TAGAR MISTERI

jangan dibaca sendirian

story 3 · episode 6

Siapa yang Sebenarnya Selamat?

07 menit membaca

Siapa yang Sebenarnya Selamat?

Lampu mobil itu menyala lagi.

Nyala. Mati. Nyala.

Dan Raka tidak menunggu sampai ia menyala untuk ketiga kalinya. Ia memutar gas — bukan ke depan, bukan ke samping, bukan ke arah mana pun yang masuk akal. Ia hanya melaju. Menjauh dari mobil itu. Menjauh dari anak kecil yang duduk di kursi belakangnya. Menjauh dari wajah ayahnya yang kosong di balik kaca yang pecah.

Tapi mobil itu mengikuti.

Tanpa suara. Tanpa lampu yang menyala penuh. Hanya bodi hitam yang meluncur di belakangnya, pelan, seperti sesuatu yang tidak perlu terburu-buru.

Raka menoleh ke spion.

Dan anak kecil itu masih di sana.

Bukan di mobil. Di jok belakang motornya.

Duduk. Tegak. Kedua tangan terlipat di pangkuan. Kaki yang tidak sampai ke pijakan, tergantung lurus. Dan jaket kecil yang kebesaran itu — jaket hijau pudar dengan logo aplikasi yang sudah luntur — terlihat terlalu besar untuk tubuhnya.

Raka mengerem.

Bukan karena ia memutuskan. Bukan karena ia berani. Tapi karena kakinya tidak bisa bergerak lagi. Karena tangannya menolak memutar gas. Karena sesuatu di dalam dadanya — sesuatu yang lebih tua dari takut, lebih tua dari panik — akhirnya menyerah.

Motor itu berhenti di tengah jalan basah yang dipenuhi pecahan kaca.

Dan di belakangnya, mobil hitam itu juga berhenti.

* * *

Anak kecil itu mengangkat kepalanya.

Pelan. Sangat pelan. Dan untuk pertama kalinya, Raka melihat matanya — bukan mata kosong seperti yang tadi ia lihat di jembatan, bukan mata hitam yang sudah lama mati. Mata yang hidup. Mata yang basah. Mata seorang anak yang baru saja bangun dari mimpi buruk dan tidak tahu di mana ia berada.

"Kamu ingat," katanya.

Suaranya kecil. Tipis. Tapi jelas.

Raka tidak menjawab. Ia tidak bisa. Tenggorokannya kering. Tangannya dingin di atas setang.

"Kamu ingat malam itu," ulang anak itu. "Kamu cuma pura-pura tidak ingat."

Raka menutup matanya.

Pelan. Lama.

Dan di dalam gelap di balik kelopaknya, sesuatu mulai terbuka.

* * *

Hujan.

Bukan hujan malam ini. Bukan hujan di jembatan itu. Hujan yang lain. Hujan yang lebih tua, lebih deras, hujan yang jatuh di atas atap mobil sedan putih yang melaju pelan di jalan raya menuju Kalipandan.

Raka kecil duduk di kursi belakang.

Ia memakai jaket kecil yang kebesaran — jaket ojek ayahnya, yang selalu ayahnya pinjamkan ketika hujan turun dan ia lupa membawa jaket sendiri. Di sampingnya, di kursi kemudi, ayahnya menatap lurus ke depan. Dan di kursi penumpang, Sari menoleh ke belakang, tersenyum tipis, dan berkata sesuatu yang Raka kecil tidak dengar karena hujan terlalu deras.

Ia hanya ingat suara itu. Lembut. Seperti suara ibunya.

Lalu lampu.

Dari arah berlawanan. Terlalu dekat. Terlalu cepat.

Ayahnya membanting setir.

Mobil itu berputar. Sekali. Dua kali. Ban-nya menjerit di atas aspal basah. Kaca pecah. Logam tertekuk. Dan di tengah semua suara itu — di tengah hujan, di tengah jeritan, di tengah kaca yang pecah seperti hujan kedua — Sari berbalik.

Bukan ke depan. Bukan ke ayahnya.

Ke belakang.

Ke arahnya.

Ia meraih sabuk pengaman Raka kecil. Melepasnya. Menarik tubuh kecil itu ke pelukannya. Dan di detik terakhir, sebelum mobil itu menyentuh pembatas jembatan, sebelum logam itu menyerah pada gravitasi, sebelum dunia berputar dan berhenti — Sari membuka pintu belakang.

Dan mendorongnya keluar.

* * *

Raka membuka matanya.

Ia masih di atas motornya. Masih di tengah jalan basah. Masih dengan pecahan kaca di bawah rodanya. Dan air mata — air mata yang tidak ia sadari keluar — mengalir di pipinya, hangat, asing, seperti sesuatu yang sudah lama menunggu untuk jatuh.

Di jok belakang, anak kecil itu masih di sana.

Masih menatapnya. Masih dengan mata yang basah.

"Kamu ingat sekarang," katanya.

Raka mengangguk. Pelan. Hampir tidak terlihat.

"Sari menyelamatkan aku."

Anak itu tidak menjawab.

"Dia mendorong aku keluar. Sebelum mobil itu jatuh."

Sunyi.

