UNTUK INDONESIA
Ulos adalah Warisan Budaya Indonesia, Kenapa Dibakar
Jagat media sosial dihebohkan dengan video pembakaran ulos Batak yang diunggah akun Facebook Parasian Simamora sejak 12 September 2020 lalu.
Seorang penenun Ulos di Kabupaten Humbahas, Sumatera Utara (Foto: Karmawan Silaban/Tagar)

Pematangsiantar - Jagat media sosial dihebohkan dengan video pembakaran ulos Batak yang diunggah akun Facebook Parasian Simamora sejak 12 September 2020 lalu.

Video tersebut berdurasi 1 menit 25 detik menunjukkan aksi pembakaran puluhan ulos disertai dengan suara seorang wanita yang diduga sebagai pelaku pembakaran ulos.

Sampai saat ini, pemilik akun Facebook Parasian Simamora belum memberikan keterangan lengkap tentang sumber video dan identitas wanita yang membakar ulos.

Muncul ragam tanggapan atas kejadian tersebut. Salah satunya dari Jhohannes Marbun, seorang pemerhati kebijakan kebudayaan, yang pernah menjadi Ketua Ulos Fest 2019 Batak Center di Jakarta.

Jhohannes menyebut, prihatin terhadap tindakan pembakaran ulos oleh satu kelompok keyakinan tertentu, karena menganggap ulos berkaitan dengan penyembahan berhala.

Menurutnya, si pembakar ulos belum menggunakan akal pikiran yang diberi Tuhan dengan baik, memiliki wawasan terbatas, dan sesat berpikir yang pada akhirnya sesat pula tindakannya karena dipengaruhi oleh kuasa roh jahat melalui pikiran negatif.

"Sesatlah cara berpikir orang karena keyakinan lalu menghakimi benda mati. Padahal yang membuatnya adalah manusia mahluk mulia sebagaimana membuat pakaian yang dikenakan oleh para pembakar ulos itu. Lalu kenapa tidak sekaligus dibakar saja pakaiannya ya?" katanya, dikutip dari aku Facebook Jhon Marbun Madya, Kamis, 17 September 2020.

Selain itu, dia menilai pelaku sepertinya kurang piknik, karena pemimpin agamanya juga tidak mampu mengajak piknik dalam arti sebenarnya maupun kiasan.

Secara harfiah, piknik bisa dilakukan ke Tarutung, Muara, Balige, Laguboti, Samosir, dan beberapa sentra pembuat ulos lainnya di Tanah Batak. 

Sebagian ulos ditenun secara tradisional dan sebagian lagi sudah ada yang menggunakan mesin seperti di Balige sejak tahun 1920-an.

Di tempat-tempat tersebut, si pembuat ulos tidak memberi kemenyan atau jampi-jampi untuk mengawali dan mengakhiri pekerjaannya. 

Mereka berdoa kepada Tuhan agar diberi kesehatan, rezeki, dan serta banyak pemanfaat dari ulos yang dibuatnya.

"Dengan membakar ulos, tentu bisa membuat kecewa pembuatnya karena dipahami secara salah kaprah," kata dia.

Yang lebih menyedihkan lagi, itu sama saja men-judge atau menghakimi para pembuat ulos sebagai orang yang tidak memiliki iman. Tentu ini membuat prihatin.

Pemahaman kita yang salah, jangan salahkan ulosnya, salahkan pemahamannya yang salah

Demikian pula secara kiasan, kurang piknik bisa dipahami kurangnya informasi yang didapat oleh sekelompok kecil pembakar ulos tersebut. 

Pelaku tidak mau belajar bahwa ulos merupakan media pengetahuan bagaimana cara berpikir masyarakat Batak ketika itu sudah sedemikian maju, bersahabat dengan alam tetapi juga adaptif terhadap perkembangan di sekitarnya.

