Jakarta, (Tagar 26/6/2018) - Nurlela dan Dedi Panurib sepasang suami-istri, bekerja sebagai pemulung, tinggal di Depok. Mereka mempunyai anak yang diberi nama Muhammad Rizki, usia tiga tahun. Rizki mengalami stunting, gagal tumbuh akibat kurang gizi kronis.

"Beratnya cuma sembilan kilogram, enggak tinggi-tinggi," kata Nurlela.

Berat badan ideal anak usia tiga tahun adalah 12 kilogram.

"Kadang-kadang saya diomelin kalau lagi di Puskesmas, 'Anaknya dikasih makan apa enggak?' Saya bilang, 'Kasih, Dok'. Begitu ditimbang, kata dokter, 'Kok berat anaknya nggak naik-naik?'"

Dari hasil memulung, keluarga ini mendapat Rp 100 ribu per minggu.

"Ya gimana lagi, paling makan dikurangi. Kalau dapat duit dari orang aja. Dikurangi juga kadang-kadang," kata Nurlela.

Tentang penggunaan uang, ia mengatakan, "Paling beli rokok, buat anak jajan. Kadang beli beras sedapatnya aja."

Dedi merokok satu bungkus per hari, kadang lebih.

"Nggak tentu. Kadang dua bungkus. Kalau banyak teman lebih dari dua. Kalau sendirian, sebungkus cukup," kata Dedi.

Dedi berusaha berhenti merokok, tapi sulit. Ia sadar kebiasaan ini diprotes istrinya.

"Pernah (diprotes), tapi saya diam, enggak banyak omong. Kalau ngebales nanti ujungnya ribut," katanya.

Sepenggal kehidupan Nurlela, Dedi Panurib, dan Muhammad Rizki didokumentasikan dalam sebuah video, ditayangkan dalam acara peluncuran hasil penelitian Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS-UI) bertema Rokok, Stunting, dan Kemiskinan, di Four Points by Sheraton Thamrin, Jakarta, Senin (25/6).

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional menyebutkan satu dari tiga balita di Indonesia menderita stunting, ditandai dengan tubuh pendek. Umumnya penderita rentan terhadap penyakit, kecerdasan di bawah normal, serta produktivitas rendah. Stunting merupakan ancaman nyata ekonomi nasional dan kualitas sumber daya manusia.

Dua Cara

Anggota pengurus Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr Bernie Endyarni Medise, satu di antara pembicara dalam acara peluncuran hasil penelitian PKJS-UI tentang Rokok, Stunting, dan Kemiskinan.

Bernie menjelaskan perilaku merokok pada orangtua berpengaruh pada anak stunting dengan dua cara. Pertama, melalui asap rokok orangtua perokok yang memberi efek langsung pada tumbuh kembang anak.

"Asap rokok mengganggu penyerapan gizi pada anak, yang pada akhirnya mengganggu tumbuh kembangnya," katanya.

Pengaruh perilaku merokok yang kedua, dilihat dari sisi biaya belanja rokok, membuat orangtua mengurangi jatah biaya belanja makanan bergizi, biaya kesehatan, pendidikan.

Penelitian PKJS-UI menunjukkan konsumsi rokok sekitar 3,6 persen pada 1997 melonjak 5,6 persen pada 2014, sedangkan konsumsi lainnya menurun secara signifikan selama 1997 hingga 2014. Artinya peningkatan konsumsi rokok sekitar dua persen telah digantikan oleh penurunan pengeluaran beras, protein, dan sumber lemak, serta pendidikan.

Pengeluaran rumah tangga untuk daging dan ikan menurun sekitar 2,3 persen selama 1997-2014. Padahal seperti ditunjukkan dalam banyak penelitian, jenis pengeluaran ini akan sangat mempengaruhi perkembangan masa depan anak-anak dalam hal berat badan, tinggi badan, dan kemampuan kognitif.

Penelitian PKJS-UI yang berujung pada kesimpulan bahwa konsumsi rokok bisa mengakibatkan anak stunting, dilakukan dengan mengamati berat badan dan tinggi anak-anak berusia di bawah lima tahun pada 2007, dan kemudian melacak mereka pada 2014 secara berurutan untuk mengamati dampak perilaku merokok orangtua dan konsumsi rokok pada stunting. (af)