Dharmasraya, Sumatera Barat, (Tagar 24/8/2018) - 'Sakali Aia Gadang, Sakali Tapian Barubah', secara harfiah setidaknya pepatah Minang inilah yang tepat untuk menggambarkan kondisi kawasan Candi Pulau Sawah yang terletak di Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat.

Pepatah yang berarti sekali datang air besar atau banjir bandang, maka seketika itu pula tepian atau pinggiran sungai akan berubah, sehingga akan mengubah atau memengaruhi keberadaan kehidupan di sekitar aliran sungai tersebut.

Dharmasraya seperti dirilis Antara, daerah yang terletak di bagian hulu Sungai Batang Hari ini ternyata telah menjadi lokasi penting bagi kepercayaan umat Budha berabad-abad yang lalu.

Temuan beberapa candi yang tersebar di kawasan tersebut mengindikasikan pada zaman dahulu pernah terjadi fenomena alam berupa banjir bandang yang mengakibatkan rusaknya struktur bangunan candi sehingga ditinggalkan oleh para penganutnya.

Beberapa temuan yang ada di lokasi itu mengindikasikan bahwa kawasan tersebut pernah aktif semenjak abad VIII Masehi. Jauh beratus tahun sebelum keberadaan Arca Amoghapasa dengan Arca Bairawa yang saat ini disimpan di Museum Nasional Jakarta.

"Pada zaman dahulu para pengikut ajaran Budha mempercayai bahwa lokasi tersebut aman dari ancaman bencana alam, akan tetapi hal tersebut di luar perkiraan," kata ketua tim peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, (Puslit Arkenas), Eka Asih Putrina Taim.

Kompleks Percandian Pulau Sawah dapat ditempuh melalui dua jalur, yaitu jalur darat dan sungai. Melalui jalur sungai perjalanan dapat dimulai dari pusat Kerajaan Siguntur dengan menggunakan tempek atau perahu bermesin untuk menyeberang.

Tidak sampai lima menit perjalanan, bangunan pertama yang akan ditemukan adalah Candi Pulau Sawah I yang sebelumnya sudah selesai dipugar oleh pihak Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumbar.

Dari titik tersebut, sekitar dua menit perjalanan ke arah barat, maka sampailah pada komplek bangunan diduga Candi Pulau Sawah VII yang saat ini dinamai munggu atau tanah berupa gundukan.

Disekitar Munggu VII, terdapat beberapa munggu lain, seperti Munggu VI dan Munggu V yang masih belum diekskavasi, sementara jika perjalanan dilanjutkan ke arah barat laut dari Munggu VII maka disana terdapat munggu lain yang sedang diekskavasi, yaitu Munggu XI.

Banjir Besar

Candi Pulau Sawah diduga sebagai kompleks percandian yang tua daripada Candi Padang Roco yang berada tidak jauh dari posisi tersebut.

Menurut Eka, Candi Padang Roco berada pada posisi ketinggian serta di lokasi tersebut ditemukan Arca Bairawa atau Arca Adityawarman beberapa abad setelah Candi Pulau Sawah didirikan.

Akibat banjir bandang yang melanda kawasan Candi Pulau Sawah maka selanjutnya penganut Budha di daerah tersebut mulai mencari lokasi lain untuk mendirikan candi, yang kemudian dibangunlah Candi Padang Roco.

Selain kerusakan pada bagian Candi Pulau Sawah yang sedang diekskavasi, bukti lain yang memperkuat dugaan bahwa pada zaman dahulu pernah terjadi banjir bandang adalah dengan ditemukannya bekas aliran Sungai Batang Hari kuno yang berada di sisi utara Komplek Percandian Pulau Sawah.

Pemetaan yang dilakukan oleh pakar Geografi dan Lingkungan terkait Arkeologi dari Universitas Indonesia, Dr Taqiudin mengatakan fenomena alam berupa banjir besar pada masa dahulunya telah meluluh lantakkan keberadaan Candi Pulau Sawah dan kemudian sungai tersebut beralih pada posisi yang ada saat ini.

Keberadaan munggu yang ada saat ini merupakan salah satu dampak banjir yang telah menimbun hampir keseluruhan struktur bangunan candi, ketika saat ini munggu-munggu tersebut dibuka, maka ditemukan struktur bangunan candi yang telah rusak akibat banjir tersebut.

Hingga saat ini sudah ditemukan sebanyak 13 munggu di Kompleks Percandian Pulau Sawah, beberapa di antaranya sudah dilakukan penggalian. Akan tetapi diduga masih terdapat beberapa munggu lain yang belum ditemukan.

Temuan dari Abad VIII 

Hal menarik lain yang ditemukan dalam penilitian yang dilaksanakan tanggal 13-24 Agustus ini ialah ditemukannya bukti bahwa Candi Pulau Sawah sudah ada sejak abad VIII masehi.

Tinggalan yang membuktikan bahwa kompleks candi tersebut sudah ada sejak abad itu adalah dengan ditemukannya mantra Budha pada pripih atau periuk tanah.

"Pada ekskavasi ini ditemukan mantra Budha pada pecahan pripih di sekitar Munggu VII Kompleks Candi Pulau Sawah yang telah dipergunakan pada abad VIII masehi," kata Eka.

