story 3 · episode 4
Nama yang Disembunyikan
09 menit membaca

Air itu berhenti merembes.
Tidak surut. Tidak mengering. Hanya berhenti, tepat setelah membentuk genangan sebesar telapak tangan di bawah pintu, dan dari genangan itu, sesuatu yang tidak terlihat menguap pelan, menipis, lalu hilang.
Raka tidak bergerak dari tempatnya sampai langit di luar berubah kelabu. Sampai lampu jalan mati satu per satu. Sampai mobil hitam itu — yang tidak pernah ia lihat lagi sejak matahari naik — benar-benar tidak ada.
Baru setelah itu ia bernapas.
Dan baru setelah itu ia sadar, ia masih memegang sesuatu di tangannya.
Kain putih. Terlipat tidak rapi. Ujungnya kecokelatan.
Ia tidak ingat kapan ia mengambilnya dari kasur.
* * *
Pagi itu Raka tidak pulang ke kosnya.
Ia duduk di perpustakaan daerah, di lantai dua, di meja paling pojok, dengan laptop pinjaman dan tiga buku arsip koran yang ia minta dari petugas. Di luar, matahari sudah tinggi. Di dalam, lampu neon berdengung pelan, dan bau kertas tua menempel di udara seperti debu yang tidak pernah turun.
Ia tidak di sini untuk membaca berita.
Ia di sini karena sesuatu yang dikatakan Pak Warsito tiga malam lalu tidak berhenti berputar di kepalanya.
Aku lihat seseorang keluar dari pintu belakang. Lelaki. Pakai jaket ojek.
Kalau ada seorang lelaki di dalam mobil itu, kenapa laporan polisi hanya menulis satu nama?
Raka membuka arsip pertama. Koran lokal, edisi minggu ketiga, sebelas tahun lalu. Halaman depan. Foto mobil sedan putih yang ringsek. Judul besar: Kecelakaan Maut di Km 17, Satu Tewas.
Satu tewas.
Ia membaca ulang.
Satu tewas.
Bukan dua. Bukan tiga. Satu.
Raka menggeser koran itu ke samping dan menarik arsip kedua. Koran yang sama, edisi dua hari setelahnya. Halaman dalam. Tidak ada foto. Hanya tiga kolom teks kecil di sudut bawah, di antara iklan obat nyamuk dan jadwal sepak bola.
Ia hampir melewatkannya.
Judulnya: Penyelidikan Kecelakaan Km 17 Diperluas, Satu Penumpang Belum Ditemukan.
Raka menahan napas.
Ia membaca pelan. Huruf demi huruf.
Kepolisian memperluas penyelidikan kecelakaan tunggal di Kilometer 17 setelah ditemukan indikasi bahwa korban tidak mengemudi sendirian. Seorang saksi menyatakan melihat sosok lain di dalam kendaraan sebelum kecelakaan terjadi. Hingga berita ini diturunkan, keberadaan penumpang tersebut belum dapat dikonfirmasi. Pihak keluarga korban belum memberikan keterangan.
Raka berhenti membaca.
Saksi.
Pak Warsito. Ia pasti Pak Warsito. Dan laporan itu — laporan itu tahu. Laporan itu tahu ada orang lain di dalam mobil itu.
Tapi kenapa tidak ada nama?
Ia menggulir halaman berikutnya. Tidak ada lanjutan. Tidak ada nama. Tidak ada keterangan. Hanya satu paragraf penutup yang menyatakan bahwa penyelidikan masih berlangsung, dan bahwa pihak kepolisian mengimbau siapa pun yang memiliki informasi untuk segera melapor.
Raka menutup koran itu. Pelan.
Ia menatap tumpukan arsip di depannya lama. Ada yang tidak beres. Ada yang sengaja tidak ditulis. Ada nama yang dihapus dari halaman ini sebelum halaman ini dicetak.
* * *
Ia menghabiskan empat jam berikutnya di ruangan itu.
Arsip ketiga. Arsip keempat. Arsip kelima. Koran-koran yang berbeda, kota-kota yang berbeda, tahun-tahun yang berbeda. Ia membaca setiap berita yang menyebut Kilometer 17. Setiap catatan polisi. Setiap kolom pembaca yang menanyakan hal yang sama.
Dan di arsip ketujuh, di sebuah surat kabar mingguan yang sudah lama tutup, ia menemukannya.
Halaman dua. Bukan berita utama. Hanya sebuah kotak kecil di bawah lipatan, dengan judul yang hampir tidak terbaca karena tinta yang sudah pudar.
Identitas Penumpang Km 17 Akhirnya Terungkap.
Raka menegakkan punggungnya.
