story 4 · episode 6
Pesanan Selesai
09 menit membaca

Raka membuka matanya di dekat halte.
Langit masih gelap. Bukan gelap malam. Gelap yang mulai pucat di ujungnya — kelabu tipis yang menjalar dari timur, seperti tinta yang perlahan menyerap ke dalam kertas basah. Menjelang subuh.
Ia duduk di atas motornya.
Mesinnya masih menyala. Berdebar pelan di antara kakinya, seperti jantung yang tidak tahu kapan harus berhenti. Lampunya masih menyapu jalan tanah yang basah, menyapu rumput liar yang menyapu betisnya, menyapu bangku beton retak dan tiang berkarat dan atap yang miring ke kiri.
Halte Cempaka Lama.
Raka menahan napas.
Ia tidak ingat bagaimana ia bisa sampai di sini.
Ia ingat mobil hitam itu. Ia ingat pintu belakangnya yang terbuka. Ia ingat kursi anak yang kosong, dengan sabuk pengaman yang masih terpasang, dan liontin perak yang berdenyut di atasnya. Ia ingat sesuatu di dalam mobil itu mulai bergerak.
Lalu — tidak ada.
Hanya ini. Halte tua. Motor yang menyala. Dan langit yang mulai pucat.
Ia menoleh ke spion.
Jok belakang kosong.
Selalu kosong.
Ia menoleh ke ponsel di dashboard.
Layarnya menyala. Biru. Bukan lagi peta. Bukan lagi panah yang berputar. Bukan lagi tulisan yang muncul huruf demi huruf. Halaman konfirmasi. Halaman yang ia kenal terlalu baik — halaman yang muncul setiap kali ia menyelesaikan perjalanan.
Perjalanan selesai.
Raka menatapnya lama. Terlalu lama.
Di bawah tulisan itu, ada angka saldo. Angka yang bertambah. Angka yang tidak pernah ia minta, tidak pernah ia nantikan, tidak pernah ia mengerti. Dan di bawah angka itu, sebuah nama.
Nama pelanggan.
Raka membacanya sekali. Dua kali. Tiga kali.
Sari Wulandari.
Ia menutup matanya. Pelan.
Lalu ia membukanya lagi. Dan nama itu masih di sana. Masih sama. Masih terang. Masih tercetak di layar seperti sesuatu yang sudah selesai, seperti sesuatu yang sudah ditutup, seperti sesuatu yang akhirnya diizinkan pergi.
Raka menggeser layar.
Riwayat.
Ia menekannya pelan. Halaman itu terbuka. Daftar perjalanan. Tanggal. Jam. Tujuan. Nama pelanggan. Dan di baris paling atas — di baris yang paling baru, di baris yang baru saja selesai — nama itu masih ada.
Sari Wulandari.
Raka menunggu. Satu detik. Dua. Lima.
Dan nama itu menghilang.
Bukan terhapus. Bukan berkedip lalu lenyap. Menghilang — pelan, huruf demi huruf, seperti ada yang menariknya kembali ke tempat asalnya. Satu per satu. S. A. R. I. Lalu spasi. Lalu W. U. L. A. N. D. A. R. I.
Dan setelah huruf terakhir hilang, di tempat yang tadi ditempati nama itu, muncul sesuatu yang lain.
Pesanan baru.
Raka menahan napas.
Ia menatap layar itu tanpa berkedip. Jemput. Tujuan. Nama pelanggan. Dan nama pengemudi.
Ia membaca pelan.
Nama pelanggan: Raka Pratama.
Raka membeku.
Ia membaca ulang. Huruf demi huruf. Namanya sendiri. Tertulis di kolom pelanggan. Bukan di kolom pengemudi. Bukan di tempat yang seharusnya. Di tempat yang selama ini selalu berisi nama orang lain — nama Sari, nama orang-orang yang tidak pernah ia kenal, nama-nama yang datang dari halte tua itu.
Dan di kolom pengemudi, ada satu nama.
Raka.
Raka menggeleng pelan. Kepalanya berputar. Tenggorokannya kering seperti kertas yang terbakar.
Ia menggeser layar lagi.
Lokasi jemput.
Ia membacanya. Dan untuk beberapa detik, ia tidak bisa bernapas.
Rumahnya sendiri.