Bakar UlosPembakaran Ulos Batak. (Foto: Tangkapan layar Facebook)

"Oleh karena banyaknya pesan pengetahuan baik tersebut, apresiasi pun datang, termasuk penghargaan dari Pemerintah RI dengan menetapkan ulos sebagai Warisan Budaya Indonesia pada Oktober 2014 lalu. Banyak pesan pengetahuan yang dapat dipelajari sebagai kearifan masyarakat, mulai cara membuat ulos, pewarnaan, pengaturan waktu kerja, dan lain sebagainya," kata dia.

Sebelumnya, budayawan Batak, Monang Naipospos kepada Tagar pada Selasa, 15 September 2020, juga menyesalkan aksi pembakaran ulos. 

Dia menyebut pelaku memiliki pemahaman yang salah soal ulos.

“Dari sisi material, ulos itu dibuat dari kapas, kapas itu ciptaan Tuhan. Apa yang salah dari situ? Ulos itu dibuat dengan seni, yaitu memadukan warna dan motif sama halnya dengan batik. Apa yang salah dari situ? Suku lain punya karya seni dari kain juga, terus apa yang bedanya dengan kita suku Batak yang punya ulos. Terus apa salahnya? Engga ada yang salah dari situ. Pemahaman kita yang salah, jangan salahkan ulosnya, salahkan pemahamannya yang salah,” terangnya saat dimintai pendapat soal pembakaran ulos yang viral di media sosial.

Monang mengakui banyak pemahaman yang salah tentang ulos ini. Umumnya kesalahpahaman tersebut muncul dari aliran kepercayaan, yang menganggap ada kekuatan mistis di balik kain ulos.

“Sudah banyak edukasi tentang ulos ini yang dibagikan di media sosial, dan penjelasannya bagus-bagus. Mereka seharusnya banyak baca,” kata dia menambahkan.

Selama pemahaman tentang ulos ini masih salah, Monang memastikan bahwa tindakan konyol seperti membakar ulos akan terus terjadi.

Diketahui, aksi pembakaran ulos terekam video yang diduga dilakukan seorang perempuan menghebohkan media sosial.

Pelaku membakar ulos, dikaitkan dengan pemahaman keyakinan yang diimaninya. Hampir bisa dipastikan pelaku adalah orang Batak.

Demi melancarkan hubungan rohku dengan Yesus Kristus, segala ikatan rohku dengan siapapun, baik itu dengan Debata, Allah Jahowa. Siapapun itu. Semuanya itu kuputuskan dalam nama Yesus, demikian juga untuk ulos ini yang dulunya aku terima karena ketertipuanku dengan si Debata. Dan saat ini juga aku musnahkan dalam nama Yesus, sudah tidak ada lagi kuasanya, sama seperti sampah ini aku bakar. Dalam nama Yesus tidak berkuasa lagi, agar nama Tuhan Yesus berdiam di dalam rumah kami, di dalam pribadi kami, agar tidak ada lagi gangguan gangguan dari iblis. Terpujilah nama Yesus selama-lamanya. Ini masih cantik gais, ngga apa-apa, bakar aja, akan dituntaskan semua,” demikian celotehnya di video tersebut.[]

Berita terkait
Budayawan Monang Naipospos Sesalkan Pembakaran Ulos
Jagat media sosial dihebohkan dengan video pembakaran ulos Batak yang diunggah akun Facebook Parasian Simamora sejak 12 September 2020.
Viral Seorang Perempuan Bakar Ulos Batak Jenis Sadum
Viral di media sosial Facebook sebuah video berdurasi 1 menit 26 detik membakar Ulos Batak.
Siswi SMP di Tarutung Martonun Ulos untuk Membeli HP
Siswi SMP di Taruntung Martonun Ulos mencari uang untuk membeli handphone.
0
Polisi Tingkatkan Kasus Kebakaran Kejagung ke Penyidikan
Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Polri Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo mengatakan kasus kebakaran Kejaksaan Agung naik penyidikan.