story 4 · episode 2
Penumpang yang Sudah Sampai
05 menit membaca

Wajah itu.
Raka menatapnya tanpa berkedip. Tanpa bernapas. Tanpa bergerak.
Ia mengenalnya. Bukan dari malam ini. Bukan dari halte tua itu. Bukan dari jok belakang motornya yang selalu kosong di kaca spion.
Ia mengenalnya dari sebuah foto yang tergantung di dinding rumah lamanya. Foto yang sudah lama ia lupakan. Foto yang ia lihat setiap hari sampai ia berumur enam belas tahun, lalu ia berhenti melihat karena ibunya meninggalkannya.
Perempuan di depannya itu.
Wajah yang sama.
Raka mundur. Pelan. Satu langkah. Kakinya menyentuh kain putih di lantai, dan ia hampir terjatuh.
Perempuan itu tidak bergerak. Ia hanya menatap. Duduk di tepi ranjang kayu yang berdebu, tangan terlipat di pangkuan, rambut panjang terurai di bahu, dan di bibirnya, senyum tipis yang tidak sampai ke mata.
"Kamu sudah besar," katanya.
Suaranya pelan. Lembut. Seperti suara yang pernah ia dengar di masa kecil, di ruangan yang gelap, ketika ia tidak bisa tidur.
Raka menggeleng. Kepalanya berputar. Tenggorokannya kering.
"Kamu bukan…"
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.
Karena ponsel di tangannya berbunyi lagi.
Satu nada. Bersih. Terlalu bersih.
* * *
Raka menunduk. Tangannya masih gemetar. Ia menatap layar itu seperti menatap sesuatu yang hidup.
Aplikasi itu berubah.
Bukan lagi peta. Bukan lagi panah biru yang berputar. Bukan lagi tulisan kecil yang muncul huruf demi huruf.
Layar itu sekarang menampilkan sebuah halaman yang ia kenal. Halaman yang selalu ia lihat setiap kali ia menyelesaikan perjalanan. Halaman konfirmasi.
Perjalanan selesai.
Raka menahan napas.
Di bawah tulisan itu, ada angka. Angka saldo. Angka yang bertambah.
Ia membaca sekali. Dua kali. Tiga kali.
Rp 8.170.000.
Raka membeku.
Delapan juta lebih. Untuk perjalanan empat puluh menit. Untuk perjalanan yang tidak pernah selesai. Untuk perjalanan yang membawanya ke desa yang tidak ada di peta, ke jembatan yang tidak ada di GPS, ke rumah yang katanya tidak boleh ia antarkan siapa pun ke sana.
Ia menggeleng pelan. Ini tidak mungkin. Ini tidak masuk akal. Ini pasti error. Ini pasti…
Lalu notifikasi berikutnya muncul.
Putih. Bersih. Di atas layar yang masih menyala.
Raka membacanya.
Terima kasih telah mengantar Sari Wulandari.
Ia membaca nama itu sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Dan setiap kali, sesuatu di dalam dadanya mengetat, seperti tali yang ditarik pelan dari kedua ujungnya.
Sari Wulandari.
Nama itu.
Ia pernah mendengar nama itu. Ia pernah melihat nama itu tertulis di sebuah kertas. Di sebuah berita. Di sebuah koran lama yang ibunya baca sambil menangis, sebelas tahun lalu, ketika ia masih duduk di lantai ruang tamu dan tidak mengerti kenapa ibunya menangis.
Raka menelan ludah. Tenggorokannya kering seperti kertas yang terbakar.
Ia menggeser layar. Mencari detail. Mencari riwayat. Mencari apa pun yang bisa menjelaskan.
Dan di bawah nama itu, ada tulisan lain.
Kecil. Abu-abu. Hampir tidak terlihat.
Tanggal perjalanan pertama.
Raka menatapnya lama.
Ia membaca angka itu. Tanggal. Bulan. Tahun.
Sebelas tahun lalu.
Jari-jarinya membeku di atas layar. Matanya tidak berkedip. Napasnya tertahan di pangkal tenggorokan.
