story 3 · episode 2
Rumah Nomor Tujuh
06 menit membaca

Raka tidak ingat bagaimana ia sampai di luar warung itu.
Yang ia ingat hanya kakinya yang bergerak sendiri — mundur, berbalik, lari — dan motornya yang masih menyala di tengah lapangan, dan lampu minyak yang apinya sudah padam, dan foto itu, foto yang ia jatuhkan di lantai berdebu, foto dengan wajahnya sendiri di barisan paling kanan.
Ia menyalakan gas. Tangannya gemetar begitu hebat sampai setang itu bergetar di genggamannya.
Ia tidak menoleh lagi. Tidak ke warung. Tidak ke bangku panjang. Tidak ke arah rumah bercat biru yang tadi menyala di balik pohon-pohon pisang.
Tapi ponselnya menoleh untuknya.
Layar di dashboard itu menyala. Peta masih terbuka. Dan titik tujuan itu — titik yang sejak tadi bergerak sendiri, menjauh, menuntun — akhirnya berhenti.
Berhenti tepat di depan sebuah rumah.
Raka menahan napas.
Di bawah titik itu, sebuah tulisan muncul. Huruf demi huruf. Seperti ada yang mengetiknya dari dalam.
Tujuan tercapai.
Raka mengangkat kepalanya.
Dan rumah itu ada di sana.
* * *
Biru.
Bukan biru muda. Bukan biru langit. Biru tua yang kusam, seperti cat yang sudah puluhan tahun tidak disentuh kuas, mengelupas di sana-sini, memperlihatkan kayu di bawahnya yang hitam karena lembap.
Raka menghentikan motornya di depan pagar.
Pagar itu rendah. Besi tempa yang sudah berkarat, sebagian miring ke dalam, sebagian sudah lepas dari engselnya dan tergantung di rumput. Halaman di baliknya penuh rumput liar — setinggi pinggang, kering di ujungnya, melengkung seperti orang yang menunduk. Tidak ada jalan setapak. Tidak ada jejak kaki. Rumput itu tumbuh merata, dari pagar sampai ke teras, dan tidak ada satu pun celah yang menunjukkan bahwa ada orang pernah lewat.
Rumah itu tidak pernah dikunjungi.
Rumah itu tidak pernah dihuni.
Tapi di dindingnya, di sebelah kiri pintu, tergantung sebuah angka.
Kayu. Lapuk. Tulisan putih yang sudah pudar.
7.
Raka menatap angka itu lama.
Ia menoleh ke ponselnya. Titik itu masih di sana. Masih berdenyut pelan, tepat di atas atap rumah itu.
Ia menoleh ke jok belakang.
Kosong.
Selalu kosong. Sejak jembatan. Sejak mobil hitam itu lewat. Sejak perempuan berbaju putih itu menghilang tanpa suara.
Tapi kalau begitu — kenapa ia masih di sini?
Kenapa ia masih berdiri di depan rumah yang katanya tidak boleh ia antarkan siapa pun ke sana?
Raka mematikan mesin. Suara motor itu mati, dan sunyi yang menggantikannya jauh lebih berat dari yang ia duga. Sunyi yang menekan. Sunyi yang seperti seseorang menahan napas di dekat telinganya.
Ia turun.
Kakinya menyentuh tanah. Dingin menjalar dari sepatunya, naik ke tulang kering, ke lutut, ke pangkal paha. Ia melangkah pelan ke arah pagar.
Rumput liar itu menyapu betisnya. Kering. Berdesir. Seperti jari-jari yang menyentuh.
Ia berhenti di depan pintu.
Pintu itu kayu. Cat birunya sudah hampir habis, hanya tersisa di celah-celah papan. Pegangannya bulat, kuningan, menghitam karena usia.
Dan pintu itu terbuka sedikit.
Hanya sedikit. Selebar telapak tangan. Celah gelap di baliknya, tidak cukup untuk melihat apa pun, hanya cukup untuk tahu bahwa pintu itu tidak terkunci.
Raka mengulurkan tangan. Pelan. Hampir menyentuh pegangannya.
Lalu ia mendengar suara itu.
Dari dalam rumah.
* * *
Nyanyian.
Pelan. Samar. Seperti suara yang datang dari ruangan yang jauh, melewati dinding-dinding kayu yang lembap, melewati celah-celah pintu yang tidak tertutup rapat.
Seorang perempuan. Suaranya rendah. Nada-nadanya sederhana, berulang, seperti sesuatu yang dinyanyikan bukan untuk didengar, tapi untuk ditidurkan.
Nina bobo.
Raka membeku di depan pintu.