Ia membaca.
Setelah melalui proses identifikasi yang panjang, pihak berwenang akhirnya mengungkap identitas penumpang yang berada di dalam kendaraan korban saat kecelakaan di Kilometer 17 terjadi. Penumpang tersebut dinyatakan hilang sejak malam kejadian dan baru teridentifikasi melalui barang-barang pribadi yang ditemukan di lokasi.
Raka menelan ludah.
Identitas penumpang tersebut adalah seorang lelaki berusia tiga puluh delapan tahun, warga kota ini, yang menurut keterangan keluarga sedang dalam perjalanan pulang dari luar kota.
Ia menggulir ke baris berikutnya.
Nama penumpang tersebut sengaja tidak diungkap ke publik atas permintaan keluarga.
Raka berhenti.
Permintaan keluarga.
Ia menatap baris itu lama. Terlalu lama. Jari-jarinya dingin di atas kertas yang sudah menguning.
Keluarga siapa?
Ia menggulir lagi. Mencari. Mencari apa pun. Nama. Inisial. Alamat. Usia. Pekerjaan. Apa saja yang bisa menjelaskan siapa lelaki itu.
Dan di bagian paling bawah halaman, di antara kolom-kolom yang sudah pudar, ia menemukan sesuatu.
Sebuah catatan kaki. Kecil. Abu-abu. Hampir tidak terbaca.
Dokumen lengkap identifikasi penumpang dapat diakses melalui arsip Dinas Catatan Sipil Kota, kode berkas 17-K.
Raka menutup koran itu.
Tangannya gemetar. Bukan karena takut. Bukan karena dingin. Tapi karena sesuatu yang lain — sesuatu yang sudah mulai tumbuh di dalam dadanya sejak ia membaca kata keluarga , dan yang sekarang, di ruangan sunyi ini, akhirnya bersuara.
Ia mengenal kode berkas itu.
Ia pernah melihatnya. Di sebuah map plastik di lemari ibunya. Sebelas tahun lalu. Ketika ia masih duduk di lantai ruang tamu dan tidak mengerti kenapa ibunya menangis sambil membaca koran.
* * *
Dinas Catatan Sipil Kota tidak jauh dari perpustakaan.
Raka berjalan kaki. Ia tidak membawa motornya. Ia tidak ingin menyentuh benda itu hari ini. Ia hanya berjalan, dengan jaket ojek yang ia kenakan seperti kebiasaan, melewati trotoar, melewati halte bus, melewati orang-orang yang lewat tanpa melihatnya.
Di lobi dinas itu, seorang perempuan paruh baya di balik meja melayani dengan senyum tipis dan suara datar. Raka menyebut kode berkas. Ia menyebut nama Sari Wulandari. Ia menyebut tanggal kecelakaan.
Perempuan itu mengetik pelan di komputernya. Menunggu. Mengetik lagi.
Lalu ia berhenti.
Ia menoleh. Pelan. Sangat pelan. Dan untuk pertama kalinya, senyum di wajahnya hilang.
"Berkas ini…" katanya. Suaranya turun. "Berkas ini sudah lama ditutup, Mas."
"Saya keluarganya."
Perempuan itu menatapnya lama. Terlalu lama.
Lalu ia bangkit dari kursinya, berjalan ke lemari arsip di sudut ruangan, membuka laci paling bawah, dan menarik sebuah map dari dalamnya. Map itu tipis. Berdebu. Di punggungnya, sebuah label bertuliskan tangan, tinta biru yang sudah pudar.
17-K.
Ia meletakkannya di meja. Tidak membukanya. Tidak menggesernya ke arah Raka.
Ia hanya berdiri di sana, tangannya masih menempel di atas map itu, dan matanya menatap Raka seperti menatap seseorang yang sudah lama ia tunggu.
"Anda yakin?"
Raka mengangguk.
Perempuan itu menarik tangannya. Pelan. Dan berbalik, meninggalkan Raka sendirian di depan map itu.
* * *
Raka membuka map itu dengan tangan yang gemetar.
Di dalamnya, tidak banyak. Beberapa lembar fotokopi. Sebuah formulir identifikasi. Dan satu lembar laporan yang sudah menguning di tepinya, dengan cap dinas yang sudah pudar.
Ia membaca pelan.
Nama penumpang yang ditemukan di lokasi kecelakaan Km 17, sebelas tahun lalu. Usia. Pekerjaan. Alamat. Dan di kolom paling bawah, kolom yang seharusnya berisi nama keluarga yang mengajukan permintaan penyembunyian identitas, hanya ada satu nama.
Raka menatap nama itu lama.
Napasnya berhenti di pangkal tenggorokan.
