UNTUK INDONESIA

MIT Gunakan Pola Hit and Run, Teror Natal dan Tahun Baru?

Analis Intelijen dan Terorisme, Stanislaus sebut momentum Natal dan tahun baru selalu dijadikan untuk melakukan aksi teror terhadap masyarakat.
Ilustrasi kelompok terorisme memegang senjata. (Foto: Tagar/Getty Images)

Jakarta - Analis Intelijen dan Terorisme, Stanislaus Riyanta mengatakan pola hit and run, serta taktik gerilya yang digunakan kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora, mempermudah teroris ini bersembunyi.

"Dengan pola hit and run, dan taktik gerilya di hutan Sulteng yang cukup luas dan lebat membuat kelompok tersebut lebih fleksibel dalam bersembunyi," kata Stanislaus dihubungi Tagar, Minggu, 29 November 2020.

Tidak sedikit korban dari aksi teror di tempat ibadah yang sudah terjadi saat momentum natal dan tahun baru

Menurutnya, perbuatan yang dilakukan kelompok teroris ini memperlihatkan bahwa MIT anti dengan perbedaan.

Lebih lanjut, kata Stanislaus, momentum Natal dan tahun baru selalu dijadikan untuk melakukan aksi teror terhadap masyarakat.

"Ini memang untuk menunjukkan bahwa mereka anti perbedaan, mereka menganggap yang beda dengan mereka adalah musuh. Tidak sedikit korban dari aksi teror di tempat ibadah yang sudah terjadi saat momentum natal dan tahun baru," ujarnya.

Selain itu, dia berpandangan, pembunuhan terhadap empat orang warga di Desa Lembontonga, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, ini dapat dinilai sebagai aksi balasan atas tertembaknya dua anggota MIT oleh Satgas Tinombala di Kecamatan Bolano Kabupaten Parigi Moutong (17 November 2020).

"Dua DPO tersebut yaitu Wahid alias Aan alias Bojes dan Aziz Arifin alias Aziz, yang sebelumnya sempat terdeteksi berkeliaran di Kota Palu," tuturnya.

"Saat ini jumlah anggota MIT yang berkeliaran di Sulteng sekitar belasan orang dengan perkiraan senjata yang digunakan tiga pucuk senjata laras panjang dan amunisi yang semakin terbatas," ucap Stanislaus menambahkan.

Dia menjelaskan, medan yang cukup berat membuat aparat keamanan kesulitan menumpas para kelompok teroris tersebut.

"Medan yang cukup berat, hutannya luas, selain itu seringkali mereka juga bersembunyi di masyarakat, dan masyarakat tidak berani lapor karena selalu diancam," ucap dia.

Untuk mengatasi itu, lantas dia menyarankan agar dilakukan penguatan terhadap Satgas Tinombala dan Intelijen di wilayah Sulteng.

"Kerja sama TNI, Polri dan BIN harus lebih erat untuk memberantas MIT. Aparat keamanan harus hadir di masyarakat agar tidak terjadi ketakutan dan situasi kondusif. Tanpa peran serta masyarakat pemberantasan MIT akan sulit," kata Stanislaus.[]

Berita terkait
Pengamat: Tindak Pembantaian 4 Warga Sigi dengan UU Terorisme
Peristiwa pembantaian sadis empat warga di Sigi, Sulawesi Tengah, mendapat sorotan dari pengamat keamanan Dr Jannus TH Siahaan.
Teroris Ali Kalora Otak Teror Berdarah di Sigi, PSI: Biadab!
Partai Solidaritas Indonesia (PSI) mengutuk teror berdarah yang dilakukan teroris MIT pimpinan Ali Kalora serang Gereja dan rumah warga di Sigi.
Tragedi Sigi: 4 Tewas Dipenggal, 7 Rumah dan Gereja Dibakar
Pembantaian satu keluarga. Sebanyak empat orang ditemukan tewas dan tujuh rumah termasuk gereja dibakar Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah (Sulteng).
0
MIT Gunakan Pola Hit and Run, Teror Natal dan Tahun Baru?
Analis Intelijen dan Terorisme, Stanislaus sebut momentum Natal dan tahun baru selalu dijadikan untuk melakukan aksi teror terhadap masyarakat.