Jakarta, (Tagar 9/6/2018) – Selain Susi Pudjiastuti dan Sri Mulyani, ini Retno Marsudi srikandi pilihan Presiden Joko Widodo. Tubuhnya terlihat mungil ketika berada di antara para menteri luar negeri asing yang rata-rata besar dan jangkung, tapi kesahajaannya tidak bisa dipungkiri. 

Ia dihormati oleh rekan-rekannya sesama menteri luar negeri dan dijuluki wanita besi. Julukan yang sama diberikan kepada mantan Perdana menteri Inggris, Margaret Tatcher.

Di balik badan imutnya terkandung nyali besar yang membuat lawannya surut. Di antara kegagahan Retno Marsudi di antaranya Arab Saudi pernah merasakan gertakannya ketika mencoba mengajak Indonesia masuk dalam koalisi antiteroris. Retno menolak dengan tegas karena tahu 'teroris' yang dimaksud Saudi adalah organisasi dan negara yang menentang mereka, dan Indonesia akan diajak masuk dalam kemelut Timur Tengah.

Israel pun tidak bisa menahan langkahnya. Retno dengan berani terbang ke Palestina meski mendapat ancaman dari Israel. Ia melantik konsul kehormatan di Ramallah sebagai bagian dari komitmen Indonesia terhadap kemerdekaan Palestina.

Kini Retno Marsudi kembali menarik perhatian, Indonesia terpilih sebagai anggota tidak tetap Dewan Kemanan Perserikatan Bangsa-bangsa (DK PBB). Dan Retno menyatakan komitmen Indonesia yang cinta damai dengan tetap memperjuangkan kemerdekaan Palestina.

"Alhamdulillah di dalam Majelis Umum PBB, Indonesia terpilih sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB mewakili kawasan Asia-Pasifik menggantikan Kazakhstan yang masa keanggotaannya akan berakhir pada akhir 2018," ujar Menlu Retno melalui konferensi video langsung di Jakarta, Jumat (8/6).

Ia juga memastikan bahwa isu Palestina akan menjadi perhatian Indonesia selama Indonesia menjadi anggota di Dewan Keamanan PBB.

Menlu Retno dalam sambutannya saat menghadiri Resepsi Diplomatik pencalonan Indonesia jelang pemilihan anggota DK PBB di Markas Besar PBB di New York, Amerika Serikat, Rabu (6/6) meyakinkan para duta besar dan diplomat negara sahabat mengenai komitmen Indonesia sebagai mitra sejati perdamaian dunia dalam berkontribusi untuk perdamaian dan kestabilan dunia.

Ia menjelaskan kampanye Indonesia untuk DK PBB telah dimulai sejak peluncurannya pada 2016 di New York dan selalu mengusung prioritas Indonesia untuk menciptakan ekosistem perdamaian dan stabilitas global, memastikan sinergi antara melanggengkan perdamaian dan agenda pembangunan berkelanjutan, dan memerangi terorisme, radikalisme dan ekstremisme.

Menurutnya Indonesia memiliki rekam jejak yang baik untuk mencalonkan diri sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) periode 2019-2020.

Rekam jejak Indonesia bagi perdamaian, kemanusiaan dan kesejahteraan global, jelasnya, dapat dilihat dari berbagai aksi dan kontribusi yang dibangun dalam beberapa dekade.

Terkait isu kemanusiaan, Menlu Retno menjelaskan Indonesia hadir dan berada di depan saat negara-negara anggota PBB membutuhkan bantuan kemanusiaan, termasuk pada saat bencana alam di Haiti, Fiji dan Nepal.

Selain itu, Menlu RI menyebutkan tentang kontribusi para pegiat kemanusiaan Indonesia, yang saat ini berada antara lain di Cox Bazaar, Rakhine State, Gaza dan Marawi.

Terkait dengan kontribusi Indonesia terhadap perdamaian dunia, Menlu RI mengutarakan fakta mengenai ribuan anggota pasukan perdamaian Indonesia yang saat ini bertugas di berbagai misi perdamaian PBB di seluruh dunia.

Menurut dia, hal-hal tersebut merupakan sebagian contoh dari kontribusi Indonesia, dan pemerintah Indonesia berkomitmen untuk terus berkontribusi bagi upaya perdamaian dan kesejahteraan dunia.

"Rekam jejak suatu negara tidak dapat dibentuk dalam satu hari atau bulan," tutur Menlu Retno.

Retno Marsudi - JokowiMenteri Luar Negeri Retno Marsudi dan Presiden Joko Widodo. (Foto: Antara/Rosa Panggabean)

Perempuan Pertama

Retno Marsudi memecahkan rekor sebagai menteri luar negeri perempuan pertama sepanjang sejarah Republik Indonesia. Ia dipilih Presiden Jokowi untuk menempati posisi Menteri Luar Negeri dalam Kabinet Kerja sejak 27 Oktober 2014. Sebelumnya ia adalah Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Belanda di Den Haag.

Nama lengkapnya Retno Lestari Priansari. Nama 'Marsudi' yang melekat di belakang nama 'Retno' adalah nama belakang suaminya, Agus Marsudi.

Ia lahir di Semarang, Jawa Tengah, 27 November 1962, menempuh pendidikan menengah atas di SMA Negeri 3 Semarang, memperoleh gelar S1 di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, pada 1985, kemudian memperoleh gelar S2 Hukum Uni Eropa di Haagse Hogeschool, Belanda.

Retno kemudian bergabung dengan Kementerian Luar Negeri Indonesia. Dari tahun 1997 hingga 2001 Retno menjabat sebagai sekretaris satu bidang ekonomi di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Den Haag, Belanda. Pada 2001 ia ditunjuk sebagai Direktur Eropa dan Amerika. Retno dipromosikan menjadi Direktur Eropa Barat pada tahun 2003.

