story 1 · episode 6
Rute Menuju Kecelakaan
06 menit membaca

Raka tidak menjawab.
Ia tidak bisa. Tenggorokannya kering. Kakinya dingin. Dan sosok di jok belakang itu — sosok dengan wajahnya sendiri, dengan mata kosong, dengan luka mengering di pelipis — masih menatapnya.
Masih mengangkat tangan.
Masih melambai.
Lalu sosok itu memudar.
Bukan menghilang. Bukan berkedip lalu lenyap. Memudar — pelan, dari ujung sepatu, dari ujung jaket hijau pudar yang sama dengan yang Raka pakai, dari ujung rambut yang dipotong rapi. Seperti kabut yang tersapu angin. Seperti sesuatu yang tidak pernah benar-benar ada, dan hanya menunggu untuk ditarik kembali ke tempat asalnya.
Dan di seberang jurang, Sari juga memudar.
Pelan. Sangat pelan. Rambut panjangnya tersapu kabut, tersapu malam, tersapu sesuatu yang lebih tua dari keduanya. Dan sebelum wajahnya hilang sepenuhnya, Raka melihat sesuatu di sana — senyum tipis yang tidak sampai ke mata, dan satu kata yang keluar tanpa suara dari bibirnya.
Pergi.
Raka berdiri sendirian di atas jembatan yang tidak ada di GPS.
Liontin perak itu masih di bawah sepatunya. Dingin. Berdenyut pelan. Ia membungkuk, mengambilnya, dan menyelipkannya ke dalam kantong jaketnya tanpa berpikir.
Lalu ia berjalan ke motornya.
* * *
Ia menyalakan mesin.
Tangannya masih gemetar. Lututnya masih lemas. Tapi ia tidak punya pilihan lain. Ia tidak bisa tinggal di jembatan ini. Ia tidak bisa menunggu sampai sesuatu yang lain datang — sesuatu yang lebih buruk dari sosok berwajahnya sendiri.
Ia memutar gas.
Motor itu melaju pelan, menyeberangi jembatan, melewati pagar berkarat, melewati beton yang retak. Dan di seberang sana, jalan itu kembali terbuka — jalan tanah yang basah, jalan yang tadi membawanya ke sini.
Raka menoleh ke spion.
Jembatan itu masih di belakangnya. Kosong. Kabut mengambang pelan di antara pagar-pagarnya, seperti tidak pernah ada apa pun di sana.
Ia menghela napas.
Pelan. Panjang.
Dan ia melaju ke arah kota.
* * *
Lima menit pertama, jalan itu masih sama.
Tanah basah. Pohon-pohon karet di kanan dan kiri. Rumput liar yang menyapu betis. Suara mesin yang berdebar pelan di antara kakinya. Suara angin. Suara napasnya sendiri.
Lalu sesuatu berubah.
Raka tidak langsung menyadarinya. Ia terlalu lelah. Terlalu dingin. Terlalu banyak hal yang berputar di kepalanya — wajah Sari, wajah ayahnya, wajah dirinya sendiri di jok belakang. Tapi ketika ia mendongak, ketika ia menatap ke depan, ia melihat sesuatu yang membuatnya memperlambat motornya.
Pohon-pohon karet itu mulai menipis.
Bukan hilang. Menipis. Satu per satu. Seperti ada yang mencabutnya dari tanah, pelan-pelan, di belakang punggungnya. Dan di tempat pohon-pohon itu tadi berdiri, ada sesuatu yang lain.
Bangunan.
Rumah-rumah kecil. Berdinding kayu. Beratap seng. Gelap. Tidak ada lampu. Tidak ada jendela yang menyala. Hanya siluet-siluet yang berdiri di kanan dan kiri, seperti orang-orang yang menunduk, menunggu.
Raka mengerutkan dahi.
Ia menoleh ke GPS.
Layar itu masih menyala. Peta masih terbuka. Tapi rutenya berbeda. Bukan jalan tanah yang tadi ia lewati. Bukan jalan yang menuju kota. Sebuah jalan lurus, panjang, tanpa belokan, tanpa persimpangan, mengarah ke sebuah titik di ujung layar.
Dan di bawah peta itu, tulisan kecil muncul huruf demi huruf.
Lurus 200 meter.
Raka menelan ludah.
Ia melaju.
* * *
Rumah-rumah itu mulai menyala.
Bukan karena ada yang menyalakan lampu. Bukan karena ada yang pulang. Tapi satu per satu — pelan, teratur, seperti sesuatu yang menghitung — jendela-jendela itu menyala kuning pucat. Di kanan. Di kiri. Di depan. Di belakang.
