story 1 · episode 3
Berita dari Sebelas Tahun Lalu
05 menit membaca

Raka berlari.
Bukan karena ia memutuskan. Bukan karena ia berani. Tapi karena kakinya bergerak sendiri — melewati lorong gelap, melewati sosok berbaju putih yang mengangkat tangan itu, melewati ambang pintu yang masih terbuka sedikit — dan sebelum ia sempat berpikir, ia sudah di luar, di halaman berumput liar, di depan pagar berkarat, di samping motornya yang masih dingin.
Ia menyalakan mesin. Tangannya gemetar begitu hebat sampai setang itu bergetar di genggamannya.
Ia tidak menoleh ke belakang.
Tidak ke rumah biru itu. Tidak ke pintu yang masih terbuka. Tidak ke jendela-jendela yang gelap.
Ia hanya memutar gas, dan motor itu melesat keluar dari halaman, menyusup ke gang sempit, melewati lapangan, melewati warung yang lampunya sudah padam, melewati desa yang sunyi.
Ia tidak berhenti sampai aspal menyentuh rodanya lagi.
* * *
Pukul empat pagi.
Raka duduk di atas motornya di pinggir jalan raya yang sepi. Lampu jalan menyala oranye pucat di atas kepalanya. Truk-truk besar melintas sesekali, gemuruhnya menghilang cepat, dan setelah itu sunyi lagi.
Ia menatap ponselnya.
Mati. Masih mati. Sudah dua jam sejak layar itu menghitam di rumah nomor tujuh, dan tidak ada yang bisa ia lakukan untuk menghidupkannya.
Tapi bukan ponsel yang membuat tangannya masih gemetar.
Nama itu.
Sari Wulandari.
Nama yang tertulis di layar itu. Nama yang ia kenal. Nama yang pernah ia lihat di koran lama, sebelas tahun lalu, ketika ibunya menangis di ruang tamu dan ia tidak mengerti kenapa.
Raka menelan ludah. Tenggorokannya kering.
Ia menyalakan ponselnya sekali lagi. Menekan tombol power lama-lama. Layar itu berkedip. Berkedip. Lalu menyala.
Baterai lima belas persen.
Cukup.
Ia membuka peramban. Jari-jarinya masih gemetar di atas layar. Ia mengetik nama itu pelan-pelan, huruf demi huruf, seperti sedang menulis mantra yang tidak seharusnya ia ucapkan.
Sari Wulandari.
Lalu ia menekan cari.
* * *
Hasil pertama bukan berita.
Sebuah unggahan lama di sebuah forum. Judulnya sederhana. Kecelakaan di Km 17, perempuan muda meninggal.
Raka menekannya.
Halaman itu terbuka pelan. Latarnya putih. Teksnya abu-abu. Dan di bagian atas, sebuah foto — mobil sedan putih yang bagian depannya ringsek, menabrak pembatas jembatan, hujan deras membasahi aspal di sekitarnya.
Raka membaca pelan.
Kecelakaan tunggal. Terjadi sebelas tahun lalu. Pukul satu pagi. Di Kilometer 17, jalan raya menuju Kalipandan — jalan yang sama yang tadi ia lewati.
Korban: seorang perempuan berusia dua puluh tiga tahun. Nama: Sari Wulandari.
Ia sedang dalam perjalanan pulang dari sebuah acara keluarga.
Mobil yang ia tumpangi menabrak pembatas jembatan saat hujan deras. Pengemudinya selamat. Sari tidak.
Raka berhenti membaca.
Napasnya tertahan. Matanya menatap kata jembatan itu lama. Jembatan yang sama. Jembatan yang tidak ada di GPS. Jembatan tempat perempuan berbaju putih itu memintanya untuk tidak berhenti.
Ia menggeser layar.
Di bawah berita itu, ada catatan polisi. Kecil. Abu-abu. Hampir tidak terbaca.
Korban sempat melakukan panggilan telepon beberapa menit sebelum kecelakaan.
Raka menahan napas.
Ia menekan catatan itu. Halaman baru terbuka. Lebih pendek. Lebih tua. Seperti diambil dari arsip yang sudah lama tidak disentuh.
Panggilan terakhir korban tercatat pada pukul 00.17.
Raka membeku.
00.17.
Jam digital di motornya. Jam yang berhenti sejak ia menerima pesanan itu. Jam yang tidak pernah berubah, tidak pernah bergerak, tidak pernah maju satu menit pun sepanjang malam ini.
Ia membaca baris berikutnya.
Panggilan ditujukan kepada seseorang yang tercatat dalam kontak korban dengan nama: Raka.
Sunyi.
Raka menatap layar itu tanpa berkedip. Jari-jarinya dingin di atas ponsel. Napasnya berhenti di pangkal tenggorokan.
Raka.
Namanya.
Namanya tertulis di catatan polisi sebelas tahun lalu. Namanya tercatat sebagai orang terakhir yang dihubungi oleh seorang perempuan yang meninggal di Kilometer 17.
Tapi ia tidak pernah menerima panggilan itu.
Ia tidak pernah mengenal Sari Wulandari. Ia tidak pernah bicara dengannya. Ia tidak pernah—
Raka menutup matanya. Pelan. Lama.
Ia mengingat sesuatu.
Sebelas tahun lalu. Ia berumur enam belas tahun. Ia masih duduk di lantai ruang tamu, dan ibunya menangis sambil membaca koran. Ia tidak mengerti kenapa. Ia hanya tahu bahwa malam itu, ponselnya berdering sekali. Sekali saja. Pukul setengah satu pagi. Nomor tak dikenal. Ia tidak mengangkatnya karena ia sedang tidur.
Ia tidak pernah mengangkatnya.
Ia tidak pernah tahu siapa yang menelepon.
Sampai malam ini.
Raka membuka matanya. Tangannya gemetar begitu hebat sampai ponsel itu hampir jatuh dari genggamannya.
Ia menggeser layar lagi. Mencari lebih banyak. Mencari nama pengemudi mobil itu. Mencari siapa yang selamat. Mencari—
Layar itu berkedip.
Baterai lima persen.
Raka menahan napas. Ia menekan satu tautan terakhir — sebuah tautan yang tidak ia sadari ada di bagian paling bawah halaman, kecil, abu-abu, hampir tidak terlihat.
Layar itu memuat pelan.
Dan di atasnya, sebuah judul muncul.
Daftar pengemudi yang hilang di rute Km 17 (2008–sekarang).
Raka menatap judul itu.
Jari-jarinya membeku.
Di bawah judul itu, sebuah tabel. Nama-nama. Tanggal. Dan di kolom paling kanan, sebuah kolom yang kosong, hanya berisi satu titik — titik kecil yang berdenyut pelan, seperti titik di awal semua ini.
Baterai tiga persen.
Raka menggulir.
Dan nama pertama di daftar itu membuat darahnya berhenti mengalir.
Raka Pratama. 00.17.
Tanggalnya.
Malam ini.