Jakarta, (Tagar 14/9/2018) - Pasangan bakal calon presiden dan calon wakil presiden RI, Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno membangun narasi ekonomi Indonesia dalam keadaan sulit, suram, sedang mengalami turbulensi jelang Pilpres 2019.

Mereka akan membentuk tim khusus mengatasi turbulensi ekonomi yang terjadi saat ini.

"Kita akan membentuk tim khusus untuk turbulensi ekonomi ini," kata Sandiaga di kediaman Prabowo di Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan, Kamis malam (13/9) dilansir Antara.

Sandi mengatakan, tim tersebut bertugas untuk mengambil langkah-langkah apa yang harus dilakukan untuk mengatasi masalah ekonomi yang terjadi.

Harapannya masyarakat ini bersatu, kata Sandi, agar permasalahan bangsa ini bisa dikanalisasi dan tidak terperosok lagi masuk ke hal-hal yang lebih pesimis sehingga tingkat kepercayaan masyarakat terhadap ekonomi dan kepercayaan masyarakat terhadap lapangan pekerjaan ke depan semakin tidak tergerus.

Mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta ini mengatakan saat ini Indonesia memang belum masuk ke krisis ekonomi, masih pada tahap turbulensi ekonomi.

"Mari, Pak Prabowo mengajak kita untuk bersatu padu. Talenta-talenta terbaik bangsa kita berkumpul untuk memberikan solusi khususnya lapangan kerja ini," kata Sandiaga.

Ditambahkannya bahwa isu ekonomi yang dihadapi di masyarakat khususnya di lapisan menengah, dan menengah ke bawah adalah isu yang berkenaan dengan kepercayaan mereka, optimisme yang hampir tidak ada. Jadi yang bisa dilihat bahwa sekarang level kepercayaan masyarkat, atas ketersediaan lapangan kerja itu sudah masuk ke level yang pesimis.

Pihaknya saat ini lagi mencoba melihat data-data yang bisa dibuat referensi terutama data yang dirilis Bank Indonesia. 

Seperti indeks agar kepercayaan masyarakat terhadap lapangan kerja, apakah masih tersedia, dan sikap itu masuk ke level pesimis.

"Ini saya laporkan ke Pak Prabowo dan Pak Prabowo mengatakan ini harus digali terus oleh tim ekonomi kita, Pak Kwik Kian Gie yang salah satunya kita minta untuk mendalami tentang lapangan pekerjaan yang menjadi kekhawatiran masyarakat itu," kata Sandiaga.

Seratus Ribu Rupiah

Prabowo-Sandi dan orang-orang di barisan koalisi memproduksi pernyataan-pernyataan untuk mendukung narasi ekonomi sulit; bahwa dengan naiknya dolar, telur mahal, tempe setipis kartu ATM, seratus ribu rupiah ke pasar cuma dapat cabe dan bawang, ikan asin mahal. 

Pernyataan-pernyataan mereka dinilai tidak sesuai fakta di lapangan sehingga mengundang bantahan dari masyarakat. 

Netizen Neny Silvana misalnya. Ibu tiga anak ini membantah bahwa dengan uang Rp 100 ribu hanya dapat cabe dan bawang. 

Sebelumnya, Sandiaga Uno mengaku banyak mendengar keluhan warga lantaran naiknya nilai tukar dolar yang diikuti naiknya bahan pokok. Saat berkunjung ke Riau, ia bercerita ada ibu-ibu bertengkar dengan suaminya karena uang belanja.

"Di Pekanbaru Ibu Lia cekcok sama suaminya gara-gara uang belanja dikasih Rp 100 ribu, pulang cuma bawa bawang sama cabe. Kita bicara ini lepas dari politik praktis, warga terbebani," kata Sandiaga di kawasan Bulungan, Jaksel, Rabu pekan lalu.

Neny SilvanaBelanjaan senilai Rp 29.000 sebelum dan sesudah dimasak. (Foto: Facebook/Neny Silvana)

Neny Silvana mengunggah foto belanjaan di Facebook dengan catatan sebagai berikut:

"Dengan pro dan kontra uang Rp 100 ribu dapat apa. Sebagai ibu rumah tangga yang tiap hari masak dan sering belanja sayur kok saya jadi pengin ikutan sharing ya.

Dengan menu sayur tumis oyong, tongkol balado, telur dadar, dan tempe goreng/oseng cabe kecap, total uang yang saya keluarkan Rp 29.000 sudah bisa untuk makan sekeluarga.

Beli di Mang Nanang tukang sayur yang lewat depan rumah (duh lupa motret orangnya. Tapi saya ada nomor WhatsAppnya kalau ada yang nyinyir pengin ngecek)

Cabe tanjung 1ons Rp 3.000

Cabe rawit Rp 1.000

Tomat 3 buah Rp 2.000

Tempe 2 potong Rp 5.000

Pindang tongkol Rp 10.000

Oyong Rp 2.000

Toge Rp 1.000

Telur 3 butir Rp 5000 (sekilo Rp 22 ribu isi 14)

Daun bawang sisa kemarin di kulkas.

