Editor : Mila Yefriza
Ilustrasi - Perkembangan Banjir Aceh Tamiang.(Footo: Tagar/Dok istimewa)
Perkembangan Banjir Aceh Tamiang: Kondisi Darurat, Mobilisasi Penanganan, dan Pentingnya Pemantauan Publik
2 December 2025 | 10:35

TAGAR.id, Jakarta - Kabupaten Aceh Tamiang, salah satu anggota Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL) mengalami banjir dengan intensitas tinggi yang menimbulkan dampak kemanusiaan luas. Curah hujan ekstrem, angin kencang, dan kondisi geologi yang labil memicu luapan sungai, genangan di permukiman, titik longsor, dan kerusakan infrastruktur dan melumpuhkan mobilitas masyarakat.

Ketua Umum LTKL sekaligus Bupati Kabupaten Sigi, Rizal Intjenae menyampaikan keprihatinan mendalam atas bencana banjir bandang yang melanda banyak daerah di Sumatera, termasuk salah satunya Aceh Tamiang. “Bencana hidrometeorologi yang terjadi di sejumlah kabupaten di Sumatera, termasuk Aceh Tamiang, mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan dan perhatian kolektif. Situasi yang dihadapi masyarakat saat ini sungguh memprihatinkan, dan dukungan dari berbagai pihak sangat diperlukan agar penanganan dapat berlangsung lebih cepat dan tepat sasaran. Namun, hal ini akan menjadi perhatian kami ke depan untuk bersama-sama dalam perbaikan tata kelola lahan yang berkelanjutan dan membangun daerah yang tangguh bencana,” katanya.

Menyikapi situasi yang kian memburuk, Gubernur Aceh Muzakir Manaf menetapkan status tanggap darurat bencana hidrometeorologi di Aceh Tahun 2025. Status ini berlaku selama 14 hari, mulai 28 November hingga 11 Desember 2025, dan menjadi dasar mobilisasi penanganan lintas kabupaten yang dikoordinasikan oleh Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA).

Aceh Tamiang termasuk dalam 14 Kabupaten/Kota dengan status darurat bencana hidrometeorologi. Pidie, Lhokseumawe, Subulussalam, Aceh Besar, Aceh Jaya, Aceh Singkil, Aceh Selatan, Gayo Lues, Aceh Barat, Aceh Tenggara, Aceh Tengah, Aceh Utara dan Aceh Barat Daya juga masuk dalam wilayah yang ditetapkan.

Kota Kualasimpang, salah satu pusat kegiatan utama di Aceh Tamiang, dilaporkan lumpuh pada 26 November 2025 dengan ketinggian air mencapai tiga meter di sejumlah titik. Rumah warga, fasilitas umum, serta jaringan kelistrikan turut terdampak oleh banjir dan angin kencang yang merobohkan sejumlah infrastruktur. Bupati Aceh Tamiang, Armia Pahmi yang memimpin langsung operasi pengendalian bencana menyebut ada 70 rumah yang terendam banjir di daerah ini.

Artikel Asli