UNTUK INDONESIA
Senja Temaram di Pulau Ende
Suatu sore di sebuah halaman rumah di antara debur ombak lautan, seorang nenek sedang menenun.
Senja temaram di Pulau Ende, Nusa Tenggara Timur. (sa)

Jakarta, (Tagar 26/3/2018) - Menapakkan kaki di Pulau Ende, ingatan melayang pada Bung Karno, presiden pertama RI yang pada masa penjajahan Belanda pernah diasingkan di pulau terpencil di tengah lautan ini.

Ada Bukit Borombutu di Pulau Ende, menurut catatan sejarah Bung Karno suka berlama-lama berdiam diri di bukit ini untuk mencari ilham. Dalam perenungan panjangnya kemudian lahir falsafah Pancasila.

Pulau Ende terletak satu kilometer dari ibu kota Kabupaten Ende. Untuk mencapai pulau ini dari pelabuhan di Kota Ende tersedia perahu motor yang oleh masyarakat setempat disebut taksi. Setiap hari ada layanan perahu motor dari dan ke Pulau Ende pada Subuh dan pukul dua siang.

Ombak di lautan yang mengelilingi Pulau Ende cukup tinggi dan keras, pada saat berlayar selama satu jam kadang perahu oleng ke kiri kanan secara tajam. Pada saat naik atau turun dari perahu besar, penumpang dijemput perahu kecil. Pada titik ini cukup rawan, arus deras bisa menarik tubuh menjauh dari perahu kecil.

Daratan di Pulau Ende berupa pegunungan dan perbukitan, rumah-rumah penduduk dibangun di lereng perbukitan dengan jalan setapak yang tidak terlalu lebar, menyesuaikan struktur tanah yang bertingkat-tingkat.

Meski rawan gempa bumi, sudah banyak warga yang membangun rumah permanen dengan semen, tinggal sedikit yang membuat rumah panggung dengan bahan dasar kayu.

Masalah utama yang dihadapi warga di sini adalah sulit mendapatkan air bersih, tidak semua tanah bisa digali untuk dijadikan sumur, hanya di beberapa titik tertentu saja yang airnya tawar yang bisa dikonsumsi, sedangkan sebagian titik-titik lokasi lain airnya payau, tidak bisa dikonsumsi.

Pada titik-titik lokasi air tawar dibuat sumur yang digunakan bersama-sama, orang-orang mengangkut air bersih dari sumur ke rumahnya. Terlihat seorang ibu menyunggi (meletakkan ember berisi air di kepalanya), ia bisa berjalan seimbang, tanpa air tumpah.

Sebagian rumah sudah dilengkapi alat penampung air hujan untuk mengantisipasi kebutuhan air bersih di musim kemarau yang tidak bisa dipenuhi sumur-sumur yang ada.

Pada tahun 2014 di Pulau Ende sedang diupayakan pembangunan sarana penyulingan yang bisa mengubah air laut menjadi air tawar untuk konsumsi. Kini proses penyulingan air laut menjadi air tawar dari sisi teknis sudah selesai, namun pelayanan air belum bisa dilaksanakan secara maksimal karena keterbatasan daya listrik dari PLN.

Pulau Ende adalah sebuah kecamatan, Kecamatan Ende, semua warganya pemeluk Islam hingga pulau ini juga mempunyai sebutan Pulau Muslim. Di sini tersimpan Alquran emas bernilai sejarah.

Menurut riwayat Alquran bertinta emas itu tiba di Pulau Ende pada zaman perbudakan tahun 1200 Masehi. Alquran tersebut telah ditukar dengan seorang hamba sahaya dari Syech Abdul Salam bin Abdullah di Singapura hingga pada akhirnya dibawa masuk oleh pedagang ke Pulau Ende.

Menurut cerita ahli waris, pada Alquran itu banyak keterangan tambahan bertuliskan bahasa Arab-Melayu. Wujud tulisannya berwarna emas, kecuali kata 'Allah' dan 'Muhammad' yang berwarna merah.

Pada malam Lebaran, masayarakat di sini mempunyai tradisi pawai laut atau takbir laut, perahu-perahu dihias dengan lampu warna-warni, berlayar menggemakan takbir di sepanjang lautan.

Perempuan Ende banyak yang menekuni kain tenun, seperti suatu sore di sebuah halaman rumah di antara debur ombak lautan, seorang nenek sedang menenun. Bibirnya merah karena kegemarannya mengunyah sirih. Untuk menghasilkan selembar tenun ikat khas Pulau Ende dibutuhkan waktu rata-rata tiga bulan.

Mereka menenun secara tradisional, memintal sendiri kapas menjadi benang, pewarnaan menggunakan akar atau batang mengkudu dan daun tarum.

Waktu berlalu, matahari menghilang di bawah garis cakrawala di sebelah barat, cahayanya memantul ke partikel kecil di atmosfer, berhamburan ke segala arah, membias langit merah, jingga, dan kuning. Beberapa waktu berikutnya senja menjadi temaram. (sa)

Berita terkait
0
Bertugas di KPK, Kapolrestabes Pamit ke Warga Makassar
Mantan Kepala Kepolisian Resort Kota Besar (Kapolrestabes) Makassar, Brigadir Jenderal Polisi Yudhiawan Wibisono pamit ke warga Makassar.