Alhamdulillah saya bersyukur tinggal di Indonesia, negeri yang kaya raya, penduduknya ramah-tamah, pangan masih relatif murah dan terjangkau, lapangan kerja juga masih lebih mudah dibandingkan dengan negara lain.

Meskipun nilai mata uang tidak sebesar negara lain, tapi coba bayangkan, kemudahan kerja bagi kita masih lebih enak. Anggaplah kita tidak berpendidikan tinggi pun di halaman rumah, keliling kompleks, atau di pinggir jalan masih bisa mencari rezeki.

Masih bisa jualan gorengan, jualan nasi uduk, nasi kuning, lontong sayur dll. Coba kalau di negara lain seperti Singapura, Malaysia, Arab, sudah dauber-uber Satpol PP. Kalau di kita, asal mau capek dan berusaha jualan masakan matang di rumah atau di pasar juga bisa.

Sudah segitu aja curhat emak....

Mau packing-packing cuzzz holiday besok ke Yogya. Insya Allah berapa pun rezeki yang kita miliki, jika kita bersyukur dan bisa mengelolanya dengan sederhana akan cukup.

Selamat pagi....

Semangat menyambut hari dan menjemput rezeki.

#HappyMom #SukaMasak #SederhanaItuBahagia.”

Setelah selesai memasak, Neny Silvana mengunggah hidangan hasil masakannya. Dan ia kembali membuat catatan:

"Taraaaa...

Sambil masak lalu lalang nyambi nyuci, nyapu, beberes, akhirnya matang juga masakan untuk keluarga. Dibuat dengan penuh kasih sayang, dijamin enak.

Belanja nggak perlu mahal, hanya Rp 29.000 saja. Menu lengkap, sederhana tapi nikmat.

Tadi di kulkas emak lihat ada jagung 1 buah dan tepung bumbu 1 bungkus (dengan perhitungan jagung Rp 2.500, tepung bumbu Rp 2.500) jadilah tambahan perkedel jagung.

Duh… andai emak jadi Bu Lia uang Rp 100 ribu dari suami untuk beli bawang dan cabe aja, pastilah dikasih uang belanjanya Rp 500 ribu sehari akan banyak sisanya. Emak tiap bulan bisa traveling deh.

Stop ngayal....

Intinya syukuri seberapa yang kita miliki, olah sesusai kemampuan kita, dan berbaik sangka untuk banyak hal agar hati bersih dan bahagia.

Yuk makan sama-sama."

Netizen lain, Risa Prihartono menulis di akun Facebooknya, "‪Para perempuan yang menyebut diri mereka emak-emak itu mempersoalkan uang 100 ribu nggak dapat apa-apa. Sementara emak-emak lain bilang 100 ribu dapat bermacam-macam bahan makanan. ‪Jadi perempuan soleha yang mana? Yang selalu kurang atau yang bisa bersyukur?"

"Tips mencari istri: Kalau mau cari istri, pilihlah pendukung Jokowi. Dengan 100 ribu rupiah, mereka bisa belanja macam-macam. Tetapi dengan uang yang sama pendukung Prabowo cuma bisa beli cabe dan bawang!" tulis netizen Amin Mudzakkir. 

"Jika istrimu dikasih duit belanja 100 ribu, hanya cukup beli cabe dan bawang, 'Hai manusia, sesungguhnya yang harus diganti itu istrimu! bukan Presiden' Riwayat De Fatah," tulis netizen De Fatah.

TahuPekerja memproduksi tahu di salah satu industri rumahan sentra Tahu dan Tempe, kawasan Macan Lindungan Palembang,Sumsel, Rabu (12/9/2018). Pelaku industri produk berbahan kedelai setempat mengaku belum ada imbas pada harga kedelai dari lemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS karena harga yang tergolong stabil yaitu dalam kisaran Rp 7.400 per kilogram. (Foto: Antara/Feny Selly)

Ikan Asin

Pada Rabu (12/9) bakal calon presiden Prabowo Subianto dan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono sepakat pada kampanye Pemilihan Presiden 2019 yang dimulai 23 September mendatang memfokuskan pada persoalan ekonomi masyarakat.

"Kami sepakat untuk fokus kampanye mengutamakan kepentingan rakyat terutama dalam situasi ekonomi yang dirasakan sekarang beban rakyat terutama rakyat kecil, karena itu kita akan fokus ke arah itu," kata Prabowo usai menemui SBY di kediamannya di Kawasan Kuningan, Jakarta, Rabu malam.

Dia mengatakan dalam pertemuan yang juga dihadiri bakal calon wakil presiden Sandiaga Uno itu, dirinya meminta SBY untuk mengirimkan kader Demokrat yang berpengalaman di bidang ekonomi dan pemerintahan untuk menjadi tim pakar pasangan Prabowo-Sandiaga.