Menurutnya, pripih tersebut ditemukan di dalam tanah sehingga dapat dikatakan bahwa keberadaannya dalam posisi tersebut sama dengan keberadaan candi ketika terjadi banjir.

Apabila pripih tersebut ditemukan dipermukaan munggu atau candi, maka bisa jadi pripih tersebut dipindahkan beberapa abad setelah terjadinya banjir, akan tetapi mengingat posisinya berada di dalam tanah maka kuat dugaan keberadaan candi dan pripih tersebut sezaman.

Selain itu, mantra-mantra yang terdapat pada pecahan pripih tersebut merupakan mantra Budha yang dipergunakan pada pada kisaran abad ke VIII.

Kehadiran Budha Tantrayana-Budha Mayahana

Pada Kompleks Percandian Pulau Sawah tersebut disinyalir terdapat dua aliran Agama Budha yang tumbuh dan berkembang secara berdampingan, yaitu Budha Mahayana dan Budha Tantrayana.

Eka menilai, hal tersebut berangkat dari adanya beberapa temuan berupa arca yang merupakan identitas atau karakteristik dari masing-masing aliran.

Bukti keberadaan Budha Mahayana ditemukan pada Candi Pulau Sawah II dengan penemuan avalokiteswara serta kaki Budha. Sementara bukti dari keberadaan Budha Tantrayana adalah dengan ditemukannya beberapa arca lain dari ajaran tersebut.

Dari temuan yang ada, dapat dilihat bahwasanya pada zaman dahulu ajaran Budha Mahayana dan Budha hidup secara berdampingan atau bahkan telah terjadi sinkretisme antara masing-masing ajaran.

Dugaan tersebut diperkuat oleh Taqiudin yang menyebutkan bahwa pada komplek percandian tersebut terdapat lebih dari satu ajaran, sekalipun secara umum di lokasi tersebut ditemukan banyak bukti tentang keberadaan Budha Mahayana.

Akan tetapi pada komplek percandian tersebut juga ada indikasi Tantrayana dengan ditemukannya avalokiteswara dalam bentuk tantra.

"Hal ini membuktikan bahwa toleransi umat beragama di daerah ini sudah berlangsung sejak lama," ujarnya.

Selain itu, penemuan keramik asal Cina di lokasi tersebut juga membuktikan bahwa pada kisaran abad VIII daerah tersebut sudah menjalin kontak dengan dunia internsional.

Sebuah Temuan Baru 

Kepala BPCB Sumbar, Nurmatias menyebutkan, temuan dari penelitian yang dilakukan oleh tim dari Puslit Arkenas tersebut merupakan sebuah perspektif baru terhadap sejarah yang ada di Dharmasraya.

Menurutnya, sejauh ini yang diketahui secara umum keberadaan Budha di lokasi tersebut baru diketahui berasal dari abad XIII dengan ditemukannya Arca Bairawa di Candi Padang Roco. akan tetapi temuan yang ada di Komplek Percandian Pulau Sawah ternyata jauh lebih tua dari temuan sebelumnya.

Kompleks Percandian Pulau Sawah sendiri sudah mulai digarap oleh BPCB semenjak tahun 1995, hal tersebut dapat dilihat dari adanya beberapa candi yang sudah dipugar.

Sementara itu pihaknya juga sudah berkomitmen dengan pihak pemerintah Kabupaten Dharmasraya agar komplek Percandian Pulau Sawah dapat menjadi sebuah lokasi sebagai tempat memberikaan pengetahuan baru bagi generasi muda.

"Kepada masyarakat kita dapat menyampaikan bahwa Dharmasraya sudah memiliki catatan sejarah yang panjang dan mempunyai karakter yang kuat semenjak zaman dahulu," kata dia.

Ia menambahkan, sejauh ini perspektif masyarakat Minangkabau sangat identik dengan pemahaman bahwa setelah prasejarah langsung masuk pada masa Islam.

Akan tetapi adanya temuan-temuan yang merupakan bukti keberadaan Hindu Budha tidak dapat dilupakan begitu saja, setidaknya terdapat tiga daerah di Sumbar yang memiliki bukti bahwa peradaban tersebut pernah hidup, seperti Kabupaten Dahrmasraya, Tanah Datar serta Pasaman.

Dengan adanya temuan pada beberapa daerah tersebut, terutama di Dharmasraya setidanya dapat menjadi sebuah upaya penjernihan sejarah bahwa Agama Hindu maupun Budha pernah tumbuh dan berkembang di daerah itu.

Proses pennelitian yang digelar selama lebih kuran 12 hari tersebut melibatkan pakar yang berasal dari beberapa lembaga, komunitas serta perguruan tinggi yang ada di Indonesia.

Setidaknya terdapat 13 orang pakar yang ikut terlibat, seperti tiga orang arkeolog dari Puslit Arkenas yang dibantu oleh 2 orang dari Komunitas Luar Kotak, pakar geologi dari ITB, satu orang arkeolog dari Universitas Jambi, seorang pakar geografi dan lingkungan dari FMIPA UI, satu orang arkeolog dari Balai Arkeologi Sumatera Utara serta empat orang peneliti dari BPCB Sumbar. []