TAGAR MISTERI

jangan dibaca sendirian

story 2 · episode 3

Pengemudi yang Tidak Pernah Kembali

05 menit membaca

Pengemudi yang Tidak Pernah Kembali

Nama itu.

Raka Pratama. 00.17. Tanggalnya malam ini.

Ia menatap layar ponselnya tanpa berkedip. Tabel itu masih terbuka. Baris pertama di daftar, dan di kolom paling kanan, titik kecil itu berdenyut pelan — seperti jantung yang menunggu.

Baterai tiga persen.

Ia menggulir. Pelan. Takut. Dan setiap nama yang muncul membuat sesuatu di dalam dadanya mengetat satu tingkat lebih keras.

Nama kedua. Tanggal: sebelas tahun lalu. Nama ketiga. Tanggal: sepuluh tahun lalu. Nama keempat. Kesembilan. Kelima belas.

Semuanya pengemudi. Semuanya ojek. Semuanya hilang.

Raka menelan ludah. Tenggorokannya kering seperti kertas yang terbakar.

Lalu ia berhenti menggulir.

Di baris kesembilan belas, ada nama yang berbeda. Bukan karena namanya. Bukan karena tanggalnya. Tapi karena di kolom paling kanan, di tempat yang seharusnya kosong, ada satu kata kecil yang tercetak abu-abu.

Kembali.

Dimas Saputra. Dua tahun lalu.

Raka menekan nama itu.

* * *

Halaman itu membuka sebuah utas forum. Tua. Berdebu. Judulnya sederhana, huruf kecil, seperti ditulis oleh orang yang tidak ingin ditemukan.

Ada yang pernah dapet pesanan dari Halte Cempaka Lama? Tujuan Kalipandan?

Raka menahan napas.

Di bawah judul itu, sebuah tangkapan layar.

Ia mengenalnya. Ia mengenal tampilan itu. Layar biru gelap. Peta yang menunjuk ke sebuah titik. Jemput di Halte Cempaka Lama. Tujuan: Desa Kalipandan. Jarak empat puluh menit.

Dan tarifnya.

Angka yang sama. Persis sama. Sampai ke digit terakhir.

Raka menggulir ke bawah. Jari-jarinya dingin di atas layar.

Di bawah tangkapan layar itu, Dimas menulis. Panjang. Tidak rapi. Seperti sesuatu yang ditulis cepat, di tengah malam, oleh seseorang yang tangannya masih gemetar.

Aku dapet ini dua tahun lalu. Malam. Hujan. Aku udah delapan jam di jalan, dompet tipis, jadi aku hampir nerima. Tapi ada yang aneh. Nama penumpangnya kosong. Cuma satu titik. Aku telepon, nggak nyambung. Bukan nada sibuk. Bukan nada mati. Sunyi. Kayak nelpon ke ruang kosong.

Raka membaca pelan. Setiap kata terasa seperti jarum yang menusuk tengkuknya.

Aku batalin. Aku takut. Aku matiin aplikasi, aku pulang, aku tidur. Aku pikir udah selesai.

Ia berhenti. Menelan ludah.

Tiga hari kemudian, aku bangun pagi, dan helm cadanganku ada di lantai kamar. Basah kuyup. Air netes dari visornya, bikin genangan kecil di karpet. Padahal kamarku dikunci dari dalam. Jendela ketutup. Nggak ada yang masuk. Nggak ada yang keluar. Dan helm itu — helm itu masih di bagasi motorku. Aku cek. Masih ada di sana. Kering.

Sunyi.

Raka menatap layar itu lama. Baterai dua persen.

Ia menggulir lagi. Ke balasan terakhir di utas itu. Ditulis oleh Dimas. Tanggalnya setahun lalu.

Sejak malam itu, tiap jam 00.17, ponselku bunyi. Notifikasi pesanan baru. Lokasi jemput sama. Tujuan sama. Tarif sama. Tiap malam. Tiap malam. Aku udah hapus aplikasinya. Aku udah ganti nomor. Aku udah ganti ponsel. Tapi tetap bunyi. Tiap jam 00.17. Aku nggak pernah berani buka. Aku takut kalau aku buka, aku bakal nerima.

Lalu satu baris terakhir. Kecil. Hampir tidak terbaca.

Kalau ada yang baca ini, tolong. Jangan pernah terima pesanan dari halte itu. Jangan pernah.

Raka menutup matanya.

