Video: Perempuan Tugasnya Melahirkan, Tidak Bisa Jadi Menteri, Kata Taliban
Editor

Halo Tagarians, Taliban menegaskan perempuan Afghanistan tidak bisa terlibat dalam urusan pemerintahan seperti menjabat sebagai menteri.

Juru bicara Taliban, Syed Zekrullah Hashmi, mengatakan tugas utama perempuan adalah melahirkan dan membesarkan anak. Ia mengatakan perempuan tidak perlu ada dalam kabinet pemerintahan Afghanistan.

"Perempuan tidak bisa bekerja memimpin kementerian. Itu seperti Anda menaruh sesuatu yang tidak sanggup mereka pikul di leher mereka," kata Hasmi dalam wawancara dengan Tolo News, Senin, 13 September 2021.

Hasmi menuturkan tidak penting bagi pemerintah Afghanistan memiliki wakil perempuan dalam kabinetnya.

Ia juga menekankan bahwa perempuan yang berdemo di sejumlah kota dalam beberapa hari terakhir tidak mewakili citra wanita Afghanistan.

"Perempuan Afghanistan adalah mereka yang melahirkan generasi Afghanistan, mendidik mereka, mendidik etika Islam pada mereka," kata Hasmi.

Saat mengklaim berkuasa penuh atas Afghanistan lagi pada 15 Agustus 2021, Taliban menjanjikan perlindungan terhadap hak perempuan dan pembentukan pemerintahan yang inklusif.

Namun, hal tersebut tidak tercermin dalam kabinet sementara yang diresmikan Taliban baru-baru ini. Sejauh ini, isi dari setidaknya 33 anggota kabinet pemerintahan Afghanistan diisi petinggi veteran Taliban tanpa ada perwakilan dari kelompok dan golongan lain di negara itu, termasuk dari kaum perempuan.

Meski begitu, Taliban telah menyatakan kaum perempuan Afghanistan diizinkan untuk bersekolah sampai perguruan tinggi, bahkan hingga program pascasarjana.

Namun, kelompok itu tetap menerapkan sejumlah kebijakan yang membatasi kaum perempuan seperti kewajiban bagi perempuan memakai pakaian Islami seperti hijab, belajar di kelas terpisah dengan siswa laki-laki, hingga pengawasan setiap pelajaran yang diambil mereka.

Untuk mengetahui lebih jauh kehidupan perempuan Afghanistan, sebelum dan sesudah Taliban kembali berkuasa, Pemimpin Redaksi Tagar.id Siti Afifiyah mewawancarai Pengamat Timur Tengah Alto Labetubun.