UNTUK INDONESIA
Polri Minta Pilkada 2018 Tidak Gunakan Isu SARA
Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Polri Brigjen Pol Rikwanto meminta pihak-pihak yang terlibat dalam Pilkada 2018 mendatang agar tidak menggunakan isu SARA sebagai strategi dalam memenangkan calonnya.
Brigjen Rikwanto (Foto: Ist)

Baubau, Sultra, (Tagar 18/5/2017) - Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Polri Brigjen Pol Rikwanto meminta pihak-pihak yang terlibat dalam Pilkada 2018 mendatang agar tidak menggunakan isu SARA sebagai strategi dalam memenangkan calonnya.

"Jangan pernah gunakan SARA dalam Pilkada, dulu sangat dilarang. Tapi Pilkada DKI menggunakan hal itu. Ke depan jangan gunakan SARA untuk Pilkada," kata Rikwanto, dalam acara bertajuk Antisipasi Intoleransi dan Paham Radikalisme untuk Mempertahankan Keutuhan NKRI, di Baubau, Sultra, Kamis (18/5).

Ia merujuk pada isu SARA begitu kental disuarakan berbagai pihak dalam Pilkada DKI Jakarta pada 2017.

Dalam Pilkada DKI Jakarta 2017, banyak kata-kata hujatan yang disuarakan di media sosial. Pihaknya menyayangkan terjadinya hal tersebut.

"Sangat menyakitkan muncul kata kafir, munafik, tidak boleh dishalatkan. Katanya, perkara kafir ada di dalam Al Quran. Tapi apa kamu bijak dengan teriak-teriak kafir? Misal, ada tetangga sakit AIDS apa kita harus teriak-teriak? Kita perlu arif, bijaksana," ucapnya.

Pihaknya meminta masyarakat berhati-hati dalam menggunakan media sosial sehingga tidak mudah terbawa arus yang dapat mengakibatkan perpecahan di masyarakat.

"Hati-hati menggunakan media sosial, pererat persatuan. Intensifkan diskusi, hargai perbedaan pendapat," tuturnya.

Menurut dia, perbedaan pendapat dapat diselesaikan dengan komunikasi yang baik. Bila komunikasi dilakukan secara intensif dan pihak yang berbeda pendapat mau menghargai pendapat orang lain yang berbeda, maka tidak akan ada lagi pihak-pihak yang saling serang pendapat seperti yang kerap terjadi akhir-akhir ini.

"Masalah di mana pun, mulai masalah keluarga sampai masalah bernegara, itu terjadi karena kurang komunikasi, sehingga jadi curiga, jaga jarak, muncul cemburu, hasad hasut, ditambah pengaruh arus informasi teknologi informasi," ujarnya.

Menurut dia, saat ini banyak orang yang enggan mencari persamaan satu sama lain tetapi malah memperlebar jurang perbedaan.

"Jadi bukan menghargai perbedaan, tapi malah memperlebar jurang perbedaan," katanya. (Fet/Ant)

Berita terkait
0
Diganggu OPM, Ratusan Warga Tembagapura Mengungsi
Ratusan warga Kampung Kimbeli di Distrik Tembagapura, Timika Papua, kembali mengungsi, mereka mengungsi karena diteror KKB.