Sebelas tahun lalu.
Perjalanan pertama. Bukan perjalanan ini. Bukan perjalanan malam ini. Perjalanan yang pertama.
Dan di bawah tanggal itu, ada satu baris lagi.
Pengemudi: —
Nama pengemudi itu kosong. Hanya ada satu titik. Satu titik kecil yang berdenyut pelan, seperti titik di awal semua ini.
Raka mengangkat kepalanya.
Ia menatap perempuan di depannya. Perempuan yang masih duduk di tepi ranjang. Perempuan yang masih menatapnya dengan senyum tipis yang tidak sampai ke mata.
"Kamu…"
Suaranya serak. Hampir tidak keluar.
"Kamu meninggal sebelas tahun lalu."
Perempuan itu tidak menjawab.
Ia hanya mengangkat tangannya. Pelan. Sangat pelan. Dan menunjuk ke ponsel di tangan Raka.
Raka menunduk.
Layar itu berubah lagi.
Notifikasi nama itu hilang. Tanggal itu hilang. Halaman konfirmasi itu hilang. Yang tersisa hanya sebuah foto.
Foto seorang perempuan.
Berdiri di depan sebuah halte tua. Bangku beton retak. Tiang berkarat. Atap yang miring ke kiri. Dan di bawah atap itu, perempuan itu berdiri — baju putih, rambut panjang terurai, wajah yang tenang, mata yang tidak ramah.
Wajah yang sama.
Wajah yang persis sama dengan penumpang yang tadi duduk di jok belakang motornya.
Raka menahan napas.
Tangannya bergerak cepat. Jempolnya melayang ke tombol tangkapan layar. Ia harus menyimpan ini. Ia harus menunjukkan ini pada seseorang. Ia harus punya bukti. Ia harus—
Layar itu mati.
Hitam. Kosong. Seperti tidak pernah menyala.
Raka menekan tombol power. Menekannya lagi. Menekannya lama.
Tidak ada apa-apa.
Ponsel itu dingin di tangannya. Dingin seperti batu. Dingin seperti sesuatu yang sudah lama mati.
Ia mendongak.
Dan perempuan itu masih di sana. Masih duduk di tepi ranjang. Masih menatapnya. Tapi senyum di wajahnya sudah hilang. Yang tersisa hanya sesuatu yang lain — sesuatu yang lebih tua dari senyum, lebih tua dari wajahnya, lebih tua dari rumah ini.
"Raka," katanya.
Suaranya berubah. Tidak lagi lembut. Tidak lagi seperti suara ibunya di masa kecil. Kali ini suaranya bergetar. Pelan. Seperti sesuatu yang sudah lama ditahan dan akhirnya bocor juga.
Raka mundur. Satu langkah. Dua. Kakinya menyentuh ambang pintu kamar. Ia harus keluar. Ia harus pergi dari rumah ini. Ia harus—
"Mas Raka."
Ia berhenti.
Suara itu datang dari belakangnya.
Bukan dari perempuan di ranjang. Bukan dari kamar ini. Tapi dari dalam rumah. Dari ruangan yang tadi ia lewati. Dari balik pintu yang tadi mendorong dirinya sendiri.
Raka menoleh.
Pelan. Sangat pelan.
Dan di ujung lorong gelap itu, di ambang pintu depan yang masih terbuka sedikit, ia melihat sesuatu. Sosok. Berdiri. Baju putih. Rambut panjang terurai.
Persis seperti perempuan di ranjang.
Persis seperti penumpangnya.
Raka membeku.
Dua.
Ada dua.
Dan yang di ujung lorong itu mengangkat tangannya. Pelan. Seperti melambai. Seperti memanggil.
Lalu suaranya keluar. Pelan. Jelas. Menggema di sepanjang dinding kayu yang lembap, di sepanjang lantai yang berderit, di sepanjang tulang-tulang Raka yang mendadak dingin.
"Mas Raka, tunggu."
Raka menahan napas.
"Aku belum membayar ongkos yang dulu."