UNTUK INDONESIA
Ulang Tahun ke-143 KH Hasyim Asy’ari, Kakek Gus Dur, Pendiri Nahdlatul Ulama
Nahdlatul Ulama artinya kebangkitan ulama, didirikan pada 31 Januari 1926. Delapan tahun lagi NU genab satu abad, lebih tua dari usia Republik Indonesia.
KH Hasyim Asy’ari, pahlawan nasional, pendiri Nahdlatul Ulama, lahir 10 April 1875, wafat 25 Juli 1947. (Foto: Istimewa)

Jakarta, (Tagar 12/4/2018) – Dua hari lalu tepatnya 10 April 2018 merupakan ulang tahun ke-143 KH Hasyim Asy’ari,  pahlawan nasional yang juga pendiri Nahdlatul Ulama (NU), organisasi massa Islam terbesar di Indonesia.

Nahdlatul Ulama artinya kebangkitan ulama, didirikan pada 31 Januari 1926. Delapan tahun lagi NU genab satu abad, lebih tua dari usia Republik Indonesia.

Hasyim Asy’ari juga pendiri Pesantren Tebu Ireng yang kemudian menjadi pesantren terbesar dan terpenting di Jawa pada abad 20. 

Ia dikenal sebagai tokoh pendidikan pembaharu pesantren, selain mengajarkan agama dalam pesantren juga mengajar para santri membaca buku-buku pengetahuan umum, berorganisasi, dan berpidato. Ia mendapat sebutan Hadratus Syeikh yang berarti maha guru.

Salah seorang putranya, Wahid Hasyim adalah salah satu perumus Piagam Jakarta yang kemudian menjadi Menteri Agama. Sedangkan cucunya, Abdurrahman Wahid akrab disapa Gus Dur menjadi Presiden Indonesia.

Kiai Hasyim Asy’ari lahir di Pondok Nggedang, Jombang, Jawa Timur, 10 April 1875. Nenek moyangnya turun-temurun memimpin pesantren, ayahnya bernama Kiai Asyari pemimpin Pesantren Keras yang berada di sebelah selatan Jombang. Ibunya bernama Halimah. Dari garis ibu, Kiai Hasyim Asy’ari merupakan keturunan Raja Brawijaya VI, yang juga dikenal dengan Lembu Peteng, ayah Jaka Tingkir yang menjadi Raja Pajang, keturunan kedelapan dari Jaka Tingkir.

Ia belajar dasar-dasar agama dari ayah dan kakeknya, Kyai Utsman yang juga pemimpin Pesantren Nggedang di Jombang. Sejak usia 15 tahun, ia berkelana menimba ilmu di berbagai pesantren, antara lain Pesantren Wonokoyo di Probolinggo, Pesantren Langitan di Tuban, Pesantren Trenggilis di Semarang, Pesantren Kademangan di Bangkalan dan Pesantren Siwalan di Sidoarjo.

Pada 1892 ia pergi menimba ilmu ke Mekah, berguru pada Syekh Ahmad Khatib Minangkabau, Syekh Muhammad Mahfudz at-Tarmasi, Syekh Ahmad Amin Al-Aththar, Syekh Ibrahim Arab, Syekh Said Yamani, Syekh Rahmaullah, Syekh Sholeh Bafadlal, Sayyid Abbas Maliki, Sayyid Alwi bin Ahmad As-Saqqaf, dan Sayyid Husein Al-Habsyi.

Di Makkah awalnya ia belajar di bawah bimbingan Syaikh Mafudz dari Termas (Pacitan) yang merupakan ulama dari Indonesia pertama yang mengajar Sahih Bukhori di Makkah. Syaikh Mafudz adalah ahli hadis dan hal ini sangat menarik minat belajar Hasjim Asy'ari sehingga sekembalinya ke Indonesia pesantren ia sangat terkenal dalam pengajaran ilmu hadis. 

Ia mendapatkan ijazah langsung dari Syaikh Mafudz untuk mengajar Sahih Bukhari, di mana Syaikh Mahfudz merupakan pewaris terakhir dari pertalian penerima (isnad) hadis dari 23 generasi penerima karya ini. Selain belajar hadis ia juga belajar tassawuf (sufi) dengan mendalami Tarekat Qadiriyah dan Naqsyabandiyah.

Ia juga mempelajari fiqih madzab Syafi'i di bawah asuhan Syaikh Ahmad Katib dari Minangkabau yang juga ahli dalam bidang astronomi (ilmu falak), matematika (ilmu hisab), dan aljabar. Pada masa belajar pada Syaikh Ahmad Katib ini ia mempelajari Tafsir Al-Manar karya monumental Muhammad Abduh. Pada prinsipnya ia mengagumi rasionalitas pemikiran Abduh akan tetapi kurang setuju dengan ejekan Abduh terhadap ulama tradisionalis.

Gurunya yang lain adalah termasuk ulama terkenal dari Banten yang mukim di Makkah yaitu Syaikh Nawawi al-Bantani. Sementara guru yang bukan dari Nusantara antara lain Syaikh Shata dan Syaikh Dagistani yang merupakan ulama terkenal pada masa itu.

Pemikirannya tentang Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah adalah 'ulama dalam bidang tafsir Al-Qur'an, sunnah Rasul, dan fiqh yang tunduk pada tradisi Rasul dan Khulafaur Rasyidin'. Ia selanjutnya menyatakan bahwa sampai sekarang ulama tersebut termasuk 'mereka yang mengikuti mazhab Maliki, Hanafi, Syafi'i, dan Hambali'. Doktrin ini diterapkan dalam NU yang menyatakan sebagai pengikut, penjaga dan penyebar paham Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah.

Kiai Hasyim Asy'ari wafat pukul 03.00 pagi, 25 Juli 1947, dimakamkan di kompleks pemakaman di Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur. 

Ia meninggalkan banyak warisan berharga termasuk sejumlah kitab klasik karyanya yang rata-rata ditulis dalam bahasa Arab. Di antaranya berjudul 'Kajian kewajiban beriman, mentaati, mentauladani, berlaku ikhlas, mencintai Nabi SAW sekaligus sejarah hidupnya', 'Kajian mengenai maulid nabi dalam kaitannya dengan amar ma’ruf nahi mungkar', 'Kajian mengenai pandangan terhadap bid’ah, Konsisi salah satu madzhab, dan pecahnya umat menjadi 73 golongan', 'Kajian tentang pentingnya jalinan silaturahmi antarsesama manusia.' (sa)

Berita terkait
0
Jadwal Lengkap Acara Televisi Nasional Sabtu 2 Mei 2020
Beragam program acara televisi nasional siap menemani ibadah puasa Ramadan Anda pada Sabtu 2 Mei 2020.