UNTUK INDONESIA
Slamet Rahardjo: Saya Tidak Mau Dilarang-larang
Aktor Slamet Rahardjo tidak mau terjerat dalam polemik nonton bareng film Pengkhianatan G30S/PKI yang disebut untuk mencegah tumbuh kembalinya ideologi komunis.
DISKUSI SETELAH TEGUH KARYA: Aktor senior Slamet Rahardjo (kiri), bersama Aktris senior Christine Hakim (kedua kiri), Penulis Seno Gumira Ajidarma (kedua kanan), Sutradara Film dan Penulis Skenario Wregas Bhanuteja (kanan), dan moderator Ifan Ismail (tengah) berbicara dalam diskusi di Galeri Foto Jurnalistik Antara, Pasar Baru, Jakarta, Jumat (22/9). Diskusi yang mengangkat tema Setelah Teguh Karya itu dalam rangka memperingati hari kelahiran sineas legendaris Indonesia, Teguh Karya. (Foto: Ant/Aprillio Akbar).

Jakarta, (Tagar 23/9/2017) – Perbincangan seputar pro-kontra PKI menghangat. Aktor Slamet Rahardjo tidak mau terjerat dalam polemik nonton bareng film Pengkhianatan G30S/PKI yang disebut untuk mencegah tumbuh kembalinya ideologi komunis.

"Saya tidak ikut di dalam masalah itu, saya tidak mau menjeratkan diri di dalam masalah itu, itu pasti ada maksudnya dan dengan maksudnya pun kita semua sudah tahu maksudnya apa," ujar Slamet Rahardjo di Galeri Foto Jurnalistik Antara Jakarta, Jumat (22/9) malam.

Ia mempersilakan dilakukan pemutaran kembali film karya Arifin C Noer itu karena semua pihak memiliki kebebasan dalam melakukan sesuatu.

Dengan kebebasan itu, ia menilai tidak ada yang perlu dilarang-larang.

"Saya juga orang bebas saya juga tidak mau dilarang-larang kok. Kalau ada orang memilih jalan itu ya silakan, tetapi saya tidak mau ikut berpolemik," ucap dia.

Tekait keinginan Presiden Joko Widodo untuk pembuatan ulang film agar sesuai dengan generasi muda, ia mengatakan hal itu mungkin dilakukan untuk mengoreksi beberapa hal.

"Itu keyakinan orang silakan, tetapi ya di situ banyak hal yang misalnya dirugikanlah nama Bung Karno. Nama Bung Karno kurang bagus di situ, saya tidak tahu maksud di belakang itu saya tidak mengerti," tutur Slamet.

Peraih Penghargaan FFI itu menilai orang yang membuat sesuatu pasti mempunyai alasan dan ia menghargai semua orang.

Namun, ia menekankan film merupakan media yang dapat menanamkan nilai tertentu dan mengajak seseorang memikirkan nilai itu.

"Film bukan tontonan semata, tetapi tuntunan, mengajak orang ke mana, jangan pura-pura tidak tahu," kata dia.

Tidak Tertarik

Sementara itu, sutradara muda pemenang Festival Film Cannes 2016 Wregas Bhanuteja mengaku enggan untuk membuat film bertema politik karena merasa tidak dekat dengan bidang itu.

"Saya tidak berminat buat film politik, saya tidak dekat dengan film politik, saya lebih ke psikologi," ujar dia di Galeri Foto Jurnalistik Antara, Jakarta, Jumat (22/9) malam.

Mengenai nonton film bareng Pengkhianatan G30S/PKI yang disebut untuk mencegah tumbuh kembali ideologi komunis, ia enggan berkomentar.

Ia mengatakan belum pernah menonton film karya Arifin C Noer itu, dan mengaku tidak berminat untuk menontonnya.

"Maaf saya tidak bisa berkomentar soal itu, saya soalnya bukan lahir di generasi itu. Saya tidak pernah dan tidak tertarik untuk menonton," kata dia lagi.

Kegiatan nonton bareng film berdurasi 271 menit itu merupakan perintah Panglima TNI agar generasi muda sadar akan bahaya paham komunis yang pernah berkembang di Indonesia, dengan harapan tidak akan terulang lagi di Indonesia. (yps/ant)

Berita terkait
0
Calon Jaksa Agung Lebih Baik Non Partisan
Pengamat politik Emrus Sihombing mengatakan seharusnya Jaksa agung bebas dari konflik kepentingan (non partisan).