story 2 · episode 4
Penumpang di Rumah
05 menit membaca

Raka tidak membawa ponsel itu pulang.
Ia menatapnya di trotoar selama mungkin — layar biru itu, peta itu, tulisan yang muncul huruf demi huruf — lalu ia berbalik, menaiki motornya, dan pergi tanpa menyentuhnya. Ia tidak menoleh. Tidak sekali pun. Tapi sepanjang jalan pulang, ia bisa merasakan benda itu menempel di punggungnya, seperti mata yang tidak berkedip.
Ia mengunci pintu kosnya dari dalam. Menutup semua jendela. Menarik tirai.
Lalu ia mematikan ponselnya. Bukan menutup aplikasi. Bukan mode pesawat. Mati. Tombol power ditekan lama sampai layar itu benar-benar hitam.
Dan untuk pertama kalinya dalam tiga malam, Raka tidur.
* * *
Hari pertama, ia tidak bangun sampai jam dua siang.
Hari kedua, ia hanya duduk di lantai kamar, punggung menempel di dinding, menatap pintu yang terkunci. Ia tidak memasak. Ia tidak keluar. Ia hanya minum air dari keran dan menunggu malam lewat.
Hari ketiga, ia mulai percaya bahwa semuanya sudah selesai.
Mungkin memang begitu caranya. Mungkin kalau ia berhenti bekerja — kalau ia berhenti menyentuh jalanan, berhenti menerima pesanan, berhenti jadi ojek — maka hal-hal itu akan kehilangan jalannya. Kehilangan pintu masuknya. Kehilangan alasannya untuk datang.
Ia bahkan sempat tersenyum. Pelan. Pahit.
Duduk di lantai kamar kosnya, di bawah lampu yang menyala terang, Raka merasa seperti orang yang baru sembuh dari demam panjang. Lemah. Tapi hidup.
Ia salah.
* * *
Malam keempat, pukul sebelas lebih.
Raka sedang duduk di ruang tamu. Tidak melakukan apa-apa. Hanya menatap dinding, mendengarkan suara motor yang lewat di jalan, mendengarkan suara tetangga yang menutup pintu, mendengarkan suara kota yang perlahan tidur.
Ponselnya ada di atas meja. Mati. Sudah empat hari.
Lalu ponsel itu berbunyi.
Satu nada. Bersih. Terlalu bersih.
Raka membeku.
Ia menatap benda itu lama. Benda yang sama yang ia matikan dengan tangannya sendiri. Benda yang tidak mungkin menyala. Benda yang baterainya sudah ia kuras sampai nol sebelum ia menekan tombol power untuk terakhir kalinya.
Layarnya menyala.
Biru. Gelap. Peta terbuka.
Dan di atas peta itu, tulisan yang ia kenal terlalu baik muncul huruf demi huruf, seperti ada yang mengetiknya dari dalam.
Pesanan baru.
Raka tidak bergerak. Napasnya tertahan di pangkal tenggorokan. Matanya menatap layar itu tanpa berkedip, menunggu tulisan berikutnya muncul, menunggu nama, menunggu tujuan, menunggu apa pun yang akan menjelaskan bahwa ini hanya mimpi.
Tidak ada.
Hanya satu titik kecil yang berdenyut pelan di tengah peta.
Dan di bawahnya, jam.
00.17.
Raka mengulurkan tangan. Pelan. Sangat pelan. Jari-jarinya menggantung beberapa senti di atas layar itu, dan ia bisa merasakan dingin yang menjalar dari kaca ke udara di sekitarnya.
Ia tidak menyentuhnya.
Ia menarik tangannya kembali dan berdiri.
"Tidak," katanya. Suaranya sendiri terdengar asing. Terlalu kecil. Terlalu tipis di tengah ruang tamu yang sunyi.
Ia berjalan ke pintu. Memeriksa kunci. Masih terkunci. Ia berjalan ke jendela. Memeriksa grendel. Masih terkunci.
Ia berbalik.
Dan dari arah ruang tamu, seseorang bicara.
"Mas."
Suara perempuan.
