TAGAR MISTERI

jangan dibaca sendirian

story 4 · episode 4

Orang yang Seharusnya Mati

07 menit membaca

Orang yang Seharusnya Mati

Raka tidak pulang ke kosnya.

Ia menaiki motornya di depan dinas catatan sipil, dan meski tangannya masih gemetar, meski map 17-K masih terselip di dalam jaketnya, ia hanya menatap satu arah.

Ke selatan.

Ke jalan tanah yang menuju Halte Cempaka Lama.

Ia tidak tahu kenapa. Ia tidak tahu apa yang ia cari. Ia hanya tahu bahwa malam ini, ia harus ke sana. Untuk terakhir kalinya. Untuk menutup sesuatu yang sejak malam pertama tidak pernah ia mengerti.

Matahari turun di belakangnya. Jalan raya berubah jadi jalan desa. Jalan desa berubah jadi jalan tanah.

Dan ketika langit mulai gelap, halte tua itu muncul lagi di kejauhan.

Bangku beton retak. Tiang berkarat. Atap miring ke kiri.

Dan seseorang duduk di atas bangku itu.

* * *

Raka menghentikan motornya lima meter dari halte.

Ia tidak turun. Ia hanya menatap sosok itu lama — punggung bungkuk, rambut memutih, kedua tangan menggenggam sebuah tongkat kayu yang ujungnya sudah pecah.

Bukan Sari.

Bukan ayahnya.

Seorang lelaki tua. Duduk di bangku halte seperti orang yang sudah lama menunggu.

Raka menelan ludah. Ia mematikan mesin. Ia turun.

Langkahnya pelan. Rumput liar itu menyapu betisnya, basah, dingin, seperti jari-jari yang menyentuh. Ia berhenti dua meter dari bangku itu.

"Pak."

Lelaki tua itu tidak menoleh. Matanya menatap jalan tanah yang membentang di depan mereka, gelap, kosong, seperti jalan yang tidak pernah berujung.

"Kamu Raka."

Bukan pertanyaan.

Raka membeku.

"Saya sudah lama menunggu kamu di sini," lanjut lelaki itu. Suaranya serak. Pelan. Seperti suara yang keluar dari dalam tanah. "Sejak malam pertama kamu datang ke halte ini."

Raka menatapnya lama. "Bapak siapa?"

Lelaki itu akhirnya menoleh.

Wajahnya keriput. Matanya keruh. Kulitnya pucat seperti orang yang sudah lama tidak melihat matahari. Tapi ada sesuatu di sana — sesuatu yang membuat tengkuk Raka dingin.

"Aku dulu penjaga halte ini," katanya. "Sebelum halte ini ditutup. Sebelum jalan ini berhenti dipakai. Sebelum semua ini dimulai."

Ia berhenti.

Menatap Raka dalam-dalam.

"Dan aku kenal ayahmu."

* * *

Sunyi.

Hanya angin. Hanya rumput. Hanya napas Raka yang tertahan di pangkal tenggorokan.

"Arman Pratama," kata lelaki itu. "Lelaki yang seharusnya sudah mati lima tahun sebelum kecelakaan itu terjadi."

Raka menahan napas. Jari-jarinya mengetat di sisi tubuhnya.

"Bapak tahu ayah saya?"

Lelaki tua itu tidak langsung menjawab. Ia menunduk. Menatap tongkatnya. Lalu bicara pelan.

"Ayahmu orang terakhir yang melihat Sari Wulandari hidup-hidup."

Raka membeku.

"Malam itu," lanjut lelaki itu, "hujan deras. Aku sedang di pos kecil, di tikungan Kilometer 17. Aku lihat mobil itu lewat. Pelan. Sangat pelan. Seperti orang yang nyari sesuatu."

Ia berhenti. Menelan ludah.

"Ayahmu di dalamnya. Duduk di kursi belakang. Dan Sari… Sari di kursi kemudi."

Raka menggeleng pelan. Kepalanya berputar. Tenggorokannya kering.

"Tapi di laporan tertulis Sari yang mengemudi sendiri."

"Laporan bisa ditulis apa saja," kata lelaki itu. "Yang lihat, cuma aku."

Ia menoleh. Matanya menatap Raka lurus.

"Ayahmu seharusnya ada di mobil itu ketika mobil itu jatuh."

Raka terdiam.

Kata-kata itu menggantung di udara di antara mereka, dan untuk beberapa detik, Raka tidak bisa bernapas. Ia tidak bisa bergerak. Ia tidak bisa berpikir.

Ayahnya seharusnya ada di mobil itu.

Ayahnya seharusnya mati di sana. Bersama Sari. Di Kilometer 17. Sebelas tahun lalu.

Tapi laporan di pangkuannya tadi mengatakan hal lain. Laporan itu mengatakan penumpang tidak ditemukan di lokasi. Hanya barang-barang pribadi.

Hanya barang-barang pribadi.

Raka mengangkat kepalanya.

"Kalau begitu," katanya pelan, "kenapa ayah saya tidak ditemukan?"

Lelaki tua itu menatapnya lama.

Terlalu lama.

Lalu ia bicara. Pelan. Hampir seperti bisikan yang tidak sengaja terdengar.

"Karena malam itu," katanya, "ada seseorang yang menggantikan tempatnya."

* * *

Raka menatap lelaki tua itu tanpa berkedip.

"Menggantikan?"

Lelaki itu mengangguk. Pelan. Sangat pelan.

"Ayahmu keluar dari pintu belakang beberapa detik sebelum mobil itu jatuh. Aku lihat sendiri. Ia berdiri di pinggir jalan, menatap mobil yang jatuh ke jurang. Dan setelah itu… ia pergi. Tidak menoleh. Tidak kembali."

