UNTUK INDONESIA
Setelah Bertemu Jokowi, Ini Langkah Prabowo
Masyarakat menunggu pertemuan Jokowi dan Prabowo Subiant untuk menurunkan ketegangan pascaPilpres 2019 dan putusan MK.
Pertemuan Jokowi-Prabowo di MRT. (Foto: Antara/Joko Susilo)

Jakarta - Banyak warga masyarakat menunggu dan menghendaki pertemuan antara Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto. Itu berguna untuk menurunkan ketegangan setelah mereka melakukan kontestasi Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 dan dilanjutkan dengan pascaputusan Mahkamah Konstitusi (MK) pada Kamis, 27 Juni 2019, terkait sengketa Pilpres.

Akhirnya, pada Sabtu, 13 Juli 2019, keinginan masyarakat dikabulkan, Jokowi dan Prabowo bertemu di stasiun MRT (Moda Raya Terpadu) Lebak Bulus untuk melakukan rekonsiliasi. Menariknya, pertemuan itu tidak terjadi secara formal sehingga tidak ada kesan canggung.

Pemilihan lokasi pertemuan itu bukan tanpa alasan. “Alhamdulillah pada pagi hari ini kita bisa bertemu dan mencoba MRT, karena saya tahu Pak Prabowo belum pernah nyoba MRT,” tutur Presiden Jokowi, seperti dilansir dari Antara.

Keduanya telah merencanakan pertemuan bersejarah itu sejak lama, namun karena kesibukan, baru bisa melaksanakannya pada Sabtu, 13 Juli 2019. Dalam pertemuan tersebut, terjawab alasan Prabowo belum juga mengucapkan selamat atas terpilihnya pasangan Jokowi-Ma’ruf Amien sebagai Presiden dan Wakil Presiden 2019-2024.

“Saya katakan, saya ini bagaimanapun ada ewuh pakewuh, ada tata krama. Jadi kalau ucapan selamat maunya langsung tatap muka,” kata Prabowo yang diiringi dengan memberikan ucapan selamat kepada Presiden Jokowi.

Seluruh masyarakat yang kebetulan berada di stasiun MRT Lebak Bulus turut menyambut baik pertemuan tersebut. Mereka tampak riuh selama pertemuan itu berlangsung.

Cukup Mendadak

Wakil Ketua Umum Gerindra Arief Poyuono menyatakan pertemuan sebagai puncak rekonsiliasi itu cukup mendadak. Bahkan, Gerindra belum melakukan rapat mengenai pertemuan antara Prabowo dan Jokowi, karena Prabowo baru saja kembali dari luar negeri. Jadi, Gerindra belum membahas mengenai tujuan rekonsiliasi.

Meski demikian, pihak Gerindra sendiri menyadari pentingnya rekonsiliasi setelah melihat keadaan masyarakat yang terbelah sejak masa kampanye Pilpres 2019. Nyatanya, pertemuan itu benar-benar menyatukan suara Indonesia kembali, walau masih ada beberapa pihak yang belum menerimanya. 

Apa Langkah Selanjutnya?

Hingga saat ini, Gerindra belum membuat pernyataan resmi mengenai sikapnya dalam Pemerintahan. Namun berdasarkan informasi-informasi yang dimuat dalam website partai, partai tersebut cenderung menjadi oposisi.

Pada website resmi partai Gerindra, partaigerindra.or.id, pada Sabtu, 27 Juni 2019, Hendarsam Marantoko mengatakan bahwa hingga kini Gerindra masih nyaman menjadi oposisi.

“Terkait masalah oposisi atau koalisi, kita mengedepankan kepentingan bangsa dan negara, kami nyaman dengan oposisi”, kata Hendarsam.

Dia juga mengatakan selama lima tahun ini, Gerindra bisa menjadi partai terbesar kedua yang tidak bergabung dalam koalisi.

Bahkan, sejak tahun 2009 Gerindra telah menjadi partai oposisi dalam Pemerintahan. Saat itu Gerindra dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) tidak berhasil memenangkan suara pada Pilpres 2009, begitu juga pada tahun 2014.

Oposisi Jangan Benci

Terlepas Gerindra menjadi oposisi atau koalisi, Jokowi menyatakan akan mendukung partai atau pihak yang memilih menjadi oposisi.

“Menjadi oposisi itu juga sangat mulia, silakan jadi oposisi asal jangan oposisi menimbulkan dendam dan kebencian”, ujar Presiden Jokowi dalam pidatonya pada acara Visi Indonesia di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Minggu, 14 Juli 2019.

Oposisi, lanjut Jokowi, akan benar-benar mengkritisi kebijakan Secara semestinya, jangan menjadi oposisi atas dasar kebencian semata.

Pada kesempatan itu, Jokowi juga menyatakan lima visi dan misinya untuk memerintah negara, yaitu infrastruktur, sumber daya manusia (SDM), mengundang investasi untuk membuka lapangan pekerjaan, reformasi birokrasi struktural, serta penggunaan APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) fokus dan tepat sasaran.

“Namun perlu saya ingatkan bahwa mimpi-mimpi yang besar hanya bisa terwujud jika kita bersatu, jika kita optimis, jika kita percaya diri dan berani menghadapi tantangan-tantangan kompetisi global, harus berani, kita harus yakin bahwa kita bisa menjadi salah satu negara terkuat di dunia,” kata Jokowi. []

Baca juga:


Berita terkait
0
Jokowi Panggil Idham Azis Soal Kasus Novel Baswedan
Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan memanggil Kapolri Jenderal Idham Azis untuk menanyakan kasus penyerangan terhadap penyidik KPK Novel Baswedan.