Selain Torro Margens, Ini Tiga Aktor Antagonis Terbaik Indonesia

Bersama Torro Margens, ada beberapa deretan nama aktor khas peran antagonis yang dimiliki indonesia.
Lima Aktor Antagonis Terbaik Indonesia Selain Torro Margens. (Foto: Istimewa)

Jakarta, (Tagar 4/1/2019) - Dunia perfilman Indonesia kehilangan satu aktor spesialis peran antagonis terbaik yang pernah di miliki negeri ini. Torro Margens meninggal dunia setelah mengalami kritis dalam sebuah kamar salah satu rumah sakit di daerah Sukabumi, Jawa Barat, Jumat (3/1) lalu.

Torro Margens dikenal sebagai aktor film dan serial televisi yang kerap membawakan tokoh antagonis. Tampang sangar dan suaranya yang khas juga pernah mengisi subuah video iklan makanan ringan. Dalam video pariwara ber-tagline lo rese kalo lagi laper, Torro berperan sebagai seorang yang begitu menyebalkan tapi juga sekaligus mengundang tawa.

Baca juga: Biografi Torro Margens di Dunia Perfilman

Bersama Torro Margens, ada beberapa deretan nama aktor khas peran antagonis yang sempat dimiliki industri seni peran indonesia. Ada yang masih berkarya hingga saat ini, ada juga yang telah dipanggil kepangkuan yang maha kuasa.

Berikut Tagar News rangkum lima aktor antagonis di dunia seni peran nasional.

1. Tio Pakusadewo

Tio PakusadewoTio Pakusadewo. (Foto: Istimewa)

Aktor kelahiran Jakarta, 2 september 1963 ini bernama lengkap Irwan Susetio Pakusadewo. Karir akting Tio bermula saat dirinya bermain dalam film layar lebar besutan sutradara legendaris Garin Nugroho berjudul, Cinta Dalam Sepotong Roti pada 90an.

Tokoh yang masih terhitung kerabat Kadipaten Pakualaman ini, dikenal sebagai bintang film muda yang penuh talenta. Berkat perannya sebagai Aria, seorang komponis idealis dalam film Lagu Untuk Seruni (1991), Tio meraih Piala Citra di Festival Film Indonesia 1991 untuk kategori Aktor Terbaik. Namun bersamaan dengan tenggelamnya film Indonesia pada pertengahan 90an, Tio menghilang. Ia terjebak dalam masalah pribadi dan narkoba.

Tio kembali berkarier di dunia perfilman dengan berperan pada film Virgin (2004). Kemudian banyak judul film yang kembali ia bintangi seperti Berbagi Suami (2006), Quickie Express (2007), Lastri (2008), Pintu Terlarang (2009). Pada tahun 2009 ia kembali meraih Piala Citra kategori Aktor Terbaik di Festival Film Indonesia 2009 lewat film Identitas (film) arahan sutradara Aria Kusumadewa.

2. Rudi Wowor

Rudi WoworRudi Wowor. (Foto: Istimewa)

Rudolf Canesius Soemolang Wowor dikenal sebagai Rudy Wowor kelahiran Amsterdam, Belanda, pada 13 Desember 1943 adalah aktor Indonesia yang terkenal dengan peran antagonis.

Blasteran Belanda-Manado ini mengawali karier di dunia seni peran sejak tahun 70an. Film yang pernah dibintanginya antara lain, Impian Perawan (1976), Aladin (1980), Tjoet Nja' Dhien (1986) dan Soerabaia '45 (1990). Bahkan Rudi pernah masuk nominasi Aktor Pendukung Terbaik FFI 1988 melalui film Tjoet Nja' Dhien.

Selain akting, Rudy Wowor juga seorang penari dan koreografer. Tahun 2007, Rudy menjadi juri tetap acara realitas menari bertajuk Seleb Dance ANTV. Salah satu pagelaran yang dikoreograferi oleh Rudy adalah teater musikal berjudul Miss Kedaluwarsa yang beraksi di Gedung Kesenian Jakarta pada 24 sampai 27 Mei 2007.

Rudy Wowor juga seorang penulis. Dia pernah menjadi penulis di majalah mode Elle. Lelaki yang menguasai tujuh bahasa asing ini juga pernah menulis di beberapa harian di Madrid, Spanyol, dan sejumlah harian di Australia.

Rudy Wowor meninggal dunia di usia 74 tahun pada tanggal 5 Oktober 2018 di Rumah Sakit Meilia, Cimanggis, Depok karena penyakit kanker prostat yang dideritanya.

3. Ray Sahetapy

Ray SahetapyRay Sahetapy. (Foto: Istimewa)

Ray Sahetapy lahir di Donggala, Sulawesi Tengah, pada tanggal 1 Januari 1957.Pemilik nama lengkap Ferenc Raymond Sahetapy itu adalah salah satu aktor antagonis yang dimiliki Indonesia sampai saat ini. 

Tidak hanya bermain peran di berbagai film layar lebar, Ray memasuki ranah hiburan di televisi dengan bermain sinetron maupun sitkom. Selain itu, dia juga tercatat menggeluti dunia teater.

Sejak remaja, pria berdarah Maluku ini bercita-cita menjadi aktor. Demi mengejar impiannya, Ray meneruskan kuliah Institut Kesenian Jakarta pada 1977, seangkatan dengan Deddy Mizwar dan Didik Nini Thowok.

Ray lulus tahun 1988 dan bermain dalam film perdananya berjudul Majalah Gadis arahan sutradara Nya' Abbas Akup.

Dalam film tersebut Ray bertemu dengan Dewi Yull, istri pertamanya. Setelah itu Ray bermain di film Kabut Ungu di Bibir Pantai, Dukun Ilmu Hitam (1981), Sejuta Serat Sutra (1982), Darah dan Mahkota (1983), Tirai Kasih, Secangkir Kopi Pahit, Hati Seorang Perawan, Pelangi di Balik Awan, Kerikil-Kerikil Tajam, Kabut Perkawinan (1984).

Lewat film Noesa Penida (1988) garapan Galeb Husen dan ditulis Asrul Sani ini, Ray dinominasikan sebagai aktor terbaik pada FFI 1989. Selain melalui Noesa Penida, Ray pernah dinominasikan sebanyak tujuh kali di ajang yang sama, yakni melalui film Ponirah Terpidana (FFI 1984), Secangkir Kopi Pahit (FFI 1985), Kerikil-Kerikil Tajam (FFI 1985), Opera Jakarta (FFI 1986), Tatkala Mimpi Berakhir (FFI 1988), dan Jangan Bilang Siapa-Siapa (FFI 1990).

Pada pertengahan tahun 2015 lalu, Ray membuat geger jagat maya lantaran isyu kalau dirinya akan bermain di film garapan Marvel, Avengers Age of Ultron. Salah satu karakter terbaik yang pernah ia perankan adalah sebagai Bos Apartemen di film The Raid, yang tayang pada tahun 2012 silam. []

Berita terkait