UNTUK INDONESIA

Jakarta - Beberapa waktu lalu, kita mendengar kabar duka, yaitu kerabat penyanyi sekaligus kader PDIP, Edo Kondologit, yang bernama Riko, meninggal di tahanan kantor polisi Polres Sorong, Papua. Kejadian ini membuat Edo Kondologit mengamuk di depan kantor polisi. Dia menyatakan kecewa dan sakit hati dengan perlakuan tidak adil oleh aparat penegak hukum di Indonesia.

Di sisi lain, polisi mengatakan, saat menjalani pemeriksaan di Polres Sorong, Riko yang sudah diborgol, berusaha melarikan diri dengan menabrak kaca jendela dan kabur. Setelah ditangkap, Riko masih berusaha melawan, sehingga aparat melakukan tindakan tegas dengan menembak kakinya. Kemudian, polisi membawanya ke rumah sakit, sebelum akhirnya ditahan di sel Polres Sorong. Di dalam tahanan, Riko dianiaya oleh tahanan lain, karena kasusnya adalah pemerkosaan dan pembunuhan seorang ibu.

Lalu, bagaimana kasus ini di mata peneliti? Cory Olivia dari Tagar TV telah melakukan wawancara zoom pada hari Rabu, 2 September 2020, bersama dengan Erasmus Napitupulu, Direktur Eksekutif Institute for Criminal Justice Reform atau ICJR. Dalam wawancara itu, Erasmus mengatakan bahwa seharusnya tidak boleh ada penahanan di kepolisian. Menurutnya, penahanan harus dilakukan pada institusi lain, guna menjamin adanya pengawasan bertingkat. Untuk itu, ICJR mendesak Pemerintah agar segera mulai mengambil langkah untuk melakukan perbaikan substansial terhadap sistem peradilan pidana, melalui revisi Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana atau KUHAP, agar tidak ada lagi ruang untuk praktik-praktik penyiksaan.