Pelan. Datar. Seperti suara yang sudah lama tidak dipakai.
Raka membeku di tempatnya. Punggungnya masih menghadap ruang tamu. Tangannya masih menempel di grendel jendela yang dingin.
"Antar saya pulang."
Raka menutup matanya. Pelan. Lama.
Ia mengenal suara itu. Ia mengenal suara itu terlalu baik — suara yang sejak halte tua itu selalu datang dari jok belakang, dari dalam helmnya, dari balik kaca spion, dari dalam rumah nomor tujuh.
Suara Sari.
Ia berbalik.
Ruang tamu itu kosong.
Kursi kayu di sudut. Meja rendah dengan ponsel yang masih menyala di atasnya. Tirai yang ia tutup rapat. Lampu yang menyala terang. Tidak ada siapa-siapa. Tidak ada sosok berbaju putih. Tidak ada rambut panjang terurai. Tidak ada apa pun.
Tapi di lantai, tepat di depan pintu masuk, ada sesuatu.
Air.
Raka melangkah pelan. Kakinya menyentuh lantai keramik yang dingin, dan di bawah telapak sepatunya, sesuatu membasah. Ia menunduk.
Jejak kaki.
Basah. Kecil. Telanjang. Bentuknya jelas — tumit, telapak, jari-jari — tercetak di lantai keramik, satu demi satu, dari pintu depan, melewati ruang tamu, melewati kakinya, dan berhenti di depan pintu kamarnya.
Raka mengangkat kepalanya.
Pintu kamarnya terbuka.
Padahal ia menguncinya tadi pagi.
Padahal ia memeriksanya tadi sore.
Padahal ia baru saja berdiri di depannya lima menit lalu, dan pintu itu masih tertutup rapat.
Raka menelan ludah. Tenggorokannya kering seperti kertas yang terbakar. Ia melangkah pelan ke arah pintu itu. Satu langkah. Dua. Jejak-jejak basah itu berderet di bawah kakinya, memanjang, mengarah ke dalam kamar yang gelap.
Ia berhenti di ambang pintu.
Di dalam kamarnya, di atas kasurnya, ada sesuatu.
Sebuah kain.
Putih. Terlipat tidak rapi. Dan di ujungnya, di bagian bawah, ada warna kecokelatan yang samar.
Warna yang sama.
Warna yang ia lihat di gaun perempuan itu, di atas mata kaki, ketika hujan turun di jalan tanah menuju Kalipandan.
Raka mundur. Pelan. Satu langkah. Kakinya menyentuh sesuatu yang basah di lantai, dan ketika ia menunduk, ia melihat jejak kaki itu berbalik arah.
Bukan menuju kamar.
Tapi keluar.
Dari kamarnya, melewati ruang tamu, menuju pintu depan. Dan berhenti di ambang pintu yang masih terkunci.
Raka menatap jejak itu lama. Jantungnya berdebar terlalu keras di dalam dadanya. Napasnya tertahan.
Lalu ponsel di atas meja berbunyi lagi.
Satu nada. Bersih. Terlalu bersih.
Ia menoleh.
Layar itu masih menyala. Peta masih terbuka. Tapi tulisannya sudah berubah.
Perjalanan selesai.
Dan di bawahnya, satu baris kecil, abu-abu, hampir tidak terbaca.
Terima kasih sudah mengantar saya pulang, Mas Raka.
Raka menatap layar itu tanpa berkedip.
Ia tidak mengantar siapa pun malam ini. Ia tidak menyentuh motornya. Ia tidak keluar dari rumah. Ia hanya duduk di ruang tamu, menunggu malam lewat, dan sekarang — sekarang — ada sesuatu yang mengaku sudah ia antar pulang.
Ia menoleh ke pintu depan.
Masih terkunci.
Tapi di bawahnya, di celah antara daun pintu dan lantai, air mulai merembes masuk.
Pelan.
Sedikit demi sedikit.
Dan di luar, di bawah lampu jalan yang mati satu per satu, sesuatu menyalakan lampu.
Sebuah mobil.
Hitam. Panjang. Tidak bersuara.
Menunggu.