Banjarmasin (Tagar 30/12/2017) - PT. Ambang Barito Nusapersada (Ambapers) terus berupaya menggali Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui sektor alur sungai atau biasa disebut tol sungai secara maksimal.

Hampir setiap tahun setoran PAD terus meningkat masuk ke kas daerah Provinsi Kalsel. PT Ambapers yang merupakan anak perusahaan Bangun Banua ini juga akan menggali pendapatan tidak hanya dari Batubara namun juga sektor lainnya seperti kelapa sawit, serta lainnya.

Direktur Operasional PT Ambapers Nugroho Dwi Priyohadi mengatakan, melihat lonjakan tren pertumbuhan komoditas tidak hanya batubara, namun galian C, kayu dan lainnya semakin bertambah dapat dipastikan PAD juga akan bertambah melalui jalur tol sungai ini.

Taksiran realisasi 2017 jumlah tongkang lebih dari 10.540 unit dengan jumlah tonase jasa alur untuk batubara, hasil hutan dan tambang lainnya sekitar 98 juta ton. Dengan demikian ada peningkatan 2 persen dari target ditetapkan sebanyak 96 juta ton terpenuhi 98 juta ton.

“Kenapa bisa melebihi? Itu tidak hanya dipenuhi oleh batubara namun juga proyek pengurukan dan perluasan Bandar Syamsuddin Noor melalui alur Barito dan itu lumayan membantu sebagian pasir dan tanah uruk yang memang galian tambang C,” ucap Nugroho, saat dikonfirmasi wartawan Sabtu (30/12).

Ini produksi paling tinggi Ambapers, sebenarnya alur Barito terpelihara sejak tahun 2009 tahun ke-8 ini dan pengguna sudah biasa tinggal menjaga kedalamanan alur, lebar yang dijaminkan 100 Meter, panjang 15 Km dan kedalaman -5 LWS yang jelas alur Barito terpelihara dengan baik.

“Sebenarnya logikanya selama ini kita subsidi komoditas non pungutan artinya mereka menikmati fasilitas kita tanpa dipungut bayaran, karena Ambapers tidak mau hanya tergantung batubara maka dicoba dengan pemangku kepentingan tidak hanya alur tapi pembangunan daerah dan Ambapers 60 persen dimiliki pemerintah melalui Bangun Banua,”ujar pria asal Gresik Jawa Timur ini.

Nanti akan dipungut kontainer kapal, kapal kargo dan lainnya. Selain untuk sembako dan kapal penumpang tidak dipungut. Kalau prinsipnya pihak ketiga itu sudah setuju, artinya mereka mendukung untuk penyesuaian pembangunan daerah.

“Memang ada mimpi kita mengatur dialur lain, hanya saja terkendala perizinan. Bahkan daerah Tapin sudah mengajukan agar dikelola, tapi Ambapers belum berani kearah itu karena izin tersebut,” tandasnya.

Pertumbuhan alur Barito memang agak datar, namun karena subjek pungutan terbatas jadi hanya bisa itu saja dulu sementara yang ditarik. “Bahkan Ambapers tahun 2018 nanti sudah menargetkan 103 juta ton tonase mampu diperoleh, ketimbang tahun 2017 ini hanya mampu 98 juta ton tonase dengan ada kenaikan diperkirakan 5 persen,” imbuh Nugroho.

Tahun 2017 ini, diperkirakan tongkang yang melintas hanya ada sebanyak 10.500 unit, dibandingkan tahun 2018 kemungkinan akan ada 11 ribu lebih unit tongkang. (adm)