TAGAR MISTERI

jangan dibaca sendirian

story 3 · episode 3

Helm Milik Orang yang Hilang

07 menit membaca

Helm Milik Orang yang Hilang

Mobil hitam itu tidak bergerak.

Raka juga tidak. Ia duduk di atas motornya di pinggir jalan raya, tangan masih menggenggam kunci bagasi yang terbuka, dan helm hijau pudar itu masih di sana — basah, menetes, seperti sesuatu yang baru saja diambil dari air.

Lampu jalan di ujung sana mati satu per satu.

Tok. Tok. Tok.

Dan mobil itu masih menunggu.

Raka tidak menunggu sampai lampu terakhir padam. Ia menutup bagasi, menyalakan mesin, dan memutar gas ke arah yang berlawanan — bukan ke arah mobil itu, bukan ke arah Kalipandan, tapi ke arah kota, ke arah apa pun yang masih punya cahaya.

Ia tidak menoleh. Tidak sekali pun.

Tapi sepanjang jalan, ia bisa merasakan dua titik lampu putih itu menempel di punggungnya, tidak mendekat, tidak menjauh, hanya mengikuti.

Sampai simpang pertama.

Lalu hilang.

* * *

Pukul tujuh pagi, Raka duduk di bangku halte bus kota. Bukan halte Cempaka Lama. Halte biasa — beton bersih, lampu menyala, orang-orang lewat dengan kopi di tangan.

Ia menatap ponselnya yang sudah dicas di minimarket.

Nomor Dimas masih tersimpan di riwayat pesan. Balasan terakhirnya terpotong. Kalau helmnya bas—

Raka mengetik.

Saya masih hidup. Saya mau ketemu. Sekarang.

Ia menekan kirim.

Balasan itu datang tidak sampai satu menit.

Dimana kamu?

* * *

Mereka bertemu di sebuah warung kopi pinggir jalan, tiga jam dari kota. Dimas memilih tempat itu. Katanya, ia tidak bisa masuk kota lagi. Katanya, sesuatu di kota itu mengenalnya.

Raka mengenali Dimas dari cara ia duduk.

Punggung membungkuk. Kedua tangan menggenggam gelas kopi yang tidak pernah ia minum. Matanya terus bergerak ke pintu, ke jendela, ke orang-orang yang lewat. Seperti seseorang yang sudah lama tidak keluar rumah.

Umurnya mungkin tiga puluhan. Tapi wajahnya lebih tua dari itu. Kulitnya pucat, kantung matanya hitam, dan di pergelangan tangannya, Raka melihat sesuatu — bekas luka melingkar, tipis, seperti bekas tali.

"Kamu dapet pesanannya," kata Dimas.

Bukan pertanyaan.

Raka mengangguk.

"Ke rumah nomor tujuh?"

Raka mengangguk lagi.

Dimas menutup matanya. Pelan. Lama. Ketika ia membukanya, ada sesuatu di sana yang tidak bisa Raka namai.

"Aku dua tahun lalu batalin," katanya. "Aku nggak pernah ke Kalipandan. Aku nggak pernah lihat rumah itu. Tapi tiap malam, jam 00.17, aku denger pintu kamarku kebuka sendiri."

Ia berhenti. Menelan ludah.

"Dan tiap pagi, ada sesuatu yang basah di lantai."

Raka menatapnya lama.

"Helm," katanya.

Dimas mengangguk.

* * *

Mereka berangkat sore itu.

Raka tidak tahu kenapa Dimas mau ikut. Tapi ia tidak bertanya. Ada hal-hal yang lebih baik tidak dijelaskan.

Mereka naik dua motor. Raka di depan, Dimas di belakang — jauh, tiga puluh meter, seperti orang yang tidak ingin terlalu dekat dengan sesuatu yang mengikuti Raka.

Matahari turun. Jalan raya berubah jadi jalan desa. Jalan desa berubah jadi jalan tanah. Dan ketika langit mulai gelap, mereka sampai di mulut jalan yang menuju Halte Cempaka Lama.

Dimas menghentikan motornya.

"Aku nggak bisa lewat situ," katanya. Suaranya serak.

Raka menoleh.

"Kenapa?"

"Aku udah dua tahun nggak bisa lewat situ."

Raka menatap jalan tanah yang membentang di depan mereka. Di ujungnya, samar-samar, ia bisa melihat bangku beton retak, tiang berkarat, atap yang miring ke kiri.

Halte itu.

Ia menghela napas. "Ya sudah. Kamu tunggu sini. Saya cek sebentar."

Dimas tidak menjawab. Ia hanya menunduk, kedua tangannya masih menggenggam setang motornya terlalu erat.

Raka memutar gas pelan dan menyusup ke jalan tanah itu.

* * *

Halte Cempaka Lama tidak berubah.

Bangku beton retak. Tiang berkarat. Atap miring ke kiri. Lampu yang sudah mati sejak lama.

Raka menghentikan motornya lima meter dari halte. Ia tidak turun. Ia hanya menatap bangku kosong itu, dan di dalam dadanya, sesuatu mengetat pelan — seperti tali yang ditarik dari kedua ujungnya.

Di sinilah semuanya dimulai.

Ia menoleh ke kiri. Ke kanan. Ke rumput liar di pinggir halte, ke semak-semak yang tumbuh terlalu rapat, ke tanah yang tidak pernah kering.