Tangannya masih terangkat. Jari-jarinya masih menggantung beberapa senti dari pegangan pintu itu. Tapi ia tidak bisa bergerak. Tidak bisa menurunkan tangan. Tidak bisa berbalik. Tidak bisa apa-apa selain berdiri di sana, mendengarkan.
Karena ia mengenal suara itu.
Ia mengenal suara itu.
Suara yang sama. Suara yang sejak perjalanan dimulai — sejak halte tua, sejak hujan yang tidak menyentuh baju putih itu, sejak bisikan dari dalam helmnya, sejak perintah pelan untuk jangan berhenti di jembatan — suara yang sama, dengan nada yang sama, dengan napas yang sama di ujung setiap kata.
Suara perempuan berbaju putih itu.
Menyanyikan nina bobo.
Dari dalam rumah nomor tujuh.
Raka menelan ludah. Tenggorokannya kering seperti kertas yang terbakar.
"Mbak?"
Nyanyian itu tidak berhenti.
"Mbak, ini saya. Raka. Yang tadi nganterin."
Suaranya sendiri terdengar asing. Terlalu kecil. Terlalu tipis. Seperti suara orang yang sudah lama tidak bicara pada siapa pun.
Nyanyian itu terus mengalir. Pelan. Teratur. Seperti air yang jatuh di batu.
Raka menggeser kakinya. Satu langkah. Dua. Ia sudah berdiri di ambang pintu sekarang. Celah gelap itu di depannya. Bau sesuatu keluar dari dalam — bau kayu tua, bau tanah, bau kain yang lama tidak dijemur.
Ia mendorong pintu itu.
Pelan. Sangat pelan.
Kayunya berderit. Satu deritan panjang yang menjalar di sepanjang dinding, seperti sesuatu yang mengeluh karena dibangunkan.
Dan Raka melihat ke dalam.
* * *
Ruangan itu gelap.
Hanya ada satu cahaya — lampu minyak di atas meja kayu di sudut ruangan, apinya kecil, berkedip-kedip seperti mata yang setengah tertutup. Cahaya itu tidak cukup untuk menerangi seluruh ruangan. Hanya cukup untuk membuat bayangan-bayangan di dinding bergerak pelan, memanjang, memendek, memanjang lagi.
Raka melangkah masuk.
Lantainya kayu. Berderit di setiap langkahnya. Meja. Kursi. Sebuah lemari tua yang pintunya menganga. Semuanya berdebu. Semuanya kosong.
Nyanyian itu tidak berhenti.
Datangnya dari ruangan sebelah. Dari balik pintu yang setengah terbuka.
Raka melangkah pelan. Kakinya menyentuh sesuatu di lantai — sesuatu yang tipis, dingin, lembut. Ia menunduk.
Sebuah kain.
Putih. Tergeletak di lantai, terlipat tidak rapi, seperti sesuatu yang baru saja dilepas dan dijatuhkan begitu saja. Di ujungnya, di bagian bawah, ada warna kecokelatan yang samar.
Warna yang sama.
Warna yang ia lihat di gaun perempuan itu, di atas mata kaki, ketika hujan turun di jalan tanah menuju Kalipandan.
Raka menahan napas. Ia mengangkat kepalanya.
Pintu di depannya itu mendorong dirinya sendiri.
Pelan. Sangat pelan.
Dan di baliknya, di dalam kamar yang gelap, duduk seorang perempuan.
Membelakanginya.
Rambut panjang terurai di punggung. Baju putih. Dan ia menyanyi.
Nina bobo.
Raka membuka mulut. Tapi tidak ada suara yang keluar. Hanya napas yang tertahan di pangkal tenggorokannya.
Perempuan itu berhenti menyanyi.
Pelan. Sangat pelan.
Kepalanya mulai menoleh.
Dan sebelum wajahnya terlihat, sebelum Raka sempat melihat apa pun, ponsel di sakunya berbunyi.
Satu nada. Bersih. Terlalu bersih.
Raka meraih ponselnya. Tangannya gemetar. Ia menatap layar.
Sebuah pesanan baru masuk.
Jemput di Rumah Nomor Tujuh.
Tujuan: .
Nama: .
Satu titik. Hanya satu titik.
Dan di bawahnya, tulisan kecil yang muncul satu per satu, seperti ada yang mengetiknya dari dalam.
Terima kasih sudah mengantar saya pulang.
Raka mendongak.
Perempuan itu sudah berbalik.
Dan wajahnya, wajah yang selama ini hanya ia lihat lewat kaca spion, wajah yang selalu tertutup rambut dan kegelapan, akhirnya menatapnya — lurus, tanpa perantara, tanpa kaca, tanpa apa pun.
Raka mengenal wajah itu.
Ia mengenal wajah itu.
Tapi bukan dari malam ini.
Bukan dari perjalanan ini.
Dari sebelas tahun lalu.