Alamat kosnya. Jalan yang ia tinggali. Gang kecil di pinggiran kota. Tempat ia tidur. Tempat ia menutup pintu. Tempat ia mengunci jendela. Tempat yang ia yakini tidak akan pernah ditemukan oleh apa pun yang datang dari halte itu.
Raka menatap alamat itu lama.
Dan di bawahnya, di kolom catatan pelanggan — kolom yang selama ini selalu kosong, kolom yang tidak pernah berisi apa pun selain satu titik — ada tulisan.
Kecil. Abu-abu. Hampir tidak terbaca.
Saya sudah menunggu sebelas tahun. Tolong jangan terlambat lagi.
Raka menutup ponselnya.
Tangannya gemetar begitu hebat sampai layar itu hampir jatuh dari genggamannya. Ia menekan tombol power. Lama. Sampai layar itu hitam. Sampai sunyi kembali. Sampai hanya ada mesin motornya yang berdebar pelan di antara kakinya, dan langit yang mulai pucat di ujung timur, dan halte tua di belakangnya yang masih menunggu.
Ia memutar gas.
Ia tidak menoleh ke belakang. Tidak ke halte. Tidak ke bangku beton retak. Tidak ke tiang berkarat. Tidak ke atap yang miring ke kiri.
Ia hanya melaju. Keluar dari jalan tanah. Keluar dari desa yang tidak ada di peta. Sampai aspal kembali di bawah rodanya. Sampai lampu-lampu kota muncul di kejauhan. Sampai ia tiba di gang kecil tempat ia tinggal.
* * *
Matahari sudah naik ketika Raka membuka pintu kosnya.
Cahaya masuk pelan dari celah tirai. Debu mengambang di udara, malas, seperti tidak pernah ada yang mengusiknya. Semuanya seperti yang ia tinggalkan empat hari lalu — kursi kayu di sudut, meja rendah, ponsel yang dulu ia matikan masih tergeletak di sana, gelas kosong, karpet yang tidak pernah bergeser.
Tidak ada jejak kaki basah.
Tidak ada kain putih di kasur.
Tidak ada air yang merembes dari bawah pintu.
Kosong.
Raka menghela napas. Pelan. Panjang.
Ia melangkah masuk. Menutup pintu. Mengunci. Dan berdiri di tengah ruang tamunya, dengan jaket ojek yang masih menempel di badan, dengan helm yang masih di tangan, dengan sesuatu di dalam dadanya yang tidak bisa ia namai.
Ia menoleh ke ponsel di meja.
Masih mati.
Ia menoleh ke jendela.
Masih tertutup.
Ia menoleh ke pintu kamarnya.
Masih terkunci.
Ia menoleh ke pintu depan.
Masih terkunci.
Dan untuk pertama kalinya sejak malam pertama, Raka merasa — bukan lega, bukan tenang, bukan aman. Tapi sesuatu yang mirip. Sesuatu yang mirip dengan selesai.
Ia meletakkan helmnya di meja. Melepas jaket. Dan berbalik untuk menyalakan lampu.
Lalu ponselnya berbunyi.
Satu nada. Bersih. Terlalu bersih.
Raka membeku.
Ia menatap benda itu lama. Benda yang tadi ia matikan. Benda yang baterainya sudah ia kuras sampai nol dua malam lalu. Benda yang seharusnya tidak bisa menyala.
Layarnya menyala.
Biru. Gelap. Dan di atasnya, satu notifikasi.
Raka tidak ingin membukanya.
Ia tidak ingin tahu.
Tapi tangannya sudah bergerak sendiri — pelan, hati-hati, seperti tangan orang lain yang meminjam tubuhnya — dan jarinya menyentuh layar itu.
Notifikasi itu terbuka.
Sebuah pesan. Bukan dari aplikasi. Bukan dari nomor tak dikenal. Dari sebuah nama yang tidak pernah ada di kontaknya. Nama yang baru saja ia lihat menghilang dari riwayat.
Ibu.
Raka menatap nama itu tanpa berkedip.
Ia menekannya.
Pesan itu terbuka.
Hanya satu kalimat.
Pulang. Sekarang.
* * *
Raka menaiki motornya lagi.
Ia tidak tahu kenapa. Ia tidak tahu apakah ini keputusan yang benar. Ia hanya tahu bahwa pesan itu — pesan yang datang dari nomor ibunya, dari nama yang tertulis di akta kelahirannya, dari nama yang ia hindari selama sebelas tahun — tidak bisa ia abaikan.