Pada 2005 ia diangkat sebagai Duta Besar Indonesia untuk Norwegia dan Islandia. Selama masa tugasnya, ia memperoleh penghargaan Order of Merit dari Raja Norwegia pada Desember 2011, menjadikannya orang Indonesia pertama yang memperoleh penghargaan tersebut.

Selain itu ia juga sempat mendalami studi hak asasi manusia di Universitas Oslo. Sebelum masa baktinya selesai, Retno dikirim kembali ke Jakarta untuk menjadi Direktur Jenderal Eropa dan Amerika, yang bertanggung jawab mengawasi hubungan Indonesia dengan 82 negara di Eropa dan Amerika.

Retno kemudian dikirim sebagai Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Belanda pada tahun 2012, hingga pada 2014 Presiden Jokowi memanggilnya untuk pulang, untuk menempati pos Menteri Luar Negeri di Kabinet Kerja.

Ia pernah memimpin berbagai negosiasi multilateral dan konsultasi bilateral dengan Uni Eropa, ASEM (Asia-Europe Meeting) dan FEALAC (Forum for East Asia-Latin America Cooperation).

Pada 2017, Retno mendapatkan penghargaan sebagai agen perubahan di bidang Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan. Penghargaan tersebut diberikan oleh UN Women dan Partnership Global Forum (PGF). 

UN Women adalah lembaga PBB yang bertugas memajukan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Sementara PGF adalah lembaga non-profit yang bertujuan memajukan kemitraan inovatif bagi pembangunan. 

Penghargaan itu diserahkan oleh Asisten Sekretaris Jenderal PBB yang juga selaku Deputi Direktur Eksekutif UN Women Lakhsmi Puri pada acara jamuan makan siang di sela pelaksanaan Sidang Majelis Umum PBB ke-72 di Markas Besar PBB, New York.

Retno Marsudi dan SuamiRetno Marsudi bersama suami, Agus Marsudi. (Foto: Dok. Retno Marsudi)

Ibu Dua Anak

Retno menikah dengan Agus Marsudi, seorang arsitek, dan dikaruniai dua anak laki-laki, yaitu Dyota Marsudi dan Bagas Marsudi.

Disela acara 'Panggung Para Perempuan Kartini' di Museum Bank Indonesia, Selasa 11 April 2017, Retno bercerita bahwa anak pertamanya sudah menikah, tinggal di Singapura, dan yang kedua dokter. 

"Anak kami sudah besar dan lebih mudah untuk mengelola," katanya kala itu.

Dulu waktu anak-anaknya kecil, Retno menambahkan, ia dan suaminya berbagi waktu  dan emosi untuk anak-anak, keluarga, dan pekerjaan.

Ia mengaku beruntung tumbuh dalam keluarga dimana perempuan terbiasa bekerja. 

"Lingkungan saya sangat perempuan friendly," katanya. Ia menyebutkan bapak dan ibunya mendukungnya sebagai perempuan bekerja.

"Di keluarga ibu, semua perempuannya bekerja, memiliki profesi," katanya.

Agus Marsudi sang suami, sebut Retno, juga memberikan kesempatan yang besar baginya untuk bekerja.

"Suami saya malaikat, dalam arti dia tidak pernah memberikan batasan apa pun kepada saya. Dia hanya bingung kalau saya sakit," ujarnya.

Retno Marsudi - Elek Yo BandRetno Marsudi bersama personel kelompok musik Kabinet Kerja 'Elek Yo Band'. (Foto: Instagram/Triawan Munaf)

Vokalis 'Elek Yo Band'

Retno Marsudi tidak melulu terlihat serius. Penampilannya sebagai vokalis dalam kelompok musik Kabinet Kerja 'Elek Yo Band' seketika mencairkan suasana.

Ia menceritakan kegembiraannya tampil bersama 'Elek Yo Band' di Java Jazz, di Jiexpo, Kemayoran, Jakarta Pusat, Jumat (2/3) malam. 

"Semua orang gembira, musik mempersatukan kita semua," katanya di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (5/3). 

"Karena latar belakang saya diplomat, maka tentu musik ini tujuannya untuk perdamaian," lanjutnya.

Personel 'Elek Yo Band' yaitu dua srikandi Kabinet Kerja, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dan Menteri Keuangan Sri Mulyani tampil sebagai vokalis. Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono penggebuk drum. Kepala Badan Ekonomi dan Industri Kreatif Triawan Munaf pegang keyboard. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi sebagai bassist, Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dakari sebagai gitaris dan vokalis utama.

Sebagai Menteri Luar Negeri, Retno melakukan segala sesuatu dengan tujuan terciptanya perdamaian dunia. 

Ia harus menyelaraskan antara keinginan Presiden untuk membawa nama Indonesia lebih dikenal di luar negeri, tetapi ia juga diminta untuk memperhatikan kedaulatan Indonesia dalam menentukan sikap. 

Arah kebijakan politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif ditengah terbelahnya kekuatan dunia menjadi dua (blok timur dan blok barat) memang tidak mudah. Membutuhkan keahlian tertentu bagaimana mempertahankan diri di antara gelombang dua kekuatan dunia yang sedang berhadapan.

Prinsip Indonesia tidak bisa lagi mengusung konsep 'banyak teman dan tidak ada musuh' seperti yang diusung pemerintahan sebelumnya. Jokowi sudah menetapkan pandangan politik luar negerinya, "Semua negara adalah teman sampai mereka mengganggu kedaulatan Indonesia."

Dan tugas besar itu Jokowi mempercayakannya pada Retno Marsudi. (af)