Hanya angin. Hanya hujan yang entah kapan mulai turun lagi. Hanya pecahan kaca yang bergetar pelan di bawah lampu motor yang menyala redup.

Lalu anak itu bicara lagi.

"Bukan."

Raka membeku.

"Bukan kamu yang dia selamatkan."

* * *

Raka menatap anak itu lama.

Terlalu lama.

Dan sesuatu di dalam dadanya — sesuatu yang sejak malam pertama terasa salah, sesuatu yang sejak awal selalu ia tahan, selalu ia tolak, selalu ia hindari — akhirnya retak.

"Apa maksud kamu?"

Anak itu mengangkat tangannya. Pelan. Dan menunjuk ke arah dadanya sendiri — ke jaket kecil yang kebesaran itu, ke logo aplikasi yang sudah luntur di lengannya, ke tubuh kecil yang duduk di jok belakang motornya.

"Aku yang ada di dalam mobil itu," katanya. "Aku yang Sari tarik keluar. Aku yang dia selamatkan."

Ia berhenti.

"Bukan kamu."

Raka menggeleng pelan. Kepalanya berputar. Tenggorokannya kering.

"Tapi aku yang ingat. Aku yang ingat hujan. Aku yang ingat Sari menoleh. Aku yang ingat dia mendorong—"

"Kamu ingat karena aku yang ingat."

Sunyi.

Anak itu menatapnya lurus. Dan di matanya — di mata yang tadi basah, mata yang tadi hidup — ada sesuatu yang lain sekarang. Sesuatu yang lebih tua dari wajahnya.

"Sebelas tahun," katanya. "Sebelas tahun kamu hidup dengan ingatan yang bukan milikmu."

Raka menahan napas.

"Kamu hidup dengan ingatanku. Dengan nama yang sama. Dengan wajah yang sama. Dengan tubuh yang tumbuh, yang besar, yang jadi ojek, yang kerja sampai dini hari, yang nerima pesanan dari halte tua itu."

Ia berhenti.

"Tapi bukan kamu yang seharusnya keluar dari mobil itu."

* * *

Raka tidak bergerak.

Kata-kata itu menggantung di udara di antara mereka — di antara dirinya yang duduk di atas motor, dan anak kecil yang duduk di jok belakangnya, dan mobil hitam yang masih berhenti di belakang sana, dan lampu-lampu yang mati satu per satu di sepanjang jalan yang tidak pernah ia lewati sebelumnya.

Ia ingin bertanya. Ia ingin bertanya siapa dirinya kalau bukan dirinya. Ia ingin bertanya siapa yang selama dua puluh tujuh tahun ia panggil dengan namanya sendiri. Ia ingin bertanya siapa yang dikuburkan, siapa yang hidup, siapa yang menunggu di halte itu, dan siapa yang seharusnya menjemput Sari malam itu.

Tapi sebelum kata pertama keluar dari tenggorokannya, anak itu memudar.

Pelan. Sangat pelan. Dari ujung sepatu. Dari ujung jaket. Dari ujung rambut yang dipotong rapi. Seperti kabut yang tersapu angin.

Dan sebelum wajahnya hilang sepenuhnya, ia bicara untuk terakhir kalinya.

Suaranya pelan. Jelas. Menggema di sepanjang jalan basah yang dipenuhi pecahan kaca, di sepanjang tulang-tulang Raka yang mendadak dingin.

"Kamu nggak akan tahu jawabannya sampai kamu selesai."

Lalu ia hilang.

* * *

Raka duduk sendirian di atas motornya.

Jok belakang kosong. Selalu kosong. Sejak malam pertama. Sejak halte tua itu. Sejak perempuan berbaju putih itu menghilang tanpa suara.

Dan di belakangnya, mobil hitam itu masih di sana.

Masih berhenti. Masih tanpa suara. Masih dengan lampu yang berkedip pelan, nyala, mati, nyala, mati — seperti sesuatu yang menunggu.

Raka menoleh ke spion.

Di dalam mobil itu, di kursi kemudi, ayahnya masih duduk. Masih menatap lurus ke depan. Masih dengan tangan di setir. Masih tidak bergerak.

Tapi kali ini, di kursi penumpang, ada seseorang.

Seorang perempuan. Rambut panjang terurai. Baju putih. Duduk tegak. Menatap lurus ke depan, seperti ayahnya.

Sari.

Dan di antara mereka — di kursi belakang, di tempat yang seharusnya kosong — ada sesuatu yang membuat Raka menahan napas.

Sebuah kursi anak.

Kosong.

Dengan sabuk pengaman yang masih terpasang.

Dan di atas sabuk itu, tergeletak sebuah liontin perak. Berdenyut pelan.

Seperti jantung yang menunggu.

Jam digital di dashboard motornya berkedip.

00.17.

Masih 00.17.

Dan ponsel di dashboard itu — ponsel yang sejak tadi mati, ponsel yang tidak pernah ia nyalakan — menyala sendiri.

Layar biru. Peta terbuka. Dan di atas peta itu, tulisan yang muncul huruf demi huruf, seperti ada yang mengetiknya dari dalam.

Pesanan akan segera selesai.

Raka menatap layar itu tanpa berkedip.

Dan di belakangnya, pintu mobil hitam itu terbuka.

Pelan. Sangat pelan.

kembali ke daftar story episode 6