Ia mengenal nama itu. Ia mengenal nama itu terlalu baik. Nama itu tertulis di akta kelahirannya. Nama itu tertulis di kartu keluarga yang tergantung di dinding rumah lamanya, sebelum rumah itu dijual, sebelum ibunya meninggal, sebelum semuanya hilang.
Nama itu adalah nama ibunya.
Dan di kolom nama penumpang, di baris yang seharusnya berisi identitas lengkap seorang lelaki berusia tiga puluh delapan tahun, hanya ada satu nama. Satu nama yang membuat seluruh tubuh Raka membeku.
Arman.
Arman Pratama.
Ayahnya.
* * *
Raka duduk di lantai lobi dinas itu. Map itu masih di tangannya. Laporan itu masih terbuka di pangkuannya.
Ayahnya.
Ayahnya meninggal ketika Raka berumur enam tahun. Karena sakit. Karena demam yang tidak turun selama seminggu. Ia ingat pemakaman itu. Ia ingat ibunya memegang tangannya sepanjang jalan ke pemakaman. Ia ingat tanah yang basah, payung hitam, dan orang-orang yang berbisik pelan.
Ayahnya meninggal karena sakit.
Itu yang selalu ia percaya.
Itu yang selalu ibunya katakan.
Tapi laporan di pangkuannya ini mengatakan hal lain. Laporan ini mengatakan bahwa ayahnya berada di dalam mobil itu. Malam itu. Di Kilometer 17. Bersama Sari Wulandari. Sebelas tahun lalu — lima tahun setelah pemakaman yang ia ingat.
Raka menutup matanya. Pelan. Lama.
Ia mengingat sesuatu.
Sebuah peti mati yang tertutup. Sebuah pemakaman yang tidak ia izinkan melihat wajah ayahnya. Sebuah ruangan yang selalu gelap ketika ia lewat di depannya. Dan ibunya, yang setiap kali ditanya, hanya menjawab dengan satu kalimat yang sama.
Sudah, jangan diungkit lagi.
Raka membuka matanya.
Ia menatap laporan itu sekali lagi. Membaca ulang nama itu. Arman Pratama. Ayahnya. Lelaki yang seharusnya sudah meninggal lima tahun sebelum kecelakaan itu terjadi.
Lalu ia melihat sesuatu di bagian bawah laporan.
Sebuah catatan tambahan. Tulisan tangan. Miring. Tidak rapi. Seperti ditulis cepat oleh seseorang yang tangannya gemetar.
Penumpang tidak ditemukan di lokasi. Hanya barang-barang pribadi. Keluarga menolak otopsi. Kasus ditutup.
Raka menatap catatan itu lama.
Penumpang tidak ditemukan.
Hanya barang-barang pribadi.
Dan di luar lobi, di seberang jalan, di bawah pohon yang rindang, seseorang berdiri.
Berdiri saja. Menatap ke arahnya.
Raka mengangkat kepalanya.
Lelaki itu tidak bergerak. Tidak tersenyum. Tidak melambai. Tapi kali ini, Raka bisa melihat wajahnya. Tua. Keriput. Rambut yang sudah memutih di pelipis. Dan di tangannya, sebuah helm hijau pudar dengan logo aplikasi yang sudah luntur.
Raka menahan napas.
Wajah itu.
Wajah yang sama dengan foto yang tergantung di dinding rumah lamanya. Foto yang ia lihat setiap hari sampai ia berumur enam belas tahun.
Wajah ayahnya.
Dan lelaki itu — lelaki yang seharusnya sudah meninggal sebelas tahun lalu — akhirnya mengangkat tangannya. Pelan. Seperti melambai. Seperti memanggil.
Lalu ia berbisik. Tidak keras. Tapi Raka bisa mendengarnya, jelas, seolah lelaki itu berdiri tepat di samping telinganya.
"Nak. Jangan cari aku."
Raka berdiri. Map itu jatuh dari pangkuannya.
Dan ketika ia berlari ke pintu, ketika ia menyentuh kaca, ketika ia menatap ke seberang jalan — lelaki itu sudah tidak ada.
Hanya helm itu.
Tergeletak di trotoar.
Basah kuyup.
Dan di atasnya, sebuah ponsel menyala. Layarnya biru. Peta terbuka. Dan di atas peta itu, tulisan yang muncul huruf demi huruf, seperti ada yang mengetiknya dari dalam.
Pesanan baru untuk Arman Pratama.
Jemput di Halte Cempaka Lama.
Tujuan: .
Nama: .
Satu titik.
Dan di bawahnya, jam.
00.17.
Padahal matahari masih di atas kepala.