Studi di AS Menunjukkan Mayoritas Warga Ragukan Vaksin Anjing

Penelitian tersebut menemukan bahwa 37 persen pemilik anjing menganggap vaksin anjing tidak aman
ILUSTRASI - Seorang pria membawa anjingnya keluar di tengah kabut untuk lari pagi di sepanjang jalan raya 101, di Encinitas, California, AS, 26 Juli 2023. (Foto: voaindonesia.com/REUTERS/Mike Blake)

TAGAR.id - Sebuah studi menunjukkan, gerakan anti-vaksinasi yang berkembang selama pandemi Covid-19 tampaknya juga mempengaruhi para pemilik anjing, sehingga meningkatkan risiko penyakit bagi anjing, pemiliknya, dan dokter hewan.

Studi tentang Keraguan Vaksinasi Anjing (CVH) yang dilakukan oleh Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Boston, AS, ini dirilis pada 26 Agustus 2023. Penelitian tersebut menemukan bahwa 37 persen pemilik anjing menganggap vaksin anjing tidak aman, 22 persen menganggapnya tidak efektif, dan 30 persen menganggap vaksin anjing tidak diperlukan.

Secara keseluruhan, 53 persen pemilik anjing menganut salah satu dari tiga pandangan ini, menurut penelitian itu yang dilakukan bekerja sama dengan perusahaan riset pasar dan analisis data YouGov.

Matt Motta, penulis utama studi tersebut, mengatakan, ia yakin penelitian ini adalah yang pertama dari jenisnya. "Kami tahu bahwa ada keraguan terhadap vaksin anjing berdasarkan pengalaman. Tapi kami tidak tahu seberapa luasnya hal itu sebelum hasil survei diperoleh,” jelasnya.

Suntikan vaksin rabies untuk anjing adalah satu-satunya vaksin yang diwajibkan di banyak negara bagian AS. Namun, dokter hewan juga mencoba membujuk pemilik anjing untuk memvaksinasi hewan peliharaannya untuk melawan penyakit lain. Di California, para dokter hewan merekomendasikan vaksin untuk melawan parvovirus, hepatitis anjing, dan distemper.

vaksinasi anjing di manilaFILE: Seorang anggota Humane Society International (HSI) memberikan vaksin anti-rabies pada seekor anjing sebagai bagian dari upaya vaksinasi massal dalam rangka memperingati Hari Rabies Sedunia di Payatas, metro Manila, Filipina, 26 September 2017. (Foto: voaindonesia.com/REUTERS/Romeo Ranoco)

Motta memperingatkan, keengganan untuk memvaksinasi anjing, tidak hanya membahayakan hewan peliharaan itu dan sesamanya, tapi juga manusia.

“Jika ada lebih banyak anjing yang tidak divaksinasi di luar sana, risiko penularan penyakit akan meningkat dan demikian pula bagi dokter hewan profesional, bagi kita semua yang mungkin melakukan kontak dengan hewan peliharaan yang tidak divaksinasi, kita berpotensi berisiko sakit,” jelasnya.

Todd Calsyn, dokter hewan di Laurel Pet Hospital di West Hollywood, mengatakan awalnya ia terkejut bahwa keragu-raguan terhadap vaksin anjing begitu besar, namun temuan ini sejalan dengan pertanyaan yang sering diterimanya dari para pemilik anjing.

“Banyak orang yang memiliki pertanyaan tentang vaksin dan Anda tahu, tugas kami adalah selalu menjelaskan manfaat dan kerugiannya. Kami berbicara dengan mereka tentang vaksin dan mencari tahu apa yang cocok untuk hewan peliharaan mereka, serta faktor risiko dan hal-hal lainnya,” jelasnya.

Sebuah laporan UNICEF pada bulan April menemukan bahwa banyak orang di berbagai penjuru dunia kehilangan kepercayaan akan pentingnya vaksin rutin pada anak-anak untuk melawan penyakit mematikan seperti campak dan polio selama pandemi COVID. Bukan tidak mungkin, pandangan serupa juga muncul terhadap vaksin hewan pelharaan. (ab/lt)/Reuters/voaindonesia.com. []

Berita terkait
40 Persen Kasus Gigitan Anjing Rabies Terjadi pada Anak
Dan kasus penularan rabies melalui gigitan ini mencapai 95 persen dari seluruh kasus rabies yang ada
0
Studi di AS Menunjukkan Mayoritas Warga Ragukan Vaksin Anjing
Penelitian tersebut menemukan bahwa 37 persen pemilik anjing menganggap vaksin anjing tidak aman