story 4 · episode 3
Panggilan Terakhir Sari
05 menit membaca

Dimas tidak menunggu sampai helm itu selesai berkedip.
Ia berbalik, menyalakan motornya, dan melesat pergi. Raka sempat memanggil namanya sekali. Dua kali. Tapi suara itu tenggelam di balik gemuruh mesin yang menjauh, dan dalam hitungan detik, lampu belakang motor Dimas hilang di tikungan.
Raka berdiri sendirian di mulut jalan tanah itu.
Di belakangnya, halte tua itu masih menunggu. Helm hijau pudar. Ponsel yang menyala. Tulisan kecil yang muncul huruf demi huruf di atas peta.
Ia tidak menoleh. Ia menyalakan motornya dan pergi ke arah yang berlawanan.
Tapi sebelum ia sempat menyentuh aspal, ponsel di sakunya bergetar.
Bukan pesanan.
Sebuah pesan. Dari nomor tak dikenal.
Kalau kamu mau tahu apa yang sebenarnya terjadi, temui Pak Warsito. Penjaga jalan lama. Dia masih hidup.
Raka menatap layar itu lama. Jari-jarinya dingin.
Ia tidak membalas. Ia tidak menghapus. Ia hanya menyimpan nomor itu, entah kenapa, dan memutar gas ke arah kota.
* * *
Pak Warsito tinggal di sebuah gubuk kayu di pinggir jalan raya, tiga kilometer dari Kilometer 17.
Rumahnya kecil. Dindingnya dari papan yang sudah menghitam. Atapnya seng berkarat. Di depannya, sebuah kursi plastik merah, dan di atas kursi itu, seorang lelaki tua duduk menghadap jalan.
Raka menghentikan motornya di seberang.
Ia tidak langsung turun. Ia menatap lelaki itu lama. Punggungnya bungkuk. Rambutnya putih semua. Tangannya memegang tongkat kayu yang ujungnya sudah pecah.
Dan ia tidak bergerak.
Seperti patung yang menunggu sesuatu.
Raka menyeberang. Langkahnya pelan. Ia berhenti dua meter dari kursi plastik itu.
"Pak Warsito?"
Lelaki tua itu tidak menoleh. Matanya tetap menatap jalan raya yang sepi.
"Saya Raka. Saya mau tanya soal kecelakaan di Kilometer 17. Sebelas tahun lalu."
Sunyi.
Hanya angin. Hanya suara truk yang lewat jauh di kejauhan.
Lalu lelaki itu bicara.
"Kamu pengemudi ojek."
Bukan pertanyaan.
Raka mengangguk.
"Aku sudah lama menunggu salah satu dari kalian datang."
Ia menoleh. Pelan. Sangat pelan. Dan matanya — mata yang sudah keruh, mata yang sudah lama menatap jalan ini — menatap Raka lurus.
"Duduk."
* * *
Pak Warsito dulu penjaga jalan. Bukan polisi. Bukan petugas resmi. Hanya lelaki yang duduk di pos kecil dekat tikungan, memeriksa kendaraan yang lewat, dan kadang menolong orang yang mogok.
"Malam itu hujan deras," katanya. Suaranya serak. Pelan. Seperti suara yang keluar dari dalam tanah. "Aku sedang di pos. Sendirian. Tidak ada yang lewat sejak pukul sebelas."
Ia berhenti. Menelan ludah.
"Lalu aku dengar mobil."
Raka menegakkan punggungnya.
"Bukan mobil yang lewat biasa. Bukan mobil yang ngebut. Mobil yang… pelan. Sangat pelan. Seperti orang yang nyari sesuatu."
Ia menatap Raka.
"Aku keluar. Aku lihat lampu belakangnya di tikungan. Dan aku dengar suara perempuan. Dari dalam mobil itu."
Raka menahan napas.
"Dia menangis."
Pak Warsito menunduk. Tangannya yang keriput menggenggam tongkatnya lebih erat.
"Dia sedang menelepon. Aku dengar dari luar. Dia bilang, kamu di mana? Kamu kenapa nggak jemput aku? Aku udah nunggu di halte."
Raka membeku.
"Aku dengar dia bilang itu berkali-kali. Sambil nangis. Sambil nyetir. Aku udah mau ngejar, tapi mobil itu udah jauh. Dan aku… aku cuma penjaga jalan. Aku nggak bisa apa-apa."
Ia berhenti. Menatap jalan raya yang kosong di depan mereka.
"Lalu aku dengar suara benturan."
Sunyi.
Raka menelan ludah. Tenggorokannya kering.
"Dia nyetir sendiri?"
Pak Warsito tidak langsung menjawab.
"Itu yang tertulis di catatan," katanya akhirnya. "Kecelakaan tunggal. Perempuan mengemudi sendirian. Mobilnya jatuh ke jurang di tikungan Kilometer 17."
Ia menoleh. Matanya menatap Raka dalam-dalam.
"Tapi aku lihat sendiri, Nak."
Suaranya turun. Hampir tidak terdengar.
"Sebelum mobil itu jatuh, aku lihat seseorang keluar dari pintu belakang. Berdiri di pinggir jalan. Menatap ke arah mobil yang jatuh."
Raka menahan napas.
"Lelaki," kata Pak Warsito. "Pakai jaket ojek."
* * *
Raka pulang ke kosnya pukul sebelas malam.
Ia tidak tidur. Ia duduk di lantai kamar, punggungnya menempel di dinding, dan ponselnya di tangan. Ia sudah membaca ulang semua berita itu. Semua catatan polisi. Semua utas forum.
Dan satu hal yang tidak bisa ia lupakan.
Pak Warsito melihat seorang pengemudi ojek keluar dari mobil itu.
Sebelum kecelakaan.
Sebelum Sari jatuh ke jurang.
Raka menutup matanya. Pelan. Lama.
Lalu ponsel di tangannya bergetar.
Satu nada. Bersih. Terlalu bersih.
Nomor tak dikenal.
Sebuah pesan suara. Satu menit tiga puluh detik.
Raka menatapnya lama. Jarinya menggantung di atas tombol putar.
Ia menekan.
* * *
Rekaman itu pecah.
Suara hujan. Suara mesin mobil. Suara napas perempuan yang tertahan. Lalu suara itu — suara Sari.
"Kamu di mana? Kamu kenapa nggak jemput aku?"
Suaranya bergetar. Basah. Seperti orang yang sudah lama menangis.
"Aku udah nunggu di halte. Aku udah nunggu lama. Kamu bilang kamu datang. Kamu bilang…"
Suara itu terpotong.
Lalu benturan.
Keras. Panjang. Kaca pecah. Logam tertekuk. Dan di antara semua suara itu, di antara gemuruh yang menghentikan napas, satu suara teriak. Jelas. Tajam. Menembus semuanya.
"Raka, kenapa kamu tidak menjemputku?"
Rekaman itu berhenti.
Raka menatap layar ponselnya tanpa berkedip. Tangannya gemetar begitu hebat sampai ponsel itu jatuh dari genggamannya, membentur lantai, dan layarnya tetap menyala.
Di bawah rekaman itu, sebuah tulisan muncul. Huruf demi huruf. Seperti ada yang mengetiknya dari dalam.
Dia meneleponmu malam itu.
Pukul 00.17.
Kamu tidak mengangkatnya.
Dan di luar jendela kamarnya, di bawah lampu jalan yang mati satu per satu, sesuatu menyalakan lampu.
Sebuah mobil.
Hitam. Panjang.
Menunggu.