story 1 · episode 4
Dua Puluh Tiga Pengemudi
06 menit membaca

Mobil hitam itu masih di sana ketika Raka membuka matanya.
Bukan mimpi. Bukan bayangan di balik kelopak yang baru terbuka. Ia duduk di lantai kamar, punggung menempel di dinding, dan lewat celah tirai yang tidak ia tutup sepenuhnya, dua titik lampu putih itu masih menempel di ujung jalan.
Tidak bergerak.
Tidak mendekat.
Hanya menunggu.
Raka tidak berani tidur. Ia duduk di sana sampai langit di luar berubah kelabu, sampai lampu jalan mati satu per satu karena matahari datang, dan ketika ia memberanikan diri menyingkap tirai — mobil itu sudah tidak ada.
Aspal di bawahnya kering. Tidak ada bekas ban. Tidak ada jejak apa pun.
Seperti tidak pernah ada.
* * *
Ponselnya berbunyi pukul sembilan pagi.
Nomor Dimas.
Bukan pesan. Panggilan.
Raka menatap layar itu lama sebelum mengangkat. Tenggorokannya kering. Jari-jarinya dingin.
"Halo."
"Kamu masih hidup."
Suara Dimas serak. Terdengar jauh. Seperti orang yang bicara sambil menahan sesuatu di dalam dadanya.
"Kamu pergi tadi malam," kata Raka.
"Aku harus."
Hening.
"Aku punya sesuatu," lanjut Dimas. "Aku kirim ke email kamu. Jangan buka di jalan. Jangan buka di tempat gelap. Buka di tempat yang ada orang lain."
"Dimas—"
"Aku dua tahun ngumpulin ini," potongnya. "Aku nggak pernah berani lihat semuanya sekaligus. Tapi kamu harus lihat. Kamu udah kelewat jauh."
Suara itu bergetar.
"Dan satu lagi."
Raka menahan napas.
"Kalau di dalamnya ada nama kamu, jangan kaget. Aku udah lihat."
Sambungan itu mati.
* * *
Raka membuka laptopnya di sebuah warung kopi di pusat kota.
Siang. Ramai. Orang-orang lewat dengan gelas kertas di tangan. Musik dangdut pelan dari speaker langit-langit. Suara sendok berdenting di cangkir.
Ia butuh tempat seperti ini. Tempat yang hidup. Tempat yang tidak mungkin ada sesuatu berdiri di balik pintu.
Email itu masuk pukul sembilan lewat lima belas. Tanpa subjek. Tanpa isi. Hanya satu lampiran.
Sebuah folder terkompresi.
Namanya: 23.
Raka menekan unduh. Menunggu. Membukanya.
Dan di dalamnya, dunia yang selama ini ia tidak tahu pernah ada.
* * *
Tangkapan layar. Puluhan. Ratusan. Semuanya dari aplikasi ojek yang sama.
Layar biru gelap. Peta. Dan di setiap sudut kiri atas, tulisan yang sama, huruf yang sama, jarak yang sama.
Jemput di Halte Cempaka Lama.
Tujuan: Desa Kalipandan.
Nama: .
Satu titik. Satu titik kecil yang berdenyut pelan.
Raka menggulir. Perlahan. Satu per satu.
Tanggal pertama: dua belas tahun lalu. Tanggal kedua: sebelas tahun lalu. Ketiga. Keempat. Kelima.
Semuanya berbeda tahun. Semuanya berbeda bulan. Tapi semuanya jatuh di minggu yang sama — minggu ketika kecelakaan di Kilometer 17 diperingati di berita-berita lokal. Minggu ketika nama Sari Wulandari muncul lagi di koran, di unggahan, di doa orang-orang yang masih mengingatnya.
Raka berhenti menggulir.
Di bawah setiap tangkapan layar, Dimas menempelkan catatan. Nama pengemudi. Nomor telepon. Tanggal. Dan satu kolom terakhir yang membuat tengkuk Raka dingin.
Status.
Raka membaca pelan.
Dibatalkan.
Dibatalkan.
Diantar.
Dibatalkan.
Diantar.
Ia menggulir lagi. Lebih cepat. Jantungnya berdebar terlalu keras di dalam dadanya, dan ia bisa merasakan kopi di meja itu bergetar setiap kali tangannya menyentuh cangkir.
Sampai ia berhenti.
Di baris ketujuh belas, statusnya bukan dibatalkan. Bukan diantar.
Hilang.
Raka menelan ludah. Ia membaca nama di bawahnya. Lelaki. Tiga puluh satu tahun. Ojek. Terakhir terlihat di jalan menuju Kalipandan, dua tahun lalu, pukul setengah dua pagi.