Raka menoleh ke spion.
Rumah-rumah di belakangnya juga menyala.
Semuanya.
Sejauh mata bisa melihat, deretan jendela kuning pucat itu membentang di sepanjang jalan, kosong, tanpa sosok, tanpa bayangan. Hanya cahaya. Hanya kuning. Hanya sunyi yang menekan.
Raka mempercepat motornya.
Dan di belakangnya, lampu-lampu itu mulai mati.
Satu per satu.
Tok. Tok. Tok.
Seperti jari yang mengetuk kaca. Seperti sesuatu yang mengikuti dari jauh, memadamkan setiap jendela yang ia lewati, dan pelan-pelan mendekat.
Raka tidak menoleh.
Ia hanya melaju. Lebih cepat. Lebih cepat. Sampai rumah-rumah itu habis, sampai jendela-jendela itu hilang, sampai jalan di depannya kembali kosong.
Dan di depannya, aspal itu berubah.
* * *
Bukan aspal lagi.
Permukaan itu basah. Licin. Memantulkan cahaya lampu motornya seperti cermin yang pecah. Dan di atasnya, tersebar sesuatu yang membuat Raka menahan napas.
Pecahan kaca.
Kecil-kecil. Kusam. Tepinya tumpul. Tersebar di sepanjang jalan, dari ujung ke ujung, sejauh lampu motornya bisa menjangkau. Seperti sesuatu yang pernah jatuh di sini — sesuatu yang besar, sesuatu yang keras, sesuatu yang pecah berkeping-keping dan tidak pernah dibersihkan.
Raka memperlambat motornya.
GPS itu berbicara lagi.
Putar balik.
Raka mengerutkan dahi.
Ia menoleh ke layar. Peta itu masih menunjuk ke depan. Titik tujuan masih jauh di ujung jalan. Tapi tulisan di bawahnya berubah.
Anda telah tiba.
Raka membeku.
Ia menoleh ke depan.
Tidak ada apa-apa. Tidak ada rumah. Tidak ada halte. Tidak ada jembatan. Hanya jalan basah yang dipenuhi pecahan kaca, dan di ujungnya, kabut yang mengambang pelan, seperti napas yang tidak ingin pergi.
Ia belum sampai ke jembatan.
Ia belum sampai ke mana-mana.
Tapi GPS itu — GPS yang sejak malam pertama tidak pernah memberitahunya hal yang benar, GPS yang sejak awal menuntunnya ke tempat-tempat yang tidak ada di peta — GPS itu sekarang mengatakan bahwa ia sudah tiba.
Raka menelan ludah.
Dan dari jok belakang, seseorang berbisik.
* * *
"Jangan berhenti kalau kamu melihat mobil itu."
Suara itu pelan. Datar. Terlalu dekat.
Raka menegakkan punggungnya.
Ia menoleh ke spion.
Jok belakang kosong.
Selalu kosong. Sejak jembatan. Sejak mobil hitam itu lewat. Sejak perempuan berbaju putih itu memudar di seberang jurang.
Tapi suara itu — suara yang sama, suara yang sejak halte tua itu selalu datang dari jok belakang, dari dalam helmnya, dari balik kaca spion — masih ada.
Masih berbisik.
Masih menempel di telinganya.
"Jangan berhenti."
Raka menggenggam setang lebih kuat.
Ia tidak berhenti.
Ia tidak menoleh. Ia tidak bertanya. Ia hanya melaju, pelan, melewati pecahan-pecahan kaca yang berkilau di bawah lampu motornya, melewati jalan basah yang tidak pernah ia lewati, melewati kabut yang pelan-pelan menelan segalanya.
Dan di kejauhan, di ujung jalan yang dipenuhi pecahan kaca, sesuatu menyala.
Dua titik cahaya.
Putih. Bulat.
Bergerak pelan.
Raka menahan napas.
Mobil itu.
Hitam. Panjang. Tidak bersuara. Meluncur di atas permukaan basah seperti kapal yang bergerak di atas air mati. Ban-nya tidak berdesir. Tidak ada gemuruh. Tidak ada angin yang tersibak.
Dan di belakangnya, di sepanjang jalan yang ia lewati, pecahan-pecahan kaca itu mulai bergetar.
Pelan.
Satu per satu.
Seperti sesuatu yang bangun dari tidur panjang.
Jam digital di dashboard motornya berkedip.
00.17.
Masih 00.17.
Dan mobil hitam itu terus mendekat.