UNTUK INDONESIA
Tak Ada Idul Adha Buat Kami Tahun Ini
Tak ada Idul Adha buat kami tahun ini. Kami terusir dari rumah dan tinggal dalam kemelaratan.
Tak Ada Idul Adha Buat Kami Tahun Ini | Sejumlah anak lelaki menggotong kambing di pasar ternak tempat warga membeli hewan kurban menjelang Idul Adha di Sanaa, Yaman, Sabtu (18/8/2018). (Foto: Antara/Reuters/Khaled Abdullah)

Aden, Yaman, (Tagar 22/8/2018) - Ahmed Obeid ayah empat anak untuk pertama kali tak bisa mempersiapkan perayaan Idul Adha, karena perang yang berkecamuk memaksa dia dan ribuan orang Yaman meninggalkan rumah mereka.

Mereka berada di berbagai daerah yang dicabik perang dan mengungsi di provinsi lain yang aman di negara Arab yang miskin tersebut.

Keluarga Yaman dulu biasa mempersiapkan dan berbelanja untuk menikmati Idul Adha, Hari Raya keagamaan terbesar kedua buat umat muslim. 

Tapi Idul Adha tahun ini, dirayakan di seluruh negeri tersebut pada Selasa (21/8), ribuan orang menderita akibat terusir dan tak ada persiapan yang bisa mereka buat untuk menyambut Idul Adha. Sebagian dari mereka berjuang untuk selamat dari kelaparan dan penyakit setelah meninggalkan tempat tinggal mereka.

Obeid berdiri bersama empat anaknya di samping tenda mereka di kamp pengungsi dalam negeri di pinggir Provinsi Aden. Ia mengatakan kepada Xinhua, Selasa siang, tak ada tempat bagi kebahagiaan untuk menikmati Hari Raya tahun ini.

"Ini adalah Id pertama yang saya jalani tanpa keluarga tercinta. Perang melucuti hak kami untuk berada di dalam rumah kami guna menyambut Idul Adha secara damai dengan kebahagiaan seperti tahun-tahun lalu," katanya.

YamanPengungsi dari kota pelabuhan Laut Merah Hodeidah duduk di rumah keluarga penduduk di mana mereka tinggal di pinggiran Sanaa, Yaman, Selasa (10/7/2018). (Foto: Antara/Reuters/Khaled Abdullah)

Ia mengatakan bahwa sebagian besar keluarga yang menjadi pengungsi tak memiliki sumber keuangan dan tidak menerima pakaian baru buat anak mereka dari organisasi bantuan.

"Sebagian anak di dalam tenda ini menangis dan meminta ibu mereka membelikan mereka pakaian baru Id dan tidak tahu bahwa semuanya berubah dan mereka tidak mempunyai rumah," katanya.

Idul Adha tahun ini tak berarti apa-apa buat warga Yaman yang terusir dan tinggal dalam kemelaratan, katanya. 

Ia menambahkan, "Menghentikan perang buruk ini dan pertumpahan darah akan menjadi perayaan kami yang sesungguhnya. Pemboman dan pertempuran menghancurkan semuanya yang indah di negeri kami." 

Di provinsi lain di Yaman termasuk Kota Pantai Laut Merah Hodeidah, perang masih berkecamuk antara pasukan pemerintah yang didukung koalisi Arab pimpinan Arab Saudi, dan petempur Syiah Al-Houthi bahkan selama liburan Idul Adha.

Sebagian keluarga di Hodeidah mendesak pihak yang berperang agar melakukan gencatan senjata untuk memberi rakyat kesempatan merayakan Idul Adha bersama anak mereka tanpa ketakutan dan pemboman membabi-buta, tapi tak ada tanggapan bagi seruan mereka.

YamanSejumlah wanita duduk di sebelah bantuan makanan dari Komite Internasional Palang Merah bagi pengungsi internal di kota pelabuhan Hodeidah, Laut Merah, Yaman, Sabtu (21/7/2018). (Foto: Antara/Reuters/Abdul Jabbar Zeyad)

"Semua pihak yang berperang tidak peduli dengan penderitaan kami, hanya mencari kemenangan serta merampas daerah kami," kata Fuad Slaeh, orang yang mengungsi di dalam negerinya dan tiba di Aden pada Senin (20/8).

"Hari besar Islam tak berarti apa-apa buat para pemimpin perang yang datang dari provinsi lain dan memaksa kami meninggalkan harta serta rumah kami selama hari besar Idul Adha," kata Fuad.

"Kebanyakan komandan militer dan pemimpin Al-Houthi bukan berasal dari Hodeidah dan keluarga mereka berada di tempat aman dan mereka datang cuma untuk menghancurkan daerah kami," ia berkata dengan marah.

Ia menambahkan bahwa "meninggalkan rumah kami adalah sangat menyakitkan, tapi para pemimpin militer itu tidak mengalaminya dan tidak tahu apa itu mengungsi".