Prabowo dan Sandiaga ingin memiliki tim pakar yang kuat di bidang pengelolaan ekonomi.

"Lapangan kerja, harga pangan yang harus benar-benar diurus dengan baik, tentu harga itu adalah akibat dari produksi. Kalau produksi tidak ada dan pasokan tidak ada maka harga pasti tinggi, itu hukum ekonomi paling dasar," ujarnya.

Dia mengatakan, dirinya, Sandiaga, SBY dan tim koalisi Prabowo-Sandiaga sudah keliling Indonesia, mendapatkan kondisi ekonomi masyarakat seperti harga telur tinggi, harga tempe naik bahkan harga ikan asin masih tinggi.

Menurut dia, makanan seperti telur, tempe dan ikan asin merupakan makanan masyarakat sehingga ketika ketiganya masih tinggi maka kondisi itu jangan dianggap remeh.

"Untuk itu saya ingin kumpulkan otak-otak terbaik di negara kita, the bright and the brightest brain di republik kita agar menjadi tim pakar untuk memberi nasihat, langkah yang harus diambil," katanya.

Menanggapi narasi Prabowo, netizen Hasanudin Abdurakhman menulis di Facebooknya, "Prabowo nyuruh Fadli beli ikan asin. Fadli pergi beli ke Singapura, naik pesawat business class. Semua pakai duit Prabowo. Kesimpulan: ikan asin mahal."

Sebelumnya, anggota Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera Tifatul Sembiring yang juga Menteri Komunikasi dan Informatika zama pemerintahan SBY, mengatakan bahwa harga telur mahal. 

"Ya memang keluhan itu di bawah banyak ya, kita yang anggota DPR terjun ke masyarakat kemudian berdialog dengan masyarakat banyak keluhan itu. Tarif listrik naik gitu kan kemudian harga bahan bakar naik dan harga-harga juga sudah menaik terutama telor, biasanya makan apa? telor ceplok aja, sekarang enggak berani, udah separuh telurnya sekarang. DPR pun nasi kotaknya telurnya separuh sekarang, kena imbasnya juga," kata Tifatul pertengahan Agustus lalu.

Netizen Eko Kuntadhi menyebut Tifatul berlebihan, "Orang-orang PKS ini memang selalu hiperbolik dan berlebihan. Norak, senorak-noraknya. Masa mantan menteri gak sanggup beli telur dan teriak-teriak miskin. Padahal kenaikan telur hanya terjadi kemarin pasca hari raya. Siklusnya wajar saja. Di jaman SBY, sepuluh tahun Departemen Pertanian dikuasai PKS. Boro-boro mikirin mau membuat petani dan peternak sejahtera. Tidak dibangun pondasi untuk kemajuan peternak dan petani. Malah mereka memanfaatkan posisi untuk mencari rente dari impor sapi. Presiden PKS diseret ke penjara 18 tahun gara-gara nyolong duit akibat impor sapi ini."

Makro dan Mikro

Pengamat politik Sirojuddin Abbas menilai wajar pasangan capres-cawapres, Prabowo-Sandi membangun narasi ekonomi sulit. Ia juga menganggap wajar pandangan masyarakat yang membantah pernyataan-pernyataan Prabowo-Sandi dan orang-orang di barisan partai koalisi pendukungnya. 

Menurut Sirojuddin, dua belah pihak tersebut sama-sama ada benarnya. 

"Biasa saja. Nggak ada yang aneh," katanya pada Tagar News, Jumat siang (14/9).

Mengenai ekonomi sulit seperti dikatakan Prabowo, kata Sirojuddin, tergantung bagaimana melihatnya. 

"Mereka (Prabowo cs) tentu berhak mengkritik, berhak berbeda pandangan dengan pemerintah mengenai kondisi ekonomi. Sebaliknya, apa yang disampaikan masyarakat tersebut juga benar," katanya. 

Ia menjelaskan, dari sisi makro, apa yang dikatakan Prabowo bahwa ekonomi sulit adalah benar.

"Indonesia sedang berada di bawah tekanan karena persoalan yang lebih besar, karena perang dagang antara Amerika Serikat dan China. Dolar naik, rupiah merosot berdampak juga bagi pengusaha. Harga minyak nasional naik, pemerintah kasih subsidi besar-besaran, sehingga harga konsumen tidak berubah, beban di pemerintah," urai Sirojuddin. 

Masyarakat yang membantah pernyataan Prabowo-Sandi juga benar. 

"Mereka juga benar dari perspektif mikro. Masyarakat merujuk harga kebutuhan pokok  memang tidak banyak berubah karena pemerintah mengucurkan dana cukup besar untuk menjaga harga tetap stabil di tingkat konsumen," jelas Sirojuddin. []