UNTUK INDONESIA

Jakarta - Sejak 10 Juni 2020, Bursa Efek Indonesia (BEI) telah memberhentikan sementara perdagangan saham TELE dan juga obligasinya, yang menyebabkan para pemegang saham merasa dirugikan karena tidak dapat menjual sahamnya. BEI menilai ada potensi masalah yang menyebabkan keraguan kelangsungan usaha dari TELE atau PT Tiphone Mobile Indonesia Tbk.

Pada 8 Juni 2020, Pefindo telah merilis hasil Pemantauan Khusus (Special Review) Pemeringkatan atas PT Tiphone Mobile Indonesia Tbk, dan hasilnya menyatakan bahwa Panitia Pemeringkat PT PEFINDO memutuskan menurunkan peringkat dari idBB+ menjadi idCCC (Triple C) terhadap Obligasi Berkelanjutan II PT Tiphone Mobile Indonesia Tbk Tahun 2019 senilai maksimum Rp.1,447 triliun yang akan diterbitkan selama 2 tahun sejak efektifnya Pernyataan Pendaftaran (28 Januari 2019) sampai dengan 28 Januari 2021.

Peringkat tersebut diberikan berdasarkan data dan informasi dari Perusahaan serta Laporan Keuangan Tidak Diaudit per 30 September 2019 dan Laporan Keuangan Audit per 31 Desember 2018, serta berlaku untuk periode 5 Juni 2020 sampai dengan 1 Januari 2021. Menurut Pefindo, Efek utang dengan peringkat idCCC pada saat ini rentan untuk gagal bayar dan tergantung pada kondisi bisnis dan keuangan yang lebih menguntungkan untuk dapat memenuhi komitmen keuangan jangka panjangnya atas efek utang.

Di forum dan komunitas saham, anehnya banyak pemegang saham TELE yang merasa bahwa perusahaan ini masih baik secara kinerja karena masih mampu mencetak laba bersih pada laporan keuangan terakhir yang dirilis yaitu Kuartal 3 2019. Apakah benar demikian adanya, kenapa berbeda dengan hasil pemeringkat dari Pefindo? Simak ulasan lengkapnya oleh Yossy Girsang dari Tagar berdasarkan analisa dari Laporan Keuangan dan informasi yang terkait dengan saham TELE.