Lebih dari 121.000 warga telah menyelamatkan diri dari Kota Hodeidah yang dicabik perang, dan bagian lain provinsi tersebut sejak 1 Juni, kata PBB pekan lalu.

Berjuang Memperoleh Makanan

Saat jutaan muslim di seluruh dunia menyembelih hewan untuk merayakan Idul Adha, atau Hari Raya Kurban, mulai 21 Agustus, jutaan orang di Yaman yang dicabik perang tak mampu memperoleh satu kali makan dalam sehari.

YamanPara pelayat membawa peti jenazah saat pemakaman warga, terutama anak-anak, yang tewas dalam serangan udara yang dipimpin oleh Arab Saudi di sebuah bus di utara Yaman, di Saada, Yaman, Senin (13/8/2018). (Foto: Antara/Reuters/Naif Rahma)

Menurut laporan PBB baru-baru ini, 22,2 juta orang Yaman tergantung atas bantuan, dan 8,4 juta orang dari 29 juta warga Yaman berjuang untuk memperoleh makanan berikutnya.

Di pasar ternak Noqum di Sana'a Timur, puluhan orang berkumpul untuk membeli kambing, sapi guna merayakan Hari Raya Kurban.

Bahkan sebagian sapi di sana memperlihatkan tanda kekurangan gizi parah.

Hosen Ar-Rajawi, seorang pembeli, mengatakan keluarganya akan berbagi biaya sapi kurban bersama enam anggota keluarga tetangga untuk hari raya tersebut.

"Sapi yang berharga 350.000 rial Yaman (636,36 dolar AS) selama Idul Adha tahun lalu, sekarang dijual dengan harga satu juta rial," kata Ar-Rajawi.

Saif Mohammed, seorang pembeli lain di pasar itu, mengeluhkan harga ternak jauh lebih mahal dibandingkan dengan tahun lalu.

YamanSejumlah anak melihat kuburan yang disiapkan bagi korban serangan udara Kamis kemarin di provinsi Saada, Yaman, Jumat (10/8/2018). (Foto: Antara/Reuters/Naif Rahma)

"Kami sudah menderita akibat harga yang melangit, perang, blokade. Oleh karena itu, kami menghadapi penderitaan tiga-sisi," kata Mohammed.

Sementara itu, Mohammed Al-Firsi, seorang pedagang ternak, mengatakan kenaikan harga disebabkan oleh lonjakan harga pakan ternak, air dan bahan bakar.

"Bisnis tahun ini sangat lemah dibandingkan tahun lalu akibat perang, blokade habis-habisan dan kenaikan nilai tukar dolar terhadap rial Yaman," kata Al-Firsi.

Negara Arab miskin tersebut telah dirongrong perang saudara sejak 2014, ketika gerilyawan Syiah dukungan Iran, Al-Houthi, merebut sebagian besar wilayah negeri itu dan menguasai seluruh provinsi Yaman Utara, termasuk Ibu Kotanya, Sana'a.

Pasukan koalisi Arab pimpinan Arab Saudi mencampuri perang Yaman untuk memerangi petempur Al-Houthi pada Maret 2015 sebagai reaksi atas permintaan resmi dari Presiden Yaman Abd-Rabbu Mansour Hadi, yang diakui masyarakat internasional, untuk merebut kembali negeri itu.

YamanSejumlah anak lelaki berdemo di depan kantor PBB di Sanaa, Yaman untuk mengutuk serangan udara pekan lalu yang menewaskan puluhan orang termasuk anak-anak di provinsi Saada, Yaman, Senin (13/8/2018). (Foto: Antara/Reuters/Khaled Abdullah)

Pada 2016, Pemerintah Hadi menuduh gerilyawan Al-Houthi menggunakan uang Bank Sentral Yaman untuk membiayai pembangunan militernya, dan memindahkan bank tersebut dari Sana'a yang dikuasai gerilyawah Al-Houthi ke Aden, Ibu Kota sementara pemerintah di Yaman Selatan.

Namun tuduhan itu dibantah oleh milisi Al-Houthi.

Perang tersebut telah mengakibatkan kemerosotan ekonomi negeri itu, yang sudah guncang, dan memicu kenaikan harga.

Sementara itu, lebih dari puluhan ribu pegawai negara di Yaman Utara masih belum menerima gaji selama hampir 24 bulan akibat perang.

Mohammed Al-Alawi, seorang wartawan surat kabar 26 September yang dikelola negara dan berpusat di Sana'a mengatakan, ia juga tidak memiliki cukup uang untuk membelikan lima anaknya daging selama Hari Raya Kurban.

"Saya akan membelikan anak-anak saya satu ayam pada hari pertama dari empat hari libur Idul Adha, tapi saya tidak dapat menjamin makanan berikutnya," katanya. []

Berita terkait
0
Pemilik dan 1.000 Karyawan Bhakti Karya Dukung Pradi-Afifah
H. Ahmad Syafei yang merupakan pemilik serta kader Partai Gerinda bersama 1.000 Karyawan Bhakti Karya dukung Pradi-Afifah.