TAGAR.id, Jakarta - Hormuz, selat sempit ini merupakan salah satu jalur energi paling strategis di dunia. Data International Energy Agency menunjukkan, pada 2025 rata-rata sekitar 20 juta barel minyak per hari setara hampir 25 persen perdagangan minyak dunia melalui jalur laut melintasi kawasan ini, dan hampir 20 persen perdagangan gas alam cair (LNG) global juga bergantung pada jalur yang sama. Ketika distribusi energi di kawasan ini terganggu, efeknya tidak berhenti pada lonjakan harga minyak global, tetapi merambat hingga ke sektor pertanian.
Hubungan antara Selat Hormuz dan sektor pertanian Indonesia memang tidak tampak secara kasat mata, tetapi terasa nyata secara ekonomi. Pertanian modern sangat bergantung pada energi, baik untuk produksi pupuk, pengolahan hasil, maupun transportasi. Salah satu contoh paling jelas terdapat pada industri pupuk nitrogen yang menggunakan gas alam sebagai bahan baku utama. Dalam struktur biaya produksinya, komponen gas dapat mencapai 70–80 persen dari total biaya. Ketika pasokan energi global terganggu dan harga gas meningkat, biaya produksi pupuk ikut melonjak.