UNTUK INDONESIA

Jakarta - Dalam kesempatan wawancara Zoom ini Redaktur Tagar, Yossy Girsang berdiskusi dengan Staf Khusus Menteri Keuangan Republik Indonesia, Yustinus Prastowo mengenai Langkah-langkah yang sedang dilakukan Pemerintah agar dapat recover dari kondisi ekonomi saat ini. Berdasarkan rilis dari Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami kontraksi atau negatif pada Kuartal II 2020 sebesar 5,32%. Karena pada kuartal I 2020, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih di angka 2,97%, maka secara teknikal menurut Prastowo Indonesia masih belum masuk ke fasa resesi ekonomi. 

Namun Prastowo juga mengajak agar masyarakat tidak fokus pada angka saja, karena yang penting saat ini adalah bagaimana mempersiapkan landasan dan mempercepat penyerapan APBN agar nantinya proses pemulihan ekonomi di Kuartal IV 2020 dan Kuartal I 2021 dapat berjalan dengan baik. Fokus pemerintah masih tetap pada bidang kesehatan, perlindungan sosial dan dan dukungan terhadap dunia usaha yaitu UMKM dan dilanjutkan juga ke level korporasi. 

Dengan dibutuhkannya dana anggaran untuk kesehatan sebesar Rp.87,55 Triliun dan pemulihan ekonomi Rp.607,65 triliun, maka pemerintah harus realistis bahwa ketika ekonomi turun tentu penerimaan akan turun juga, sehingga diperlukan penambahan Utang. Tentunya pemerintah tidak bisa “ugal-ugalan” dalam menambah utang, sehingga dilakukan burder sharing dengan Bank Indonesia, supaya beban utang tidak terlalu berat. Demikian juga defisit APBN di atas 3% hanya boleh hingga 2022.