TAGAR MISTERI

jangan dibaca sendirian

story 2 · episode 6

Mobil Hitam

05 menit membaca

Mobil Hitam

Mobil itu muncul dari arah berlawanan.

Bukan dari ujung jalan yang tadi ia lihat. Bukan dari dalam kabut yang mengambang di depannya. Tapi dari belakang — dari arah yang seharusnya kosong, dari arah yang baru saja ia lewati. Muncul begitu saja, seperti sesuatu yang baru dipanggil, seperti sesuatu yang baru diizinkan keluar.

Raka menahan napas.

Lampu motornya menyapu bodi hitam itu, dan apa yang ia lihat membuat tangannya mengetat di setang.

Kacanya pecah.

Bukan retak. Pecah. Bagian depan mobil itu ringsek — kapnya tertekuk ke dalam, bempernya tergantung sebelah, dan di sisi kiri, logamnya menyeret di atas aspal basah, memercikkan air seperti darah yang menetes pelan.

Lampunya berkedip.

Nyala. Mati. Nyala. Mati.

Seperti sesuatu yang berusaha mengingat cara hidup.

Raka memperlambat motornya. Ia tidak berhenti. Ia tidak bisa berhenti. Suara di jok belakangnya masih menempel di telinganya, masih berbisik pelan, masih mengulang kalimat yang sama.

Jangan berhenti kalau kamu melihat mobil itu.

Ia terus melaju.

Dan mobil itu terus mendekat.

* * *

Ketika jarak mereka tinggal beberapa meter, Raka akhirnya melihat ke dalam.

Bukan karena ia memutuskan. Bukan karena ia berani. Tapi karena kaca depan mobil itu — kaca yang seharusnya gelap, kaca yang seharusnya tidak bisa ditembus pandangan — tiba-tiba terang. Seperti sesuatu di dalamnya menyalakan lampu. Seperti sesuatu di dalamnya ingin dilihat.

Raka menoleh.

Dan di balik kemudi, duduk seorang lelaki.

Tinggi. Jaket gelap. Rambut yang memutih di pelipis.

Wajah yang ia kenal terlalu baik.

Wajah yang tergantung di dinding rumah lamanya. Wajah yang membacakan dongeng sebelum tidur. Wajah yang ia lihat setiap hari sampai ia berumur enam tahun, lalu hilang, lalu dikubur, lalu muncul lagi di depan dinas catatan sipil tiga hari lalu.

Ayahnya.

Raka merasakan sesuatu menusuk di dalam dadanya. Bukan takut. Bukan kaget. Sesuatu yang lebih tua dari keduanya — sesuatu yang sudah lama ia kubur dan sekarang bangun, menggeliat, dan menatapnya lewat kaca mobil yang pecah.

Ayahnya tidak tersenyum.

Tidak melambai.

Tidak bicara.

Ia hanya menatap lurus ke depan. Kedua tangannya di setir. Dan di wajahnya — di wajah yang Raka ingat selalu tersenyum, selalu hangat, selalu teduh — tidak ada apa pun.

Kosong.

Seperti orang yang sudah lama tidak punya wajah untuk dipakai.

* * *

Mobil itu berhenti.

Tepat di samping motornya.

Raka menahan napas. Ia tidak bergerak. Ia tidak memutar gas. Ia tidak melakukan apa pun selain duduk di atas motornya, dengan lampu yang menyala redup, dan mobil hitam itu di sampingnya — begitu dekat sampai ia bisa merasakan dingin yang menjalar dari bodinya, dingin yang tidak berasal dari mesin, dingin yang tidak berasal dari malam.

Mesin mobil itu mati.

Lampu depannya berkedip sekali lagi.

Lalu padam.

Dan di dalam sunyi yang menggantikannya, Raka mendengar sesuatu.

Bukan suara mesin. Bukan suara angin. Bukan suara napasnya sendiri.

Suara pintu.

Klik.

Pintu belakang mobil itu terbuka.

Pelan. Sangat pelan. Seperti sesuatu yang mendorongnya dari dalam. Seperti sesuatu yang sudah lama menunggu untuk keluar.