Ia menggulir lagi.
Baris kedua puluh satu. Hilang.
Baris kedua puluh dua. Hilang.
Raka menutup matanya. Pelan.
Tiga orang. Tiga pengemudi ojek. Tiga nama yang tidak pernah ia kenal, tapi terasa seperti nama-nama yang seharusnya ia kenal. Seperti nama-nama yang pernah disebut di grup chat tengah malam, di antara tawa dan cerita hantu, sebelum ia sendiri berhenti percaya.
Ia membuka matanya.
Dan baris terakhir membuat darahnya berhenti mengalir.
Baris kedua puluh tiga.
Tangkapan layar yang sama. Jemput di Halte Cempaka Lama. Tujuan Kalipandan. Nama kosong. Satu titik.
Tapi di kolom status, tidak ada tulisan.
Hanya jam.
00.17.
Dan di bawah jam itu, sebuah tanggal.
Malam ini.
* * *
Raka menatap layar laptop itu tanpa berkedip.
Dua puluh tiga. Dua puluh tiga pengemudi. Dua puluh tiga pesanan. Semuanya dari halte yang sama. Semuanya ke desa yang sama. Semuanya di minggu yang sama, di sekitar tanggal ketika Sari Wulandari meninggal.
Sebagian membatalkan. Sebagian mengantar sampai tujuan.
Tiga hilang.
Dan satu — satu yang terakhir — adalah dirinya.
Raka menggeser layar. Membuka file berikutnya. Sebuah dokumen teks. Panjang. Ditulis oleh Dimas. Tidak rapi. Banyak salah ketik. Seperti sesuatu yang ditulis cepat, di tengah malam, oleh seseorang yang tangannya gemetar.
Ia membaca pelan.
Aku sudah hubungi semua yang bisa aku hubungi. Yang batal, mereka masih hidup. Tapi tiap malam jam 00.17, ponsel mereka bunyi. Tiap malam. Ada yang udah pindah kota, ganti nomor, ganti nama. Tetap bunyi. Yang ngantar, mereka nggak pernah balas. Yang hilang, aku nggak berani cari.
Yang aku nggak ngerti, kenapa aku masih hidup. Aku batal. Aku harusnya aman. Tapi helm itu tetap muncul. Tiap malam. Tiap pagi. Basah.
Dan sekarang aku ngerti.
Raka berhenti membaca.
Halaman itu kosong. Sisa paragrafnya terpotong. Seperti Dimas berhenti menulis di tengah kalimat, atau seperti ada yang menghapusnya.
Raka menggulir ke bawah.
Dan di bagian paling bawah dokumen itu, di antara baris-baris kosong, ada satu kalimat lagi. Kecil. Hampir tidak terbaca.
Yang batal bukan berarti aman. Yang batal cuma nunggu giliran.
* * *
Raka menutup laptopnya.
Tangannya dingin. Kopi di depannya sudah lama tidak ia sentuh. Di sekelilingnya, warung itu masih hidup — orang-orang masih bicara, masih tertawa, masih menyeruput minuman mereka. Tapi suara-suara itu terasa jauh. Seperti datang dari balik dinding kaca yang tebal.
Ia menoleh ke jendela.
Di seberang jalan, di bawah pohon yang rindang, seorang lelaki berdiri.
Berdiri saja. Menatap ke arahnya.
Raka mengerutkan dahi. Lelaki itu tidak bergerak. Tidak tersenyum. Tidak melambai. Hanya berdiri, dengan kedua tangan tergantung di sisi tubuh, dan di tangannya — di tangan kanannya — ada sesuatu yang ia pegang terlalu erat.
Helm.
Hijau pudar. Logo aplikasi yang sudah luntur.
Raka menahan napas.
Ia mengalihkan pandangan ke laptopnya. Menutupnya. Membukanya lagi. Menutupnya lagi.
Ketika ia mendongak lagi, lelaki itu sudah tidak ada.
Tapi di trotoar tempat ia berdiri, sesuatu tergeletak.
Sebuah ponsel.
Layarnya menyala. Biru. Peta terbuka. Dan di atas peta itu, sebuah tulisan muncul huruf demi huruf, seperti ada yang mengetiknya dari dalam.
Pesanan baru untuk Raka Pratama.
Jemput di Halte Cempaka Lama.
Tujuan: .
Nama: .
Satu titik.
Dan di bawahnya, jam digital di ponsel itu berkedip.
00.17.
Padahal matahari masih di atas kepala.