UNTUK INDONESIA
Percakapan Terakhir Korban Mutilasi Kalibata kepada Ibunda
Sebelum meninggal, Rinaldi Harley, korban mutilasi sempat berbincang dengan ibunya melalui ponsel. Berikut isi percakapaan terakhirnya.
Sulistyani, Ibunda Rinaldi, saat menemui Kepala Sekolah SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta Slamet Purwo bertakziah di rumah duka di Sleman. (Foto: Humas SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta/Tagar)

Slaman - Rinaldi Harley Wismanu, 32 tahun, lahir di dusun Nologaten, Kelurahan Caturtunggal, Kecamatan Depok, Kabulaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi korban mutilasi. Jenazah korban ditemukan di unit kamar lantai 16 Tower Ebony, Apartemen Kalibata City, Jakarta Selatan pada, Rabu, 16 September 2020.

Sebelum ditemukan meningal dengan cara yang sadis, Manager HRD perusahaan Kontraktor Jepang ini sempat berkomunimasi dengan ibunya yang bernama Sulistyani melalui sambungan telepon pada Rabu, 9 September 2020. Dalam perbincangan terakhir itu, Rinaldi berkeinginan agar kedua orang tuanya segera berangkat Umrah.

Pihak keluarga mengaku tidak merasakan hal yang aneh. Namun ternyata obrolan tersebut justru menjadi perbincangan terakhir Rinaldi dengan keluarga.

Baca Juga:

"Siang itu Om Rinaldy menelepon ibunya. Dia bilang pokoknya ibu harus segera umrah biar saya yang biayai. Sudah ya bu, Har pergi meeting dulu," kata Aden Putera Ichlasul Amal keponakan Rinaldi menirukan perbincangan di telepon, Sabtu, 19 September 2020.

Seusai percakapan tersebut, pihak keluarga mulai putus komunikasi tepatnya pada Rabu malam. Setelah itu pihak keluarga tidak berkomunikasi hingga akhirnya hayatnya. "Pada Sabtu, 12 September 2020 pihak keluarga mendapat kabar bahwa om Rinaldi dinyatakan hilang," ucapnya.

Siang itu Om Rinaldy menelepon ibunya. Dia bilang pokoknya ibu harus segera umrah biar saya yang biayai.

Aden mengaku kaget kala adik Rinaldibernama Muhammad Arif di Jakarta memberikan kabar buruk kepada dirinya. Kabar itu disampaikan melalui pesan WhatsApp. Sejak itu semua keluarga besar pun merasa khawatir dengan keberadaan Rinaldy. "Adik Om Rinaldi yang di Jakarta bilang, beberapa hari om (Rinaldi) tidak kembali ke kamarnya. Itu sejak kami sekeluarga putus komunikasi," ucap Aden.

Aden Putera Ichlasul Amal, Keponakan Korban MutilasiAden Putera Ichlasul Amal keponakan Rinaldi saat ditemui di rumah duka. (Foto: Tagar/Evi Nur Afiah).

Aden juga turut mengenang sosok Rinaldi kepada wartawan. Aden sudah menganggap Rinaldi sebagai kakak kandungnya begitu pun sebaliknya. Dia mengaku sangat kehilangan. "Baik sekali kepada adik-adiknya dan keponakan. Kalau keponakan paling dekat dengan saya. Saya masih enggak nyangka om sudah dipanggil yang Kuasa," ungkap Aden yang tak kuasa menahan tangis.

Baca Juga:

Aden menuturkan bahwa pamannya itu sudah tinggal di Jakarta kurang lebih dua tahun. Selama di ibu kota, Rinaldi memang tinggal di apartemen. Pertama Rinaldi tinggal di apartemen Tamansari Sudirman kemudian pindah karena kontraknya habis. "Sebelumnya di Tamansari Sudirman lalu abis kontrak pindah ke Semanggi," katanya.

Sejak menetap di Jakarta, Aden selalu rutin dua bulan sekali bermain ke apartemen yang ditempati Rinaldi. Biasanya bermain game dan menonton film. "Selama ini ya saya sering main ke apartemennya. Hampir dua bulan sekali saya pasti ke sana. Paling suka om itu nonton film. Kami selalu voting untuk menentukan film yang ingin ditonton. Kebetulan ada adik-adiknya juga di sana," kenang Aden. []

Berita terkait
Rinaldi Harley, Korban Mutilasi Semasa SMA di Yogyakarta
Rinaldi Harley, korban mutilasi Kalibata City Jakarta merupakan alumnus SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta. Berikut kehidupan semasa remajanya.
UGM Berduka: Proses Hukum Pelaku Mutilasi Rinaldi Harley
UGM membenarkan korban mutilasi Kalibata, Rinaldi Harley Wismanu, adalah alumninya. Kampus minta 2 pelaku mutilasi diganjar sesuai hukum yang ada.
Perjalanan Hidup Rinaldi Harley, Korban Mutilasi Kalibata
Rinaldi Harley Wismanu, korban mutilasi Kalibata, lahir di Sleman, Yogyakarta. Sempat ke Jepang dan akhirnya menjadi manajer HRD di Jakarta.
0
Venue Tenis PON Papua Dipalang Warga, Ini Alasannya
Sekelompok warga Port Numbay dari Suku Hamadi memalang akses jalan masuk venue tenis PON XX. Ini penyebabnya