Ia berhenti.

"Tapi mobil itu tetap punya penumpang ketika jatuh."

Raka menelan ludah. Tenggorokannya kering seperti kertas yang terbakar.

"Siapa?"

Lelaki tua itu tidak menjawab.

Ia hanya menunduk. Menatap tongkatnya. Dan untuk pertama kalinya sejak Raka tiba, ia terlihat tua. Benar-benar tua. Seperti orang yang sudah terlalu lama memikul sesuatu yang tidak seharusnya ia pikul.

"Aku tidak tahu," katanya akhirnya. "Dan aku sudah sebelas tahun tidak berani menebak."

Ia mengangkat kepalanya.

"Yang aku tahu, setelah malam itu, tidak ada yang sama lagi. Sari hilang dari dunia ini. Ayahmu hilang dari hidupmu. Dan halte ini… halte ini mulai menerima pesanan."

Raka menahan napas.

"Pesanan?"

Lelaki itu menatapnya. Matanya keruh. Matanya lelah. Tapi ada sesuatu di sana yang membuat Raka tidak berani berkedip.

"Pesanan yang tidak pernah berhenti," katanya. "Pesanan yang tidak pernah selesai. Pesanan yang setiap malam, pukul 00.17, masuk ke ponsel orang yang berbeda. Dan setiap kali pesanan itu diterima, ada satu nama lagi yang tercatat di daftar."

Ia berhenti.

"Dua puluh tiga," lanjutnya. "Dua puluh tiga pengemudi. Kamu yang kedua puluh tiga."

Raka menggeleng pelan. "Kenapa saya?"

"Karena kamu anaknya."

Sunyi.

Raka menatap lelaki itu lama. Terlalu lama. Dan di dalam dadanya, sesuatu yang sejak malam pertama terasa salah — sesuatu yang sejak awal selalu ia tahan, selalu ia tolak, selalu ia hindari — akhirnya mulai retak.

"Anaknya?"

Lelaki tua itu tidak menjawab.

Ia hanya mengulurkan tangan. Pelan. Sangat pelan. Dan dari dalam jaket lusuhnya yang sudah pudar, ia menarik sesuatu.

Sebuah foto.

Hitam putih. Sudah menguning di tepinya. Sudah lembap di bagian tengah, seperti sesuatu yang lama disimpan di tempat yang tidak seharusnya.

Ia menyodorkannya ke Raka.

"Sebelum kamu pergi," katanya, "lihat ini."

* * *

Raka menerima foto itu dengan tangan yang gemetar.

Ia menatapnya. Pelan. Huruf demi huruf. Wajah demi wajah.

Di dalamnya, sebuah rumah. Biru tua yang kusam. Cat yang mengelupas di sana-sini. Pintu kayu yang setengah terbuka. Dan di depan rumah itu, di halaman berumput liar, tiga orang berdiri berbaris.

Seorang perempuan. Rambut panjang terurai. Baju putih. Wajah yang tenang, mata yang tidak ramah.

Sari Wulandari.

Seorang lelaki. Tinggi. Jaket gelap. Wajah yang Raka kenal terlalu baik — wajah yang ia lihat setiap hari sampai ia berumur enam belas tahun, di foto yang tergantung di dinding rumah lamanya.

Arman Pratama.

Ayahnya.

Dan di antara mereka, di tengah-tengah, memegang tangan keduanya, berdiri seorang anak kecil.

Lelaki. Mungkin lima atau enam tahun. Jaket kecil yang kebesaran. Rambut yang dipotong rapi. Dan wajah yang menatap lurus ke arah kamera, tanpa senyum, tanpa ekspresi.

Wajah itu.

Raka mengenal wajah itu.

Ia mengenal wajah itu.

Ia pernah melihat wajah itu di cermin. Setiap hari. Selama dua puluh tujuh tahun.

Anak kecil itu.

Anak kecil itu adalah dirinya.

* * *

Raka menatap foto itu tanpa berkedip.

Napasnya berhenti. Jantungnya berhenti. Waktu berhenti. Tangannya gemetar begitu hebat sampai foto itu hampir jatuh dari genggamannya, dan di bawah kakinya, rumput liar itu terasa lebih dingin dari sebelumnya.

Ia berdiri di depan rumah biru itu.

Ia berdiri di depan rumah nomor tujuh.

Ia berdiri di sana, di masa lalu yang tidak pernah ia ingat, memegang tangan ayahnya dan Sari Wulandari, dan di belakang mereka, pintu rumah itu setengah terbuka.

Raka mengangkat kepalanya.

Lelaki tua itu sudah tidak ada.

Bangku halte itu kosong. Tongkat itu tergeletak di tanah. Dan di tempat lelaki itu duduk, hanya ada satu benda.

Sebuah ponsel.

Layarnya menyala. Biru. Peta terbuka. Dan di atas peta itu, tulisan yang muncul huruf demi huruf, seperti ada yang mengetiknya dari dalam.

Pesanan baru untuk Raka Pratama.

Jemput di Rumah Nomor Tujuh.

Tujuan: .

Nama: .

Satu titik.

Dan di bawahnya, jam digital di dashboard motor Raka berkedip.

00.17.

Bukan lagi di ponsel.

Di motornya.

Dan jauh di ujung jalan tanah, di bawah lampu jalan yang mati satu per satu, sesuatu menyalakan lampu.

Sebuah rumah.

Bercat biru.

Pintunya terbuka.

kembali ke daftar story episode 4