Dan di antara semak-semak itu, sesuatu berkilau.

Raka turun dari motornya. Langkahnya pelan. Rumput liar itu menyapu betisnya, basah, dingin, seperti jari-jari yang menyentuh.

Ia berjongkok.

Sebuah helm.

Hijau pudar. Logo aplikasi yang sudah luntur. Tali pengikatnya terurai di tanah, menjulur seperti lidah yang lepas.

Raka menahan napas. Helm itu sama. Persis sama dengan helm yang ia temukan di bagasinya tadi malam. Persis sama dengan helm yang tergantung di pagar jembatan itu.

Ia mengulurkan tangan. Pelan. Mengangkat helm itu.

Berat. Basah. Dan di dalamnya, terselip sesuatu.

Secarik kertas.

Raka mencabutnya. Kertas itu terlipat dua, menguning di tepinya, lembap di bagian tengah. Ia membukanya pelan.

Tulisan tangan. Miring. Tidak rapi. Seperti ditulis cepat oleh seseorang yang tangannya gemetar.

Nomor pesanan: 8817-23.

Jemput: Halte Cempaka Lama.

Tujuan: Desa Kalipandan.

Pengemudi: Dimas Saputra.

Raka menatap nama itu lama. Jari-jarinya dingin. Ia menggeser kertas itu, mencari tanggal di sudut bawah.

Dan ia menemukannya.

Tanggalnya.

Tiga hari setelah malam ketika Dimas mengaku membatalkan pesanan itu.

Raka membeku.

Ia membaca ulang. Perlahan. Huruf demi huruf. Tiga hari setelah Dimas bilang ia membatalkan pesanan itu. Tiga hari setelah ia mematikan aplikasinya, pulang, dan tidur. Tiga hari setelah ia memutuskan untuk tidak pergi.

Tapi pesanan itu tetap tercatat. Sudah selesai. Sudah diantar.

Oleh Dimas.

* * *

Raka berjalan kembali ke mulut jalan tanah. Langkahnya cepat. Napasnya berat. Kertas itu masih di tangannya, masih lembap, masih dingin.

Dimas masih di sana. Duduk di atas motornya, menunduk, kedua tangan masih menggenggam setang.

"Dimas."

Dimas mengangkat kepalanya.

Raka menyodorkan kertas itu.

"Ini apa?"

Dimas menatap kertas itu. Pelan. Matanya bergerak dari satu baris ke baris lain. Dari nomor pesanan. Ke tujuan. Ke namanya.

Dan wajahnya berubah.

Bukan pucat seperti orang kaget. Bukan pucat seperti orang takut. Pucat seperti orang yang baru saja melihat sesuatu yang sudah lama ia kubur, dan sekarang berdiri di depannya, menatapnya lurus.

"Ini…"

Suaranya tidak keluar. Hanya gerakan bibir.

Raka menatapnya. "Kamu bilang kamu batalin. Kamu bilang kamu nggak pernah ke Kalipandan."

Dimas tidak menjawab.

Ia masih menatap kertas itu. Jari-jarinya mulai gemetar. Gemetar begitu hebat sampai kertas itu bergetar di tangannya, dan Raka bisa melihat sesuatu yang aneh — Dimas tidak membaca kertas itu seperti orang membaca tulisan asing.

Ia membacanya seperti orang membaca tulisannya sendiri.

"Dimas."

Dimas mendongak. Matanya merah. Ada sesuatu di sana yang bukan air mata.

"Tulisan ini…" katanya. Pelan. Hampir tidak terdengar.

Ia berhenti.

Menelan ludah.

Dan suaranya keluar seperti napas terakhir seseorang yang sudah lama mati.

"Tulisan ini tulisanku."

Raka menahan napas.

"Aku nggak pernah nulis ini," lanjut Dimas. Tangannya gemetar. Kertas itu jatuh dari genggamannya, melayang pelan, menyentuh tanah basah di antara mereka. "Aku nggak pernah nulis ini. Aku nggak pernah nerima pesanan ini. Aku nggak pernah ke Kalipandan."

Ia berhenti. Menatap Raka. Dan matanya — mata yang tadi sayu, mata yang tadi lelah — sekarang terbuka lebar, putih, tidak berkedip.

"Tapi ini tulisanku."

Angin malam bertiup. Kertas itu bergerak pelan di tanah, tersapu rumput, dan di ujung jalan tanah, di bawah atap halte yang miring ke kiri, sesuatu bergerak.

Raka menoleh.

Bangku beton itu kosong.

Tapi di atasnya, di tempat yang tadi kosong, kini tergeletak sebuah helm.

Hijau pudar. Logo aplikasi yang sudah luntur.

Dan di atas helm itu, sebuah ponsel menyala.

Layarnya biru. Petanya terbuka. Dan di atas peta itu, sebuah tulisan muncul huruf demi huruf, seperti ada yang mengetiknya dari dalam.

Pesanan baru untuk Dimas Saputra.

Jemput di Halte Cempaka Lama.

Tujuan: .

Nama: .

Satu titik. Hanya satu titik.

Dan di bawahnya, jam digital di dashboard motor Raka berkedip.

00.17.

kembali ke daftar story episode 3