Ia melaju ke utara. Keluar dari kota. Ke pinggiran. Ke gang kecil yang ia kenal terlalu baik. Rumah tempat ia tumbuh. Rumah tempat ibunya masih tinggal. Rumah yang ia tinggalkan sebelas tahun lalu dan tidak pernah kembali.
Matahari sudah tinggi ketika ia memarkir motornya di depan pagar.
Lampu teras mati. Jendela ruang tamu terbuka. Dan di balik tirai tipis yang berkibar pelan, ada sesuatu yang bergerak.
Raka mengetuk pintu.
Dua kali. Tiga kali.
Pintu itu terbuka.
Ibunya berdiri di ambangnya. Rambutnya sudah memutih semua. Punggungnya bungkuk. Dan di sudut matanya, ada kantung yang dalam — seperti orang yang sudah lama tidak tidur nyenyak.
Tapi kali ini, ia tidak menatap Raka seperti orang yang baru saja melihat hantu.
Ia menatap Raka seperti orang yang sudah lama menunggu.
"Masuk," katanya. Pelan. Datar.
Raka melangkah masuk.
Rumah itu tidak berubah. Dinding putih yang sama. Sofa tua yang sama. Foto-foto di dinding yang sama — foto keluarga, foto pernikahan, foto seorang lelaki tinggi yang tersenyum tipis.
Ayahnya.
Raka berhenti di depan foto itu. Pelan. Lama.
Lalu ia menoleh ke ruang tamu.
Dan untuk beberapa detik, ia tidak bisa bernapas.
Di kursi kayu di sudut ruangan — kursi yang sama tempat ibunya duduk ketika ia datang beberapa hari lalu, kursi yang sama tempat ibunya menutup mata dan tidak bicara lagi — duduk seorang anak kecil.
Lelaki. Mungkin tujuh tahun. Duduk diam. Kedua tangan terlipat di pangkuan. Kaki yang tidak sampai ke lantai, tergantung lurus. Dan jaket yang ia pakai — jaket kecil yang kebesaran, warna hijau pudar, dengan logo aplikasi yang sudah luntur di lengan kanannya.
Raka membeku.
Ia mengenal jaket itu.
Ia mengenal wajah anak itu.
Hidung yang sama. Rahang yang sama. Bentuk mata yang sama. Rambut yang dipotong rapi. Dan di dagunya — di dagu kecil yang belum punya bekas luka apa pun — sesuatu yang membuat Raka merasa seperti sedang menatap cermin yang memantulkan masa lalunya sendiri.
Anak itu menatapnya.
Tidak berkedip. Tidak tersenyum. Tidak takut.
Hanya menatap.
Seperti seseorang yang sudah lama menunggu di dalam rumah yang tidak pernah ia tinggali, di kursi yang tidak pernah ia duduki, di kehidupan yang tidak pernah ia jalani.
Raka menoleh ke ibunya.
Ibunya masih berdiri di ambang pintu. Masih dengan tangan di gagang. Masih menatap Raka — dan sekarang, di matanya, ada sesuatu yang tidak bisa Raka namai. Bukan marah. Bukan takut. Sesuatu yang lebih tua dari keduanya. Sesuatu yang seperti air mata yang sudah terlalu lama ditahan dan akhirnya bocor juga.
"Bu…"
Suaranya serak. Hampir tidak keluar.
"Siapa anak ini?"
Ibunya menutup matanya. Pelan. Lama.
Ketika ia membukanya, air mata itu sudah jatuh. Satu. Dua. Tiga. Membasahi pipinya yang keriput, mengalir pelan ke dagunya, jatuh ke lantai kayu yang dingin.
Dan suaranya keluar. Pelan. Bergetar. Seperti sesuatu yang sudah lama ia tahan dan akhirnya tidak bisa lagi ia tahan.
"Kalau kamu Raka, lalu siapa anak yang selama ini tinggal bersama Ibu?"
Sunyi.
Raka menatap ibunya tanpa berkedip. Menatap anak kecil di kursi kayu itu tanpa berkedip. Menatap jaket hijau pudar yang kebesaran di tubuh kecil itu tanpa berkedip.
Dan di luar, di bawah lampu jalan yang mulai menyala satu per satu meski matahari belum sepenuhnya turun, sesuatu berhenti.
Sebuah mobil.
Hitam. Panjang. Tidak bersuara.
Menunggu.