Pelan. Lama.

Tangannya masih gemetar. Ponsel di genggamannya terasa dingin, lebih dingin dari yang seharusnya, seperti sesuatu yang sudah lama mati.

Ia membuka mata. Menatap layar. Baterai satu persen.

Ia menekan nama Dimas. Membuka profilnya. Ada tombol kirim pesan. Abu-abu. Tidak aktif.

Akun itu sudah lama tidak aktif. Terakhir masuk: dua tahun lalu. Tepat setelah utas itu.

Raka menahan napas.

Ia menggeser layar ke bawah. Mencari apa pun. Komentar. Balasan. Jejak. Dan di bagian paling bawah halaman, di antara tautan-tautan yang sudah pudar, ia menemukan sesuatu.

Sebuah nomor telepon. Ditulis di kolom komentar, oleh akun tanpa nama, dua tahun lalu.

Ini nomor Dimas. Dia masih hidup. Dia cuma nggak bisa keluar lagi.

Raka menatap nomor itu lama.

Baterai satu persen.

Ia menekan nomor itu. Menyalinnya. Membuka aplikasi pesan. Menempel. Dan sebelum ia sempat berpikir — sebelum ia sempat bertanya pada dirinya sendiri apakah ini keputusan yang benar — jempolnya menekan kirim.

Halo. Ini Raka. Saya baca utas kamu. Malam ini saya antar penumpang dari halte itu. Ke Kalipandan.

Layar itu berkedip.

Baterai satu persen.

Raka menunggu. Satu detik. Dua detik. Lima detik. Sepuluh. Tidak ada balasan. Tentu saja tidak ada. Nomor itu mungkin sudah mati. Nomor itu mungkin milik seseorang yang sudah lama tidak memegang ponselnya. Nomor itu mungkin—

Layar itu menyala.

Satu notifikasi.

Raka membeku. Jantungnya berhenti satu ketukan.

Ia menekan notifikasi itu. Pelan. Sangat pelan.

Pesan itu terbuka.

Dari nomor Dimas.

Hanya tiga kata.

Jangan buka pintu.

Raka menatap pesan itu tanpa berkedip. Tangannya dingin. Tengkuknya dingin. Seluruh tubuhnya dingin.

Ia mengetik balasan. Cepat. Panik.

Pintu apa? Maksud kamu apa? Saya di jalan raya sekarang. Saya udah keluar dari rumah itu.

Ditunggu.

Satu detik. Dua detik. Lima.

Layar itu berkedip.

Baterai nol persen.

Dan sebelum ponsel itu benar-benar mati, sebelum layar itu menghitam sepenuhnya, satu pesan terakhir masuk. Terpotong. Hanya setengah yang terbaca.

Dia nggak ngejar kamu. Dia udah di depan. Cek helm kamu. Cek bagasi kamu. Kalau helmnya bas—

Layar itu mati.

Hitam. Kosong. Seperti tidak pernah menyala.

Raka menatap ponsel mati di tangannya lama. Napasnya tertahan. Jari-jarinya gemetar begitu hebat sampai ia hampir menjatuhkan benda itu ke aspal.

Lalu ia mendongak.

Jalan raya itu sepi. Lampu oranye pucat di atas kepalanya. Truk-truk besar sudah lama tidak melintas. Dan di samping motornya, bagasi belakang masih tertutup rapat. Masih terkunci. Masih seperti yang ia tinggalkan sejak halte tua itu.

Raka menelan ludah.

Ia tidak ingin membukanya.

Ia tidak ingin tahu.

Tapi tangannya sudah bergerak sendiri — pelan, hati-hati, seperti tangan orang lain yang meminjam tubuhnya — dan jari-jarinya menyentuh kunci bagasi itu.

Klik.

Bagasi itu terbuka.

Dan di dalamnya, di atas jas hujan yang selalu ia simpan, helm cadangan itu — helm hijau pudar dengan logo aplikasi yang sudah luntur — basah kuyup.

Air menetes dari visornya. Satu. Dua. Tiga kali. Membentuk genangan kecil di dasar bagasi yang seharusnya kering.

Raka mundur. Satu langkah. Dua.

Dan jauh di ujung jalan raya, di bawah lampu jalan yang mati satu per satu, sesuatu menyalakan lampu.

Sebuah mobil.

Hitam. Panjang. Tidak bersuara.

Menunggu.

kembali ke daftar story episode 3