempa.

Kalaupun masih ada bangunan yang utuh berdiri, sesungguhnya bangunan tersebut tidak layak untuk dihuni karena sudah retak, bahkan sebagian badan rumah tenggelam satu hingga dua meter.

Padahal, sebelum gempa meluluhlantakkan desa itu, Jonoge termasuk kawasan pengembangan berbagai komoditas pertanian dan hortikultura.

Gempa SigiSeorang wartawan mengabadikan rangka kendaraan pasca likuifaksi di Desa Langaleso, Sigi, Sulawesi Tengah, Senin (15/10/2018). Gempa bumi berkekuatan 7,4 SR pada 28 September 2018 memicu terjadinya pencairan dan pergeseran tanah (likuifaksi) yang menggeser tanah dari Desa Jono Oge ke Langaleso sejauh dua kilometer. (Foto: Antara/Basri Marzuki)

Rumah Pangan 

Pemerintah Kabupaten Sigi beberapa tahun lalu menetapkan Desa Jonoge, Kecamatan Biromaru, sebagai kawasan rumah pangan lestari (KRPL).

Mantan Wakil Bupati Sigi, Livingstone Sango mengatakan desa yang berpenduduk sekitar 3.000 jiwa itu menjadi wilayah percontohan program pemerintah terkait masalah kemandirian pangan.

Sejak Maret 2012 setiap warga di Desa Jonoge mendapatkan bantuan benih pangan dari pemerintah melalui Dinas Pertanian Provinsi Sulteng dan Kabupaten Sigi.

Setiap rumah tangga menerima bantuan benih untuk dikembangkan di setiap pekarangan rumahnya. Benih meliputi cabai, terong, tomat, bawang, sawi dan berbagai jenis sayur-mayur lainnya.

Dengan bantuan tersebut masyarakat mampu mengatasi kebutuhan keluarga sehari-hari. 

Dengan begitu, warga atau ibu-ibu tidak lagi harus membeli kebutuhan-kebutuhan tersebut ke pasar-pasar.

"Itu berarti uang yang diperoleh dari usaha lain bisa digunakan untuk membeli keperluan rumah tangga lainnya," katanya.

Menteri Pertanian saat itu, Suswono, sempat mengunjungi Desa Jonoge untuk melihat program KRPL di desa yang berjarak sekitar delapan kilometer dari Kota Palu.

"Pak Mentan Suswono dan Gubernur Longki Djanggola, bahkan sempat mencicipi kuliner yang semua merupakan hasil dari program KRPL di Desa Jonoge," kata Livingstone.

Namun tanpa disangka, Desa Jonoge yang menjadi lumbung komoditas hortukultura dan rumah pangan lestari di Kabupaten Sigi dan Provinsi Sulteng, hanya dalam beberapa detik diporak-porandakan gempa bumi.

Gempa SigiWarga terdampak gempa dan tsunami Palu-Donggala memasak di kawasan pengungsian hunian sementara yang dibangun warga di Biromaru, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Sabtu (13/10/2018). (Foto: Antara/Sahrul Manda Tikupadang)

Menjadi Kebun Jagung 

Siapa nyana, Dusun II Desa Jonoge yang semula padat penduduk kini telah berubah menjadi kebun jagung, kelapa dan sawah.

Di sisi kiri dan kanan jalan banyak bangunan rumah, toko dan kios, serta rumah makan. Dusun itu cukup ramai di pagi dan malam hari oleh arus lalu lintas kendaraan, karena memang permukiman itu berada di ruas jalan raya.

Namun, tidak ada yang menyangka jika dusun tersebut, kini sudah menjadi kebun jagung, menyusul gempa bumi dahsyat yang terjadi saat masyarakat sudah pulang kerja dan akan beristirahat.

Gempa bumi yang disusul sumburan lumpur keluar dari dalam tanah (likuifaksi) hanya beberapa saat saja melenyapkan bangunan, jalan, jaringan listrik dan telekomunikasi di dusun itu.

Kini, Dusun II Desa Jonoge 100 persen lenyap bagaikan ditelan bumi. Hingga kini banyak penduduk dan juga pelajar SMA Negeri 2 Palu yang saat itu sedang camping di dusun itu belum diketahui nasib mereka.

Sebagian badan jalan mulai dari ujung jembatan Jonoge hingga Desa Sidera sepanjang sekitar hampir dua kilometer hilang. Kecuali terlihat pohon jagung dan kelapa berdiri tegak di areal permukiman penduduk.

Entah dari mana datangnya kebun jagung dan beberapa pohon kelapa tersebut. Yang pasti dusun itu sudah berubah menjadi areal kebun jagung dan sawah.

Sementara bangunan rumah dan jalan, tiang dan jaringan listrik serta jaringan telekomunikasi lenyap tanpa bekas.

Gempa SigiPersonel Tim SAR menggali reruntuhan bangunan dan rumah untuk menemukan korban di lokasi likuifaksi Balaroa Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (11/10/2018). Memasuki hari ke-14 pascagempa, tsunami dan likuifaksi di Palu, Donggala, dan Sigi, pemerintah menghentikan proses evakuasi korban, sedangkan tanggap darurat diperpanjang hingga dua pekan ke depan. (Foto: Antara/Basri Marzuki)

Dalam beberapa hari terakhir ini, banyak berdatangan warga dari berbagai daerah hanya untuk memastikan sekaligus mengambil gambar sebagai dokumen pribadi keganasan gempa bumi yang mengguncang Kota Palu, Kabupaten Donggala dan Sigi.

Khusus Kota Palu, Ibu Kota Provinsi Sulteng dan Kabupaten Donggala selain gempa bumi, juga diterjang tsunami.

Sera (56), salah seorang penduduk di Desa Jonoge mengatakan gempa bumi yang terjadi dan menghajar desanya cukup dahsyat.

Dia mengatakan di Desa Jonoge terdiri atas lima dusun, dan semua dusun di desa itu terdampak gempa, tetapi yang benar-benar parah adalah Dusun II.

Dusun II, kata dia, tidak ada lagi bangunan penduduk yang tersisa. Permukiman penduduk di Dusun II entah lenyap ke mana.

Betapa dahsyatnya gempa sehingga rumah, jalan, jaringan listrik dan jaringan komunikasi, seluruhnya ditelan bumi.

Hingga kini belum diketahui korban jiwa karena belum dilakukan evakuasi dan pencarian korban.

Kita hanya bisa mendoakan agar semua korban, termasuk yang belum diketemukan jasadnya diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa.

Kini warga Desa Jonoge hanya tinggal di tenda-tenda pengungsi dengan mengharapkan bantuan logistik bahan makanan dan kebutuhan air minum dari berbagai pihak yang peduli.

Rumah sudah hancur dan untuk membangun kembali tidak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh waktu dan butuh dana yang besar. []