Raka menoleh.

Dan di kursi belakang — di dalam gelap yang tidak bisa ditembus lampu motornya, di dalam sunyi yang tidak bisa dijelaskan oleh apa pun — duduk seorang anak kecil.

Lelaki. Mungkin lima atau enam tahun. Duduk diam. Kedua tangan terlipat di pangkuan. Kaki yang tidak sampai ke lantai mobil, tergantung lurus. Dan jaket yang ia pakai — jaket kecil yang kebesaran, warna hijau pudar, dengan logo aplikasi yang sudah luntur di lengan kanannya.

Raka membeku.

Ia mengenal jaket itu.

Ia mengenal wajah anak itu.

Hidung yang sama. Rahang yang sama. Bentuk mata yang sama. Rambut yang dipotong rapi. Dan di dagunya — di dagu kecil yang belum punya bekas luka apa pun — sesuatu yang membuat Raka merasa seperti sedang menatap cermin yang memantulkan masa lalunya sendiri.

Anak itu menatapnya.

Tidak berkedip. Tidak tersenyum. Tidak takut.

Hanya menatap.

Seperti seseorang yang sudah lama menunggu di dalam mobil yang tidak pernah berhenti, di jalan yang tidak pernah berujung, di malam yang tidak pernah selesai.

Lalu anak itu bicara.

Suaranya kecil. Tipis. Tapi jelas. Terlalu jelas untuk malam yang seperti ini. Terlalu jelas untuk sesuatu yang seharusnya hanya ada di dalam mimpi.

"Kamu sudah terlambat menjemputku."

* * *

Raka tidak bergerak.

Kata-kata itu menggantung di udara di antara mereka — di antara motornya dan mobil hitam itu, di antara wajahnya dan wajah anak kecil yang duduk di kursi belakang. Dan untuk beberapa detik yang terasa seperti berjam-jam, Raka tidak bisa bernapas, tidak bisa berpikir, tidak bisa melakukan apa pun selain menatap anak itu.

Anak yang memakai jaketnya.

Anak yang punya wajahnya.

Anak yang duduk di dalam mobil yang dikemudikan oleh ayahnya.

Di belakang mereka, di balik kaca mobil yang pecah, ayahnya masih duduk di kursi kemudi. Masih menatap lurus ke depan. Masih dengan tangan di setir. Masih tidak bergerak. Seperti patung yang sudah selesai bicara untuk selamanya.

Raka membuka mulut.

"Kamu…"

Suaranya serak. Hampir tidak keluar.

"Siapa kamu?"

Anak itu tidak menjawab.

Ia hanya mengangkat tangannya. Pelan. Sangat pelan. Dan menunjuk — bukan ke arah Raka, bukan ke arah mobil, bukan ke arah apa pun yang bisa Raka lihat. Ia menunjuk ke arah jok belakang motor Raka.

Ke jok yang sejak malam pertama selalu kosong di kaca spion.

Ke jok yang selalu Raka lihat lewat pantulan, kosong, sepi, tidak pernah ada siapa-siapa.

Raka menoleh.

Pelan. Sangat pelan.

Dan di jok belakang motornya — di tempat yang seharusnya kosong, di tempat yang sejak halte tua itu selalu kosong — sekarang ada sesuatu.

Sebuah ponsel.

Layarnya menyala. Biru. Peta terbuka. Dan di atas peta itu, tulisan yang muncul huruf demi huruf, seperti ada yang mengetiknya dari dalam.

Pesanan baru untuk Raka Pratama.

Jemput di Jok Belakang.

Tujuan: .

Nama: .

Satu titik.

Dan di bawahnya, jam digital di dashboard motornya berkedip.

00.17.

Masih 00.17.

Selalu 00.17.

Dan di sampingnya, mobil hitam itu — mobil yang tadi berhenti, mobil yang tadi mati — mulai menyalakan lampunya lagi.

Berkedip.

Nyala. Mati. Nyala. Mati.

Dan dari dalamnya, dari kursi kemudi yang seharusnya kosong, sesuatu mulai bergerak.

kembali ke daftar story episode 6