Editor : Syaiful W Harahap
Aziz Narang (Foto: Dok/Ist)
Refleksi 61 Tahun Golkar, Saatnya Kembali ke Khittah: Apakah Kepemimpinan Perlu Dievaluasi?
20 October 2025 | 11:52

TAGAR.id - Tanggal 20 Oktober 2025 menandai 61 tahun lahirnya Partai Golkar. Ini sebuah momentum yang tidak hanya dirayakan secara seremonial saja, melainkan juga perlu dijadikan refleksi kritis tentang apa dan bagaimana motivasi sejarah kelahirannya dan tujuannya dilahirkan.

Terkait dengan refleksi kritis itu, seorang tokoh muda kader Partai Golkar, Azis Narang, berbincang dengan ‘Tagar’ Minggu (19/10/2025) sore di Jakarta. Azis adalah salah satu Wakil Sekjen SOKSI di bidang Pendidikan Politik Kader Bangsa -organisasi yang lahir dari ‘rahim’ TNI AD pada 20 Mei 1960 didirikan oleh Mayjen TNI (Purn) Prof. Dr. Suhardiman, tokoh pendiri Sekber Golkar pada 20 Oktober 1964 dan mantan Wasekjen DPP KNPI.

Dalam refleksi kritis ini, Azis Narang mengawalinya dengan pertanyaan besar: “Apakah Partai Golkar hari ini memerankan dirinya masih sebagai kekuatan ideologis politik karya kekaryaan untuk membangun negara sebagaimana doktrin perjuangannya yang jadi jatidirinya atau khittahnya?

Azis juga mengingatkan fakta sejarah, mengapa Golkar lahir bukan sebagai partai politik. Setiap kader tentu memahami Golkar lahir sebagai bentuk kritik keras dan koreksi terhadap partai-partai politik yang ketika itu berorientasi kepada kekuasaan semata. Jadi, politik Golkar bukan politik kekuasaan tetapi adalah politik negara yang berorientasi karya kekaryaan sebagai implementasi Pancasila untuk membangun negara.

Doktrinnya “karya siaga gatra praja” dan Golkar adalah “Benteng Pancasila.” Bagi Aziz, Golkar sebagai kekuatan sosial politik yang eksis dengan platform politik mengawal tegak utuhnya NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 terutama dari ancaman PKI ketika itu.

Artikel Asli