UNTUK INDONESIA
Ahok dan Pergolakan Mafia Migas Pertamina
Pengamat kebijakan publik Universitas Trisakti Trubus Rahadiansyah menilai kehadiran Ahok di Pertamina akan membuat mafia tidak tenang.
Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. (Foto: Facebook/AhokBTP)

Jakarta - Pengamat kebijakan publik Universitas Trisakti Trubus Rahadiansyah mengatakan, para mafia minyak dan gas (migas) menjadi tidak tenang dengan kehadiran Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok sebagai Komisaris Utama (Komut) PT Pertamina (Persero). 

Trubus memandang dengan kehadiran Ahok di perusahaan pelat merah tersebut, para mafia bakal tidak leluasa lagi melakukan aksi. Menurutnya, mantan Gubernur DKI Jakarta itu akan menggunting keran-keran bisnis terselubung di sana.

Mungkin yang ribut itu nanti orang-orang yang merasa kenikmatannya terganggu, kenyamanannya terganggu. Orang-orang dari Pertamina.

Trubus tidak heran, kehadiran pria kelahiran Manggar, 29 Juni 1966 itu sempat memicu keributan dan kekisruhan, yang menurutnya dibuat oleh para mafia minyak di lingkup internal maupun eksternal Pertamina.

"Mungkin yang ribut itu nanti orang-orang yang merasa kenikmatannya terganggu, kenyamanannya terganggu. Orang-orang dari Pertamina sendiri maupun orang-orang luar yang punya jaringan," kata Trubus kepada Tagar, Senin, 25 November 2019.

Selama ini, kata Trubus, di tubuh Pertamina memang banyak mafia perminyakan bermain dan tidak pernah ditindak tegas.

"Jadi yang nanti akan ribut orang itu, orang-orang kategori mafia. Penunggang-penunggang bebas," ucapnya.

Menurutnya, Ahok memang cocok menjadi bos di salah satu perusahaan BUMN, khususnya Pertamina, karena dapat menjadi eksekutor yang baik. 

"Malah yang dibutuhkannya itu karena ketegasannya itu, Pak Ahok ini dianggap punya keberanian yang memadai untuk itu," kata Trubus. 

Baca juga: Moeldoko-Mahfud MD Tegas, Rizieq Shihab Tak Dicekal

Kilang PertaminaKilang minyak Pertamina. (Foto: Pertamina.com)

Sementara itu Pengamat energi Komaidi Notonegoro mengatakan Ahok akan menghadapi tantangan besar di Pertamina. 

"Saya pikir peran Pertamina ada di semua lini, maka tantangan Pak Ahok sebagai Komut juga pastinya besar untuk meningkatkan kinerja Pertamina," katanya di Jakarta, Senin, 25 November 2019 seperti dilansir dari Antara.

Direktur Eksekutif ReforMiner Institute ini menjelaskan, tantangan pertama Ahok ada pada sektor hulu Pertamina, mengingat sejumlah blok migas besar akan dikelola oleh Pertamina. 

Baca juga: Saran Moeldoko untuk Rizieq Shihab Bila Niat Pulang

Di antaranya adalah Blok Rokan, Blok Mahakam yang sudah dioperasikan oleh Pertamina, dan blok terminasi lainnya. 

Meski memang secara teknis peran komisaris utama yang diemban Ahok nantinya tidak seteknis direktur utama, tetap saja Ahok yang berkolaborasi dengan Budi Sadikin ini diharapkan mampu memberikan sumbangsih besar.

Menurut Komaidi, sebagai pemain utama, Pertamina harus mampu mengelola peningkatan produksi dari blok migas. 

"Duet ini sangat dinantikan apalagi wakil komisaris memiliki pengalaman memimpin korporasi dan Ahok berpengalaman di bidang pemerintahan daerah," kata dia.

Selain itu, kata Komaidi, tantangan selanjutnya ada di sektor hilir. Apalagi, sektor ini masih banyak dikendalikan oleh pemerintah, misalnya menyangkut aturan harga jual.

"Pak Ahok harus bisa memantau sektor ini serta menjembatani dengan pemerintah, agar keseimbangan bisnis Pertamina tetap stabil," katanya. []

Berita terkait
Ahok Komut Pertamina, Pengamat: Ada Yang Terusik
Penempatan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok sebagai Komisaris Utama Pertamina bisa menjadi ancaman bagi pihak-pihak yang merasa terusik.
Ahok Diyakini Bisa Berantas Benalu di Pertamina
Pengamat kebijakan publik Universitas Trisakti, Trubus Rahadiansyah, menilai Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mampu berantas benalu di Pertamina.
Ahok Buat Aduan Pertamina Seperti DKI Jakarta Dulu
Ahok akan membuat pengaduan masyarakat seperti saat menjabat gubernur DKI Jakarta dulu.
0
Tidak Bayar Pajak Cukai Rokok, Warga Malang Dibui
Warga Malang berinisial LF divonis 1 tahun 6 bulan penjara karena telah menimbulkan kerugian negara hingga Rp 3,2 miliar.