TAGAR MISTERI

jangan dibaca sendirian

story 2 · episode 2

Warung yang Sudah Tutup Sejak Lama

06 menit membaca

Warung yang Sudah Tutup Sejak Lama

Gang itu sempit.

Cukup untuk satu motor, tidak lebih. Dinding-dinding rumah menekan dari kiri dan kanan, bercat pudar, berlumut di bagian bawah, dan di atas kepala, kabel-kabel menjuntai seperti urat yang mengering.

Raka melaju pelan. Lampu motornya menyapu dinding, menemukan daun pintu yang tertutup, jendela yang dipapani, dan di salah satu sudut, seekor kucing yang duduk mematung, matanya menyala hijau, tidak bergerak sedikit pun saat motor itu melewatinya.

Ia tidak menoleh. Ia sudah belajar satu hal malam ini: jangan menoleh.

Gang itu berbelok tiga kali. Kiri. Kanan. Kiri lagi. Dan setiap belokan, Raka merasa gang itu semakin panjang, bukan semakin pendek. Seperti ada yang menambah panjangnya di belakangnya, sementara ia berjalan.

Lalu ia keluar.

Bukan ke jalan besar. Bukan ke rumah nomor tujuh. Tapi ke sebuah lapangan kecil — tanah kosong dengan beberapa batang pohon pisang di tepinya — dan di seberang lapangan itu, sebuah cahaya.

Kuning. Samar. Berkedip.

Raka menahan napas.

Cahaya itu sama. Sama seperti yang tadi ia lihat di seberang jembatan. Lampu di balik jendela. Lampu yang menyala setelah ia kehilangan penumpangnya.

Ia memperlambat motornya.

Bukan rumah. Bukan jendela.

Sebuah warung.

Kecil. Berdinding kayu. Beratap seng yang sudah berkarat di tepinya. Di depannya, sebuah bangku panjang dan meja rendah, dan di atas meja itu, sebuah lampu minyak menyala pelan, apinya bergoyang-goyang seperti ada angin yang tidak ia rasakan.

Raka menghentikan motornya lima meter dari warung itu.

Ia menoleh ke ponselnya.

06:12.

06:11.

Titik tujuan itu masih bergerak. Masih menjauh. Masih menuntun entah ke mana.

Raka menelan ludah. Ia menatap warung itu lama. Tidak ada orang di bangku. Tidak ada orang di meja. Tapi lampu itu menyala. Dan di dalam, samar-samar, ada sesuatu yang bergerak.

Ia butuh bertanya. Ia butuh tahu di mana ia berada. Ia butuh tahu apakah rumah nomor tujuh itu benar-benar ada, atau apakah ia sedang berjalan dalam mimpi yang tidak mau berakhir.

Ia turun dari motornya.

Langkahnya pelan. Sepatunya menyentuh tanah lapangan yang lembap, dan setiap langkah terasa seperti menekan sesuatu yang hidup.

Sampai di depan warung, Raka berhenti.

Di dalam, di balik meja panjang yang dipenuhi gelas-gelas kosong dan stoples-stoples yang berdebu, seorang lelaki tua berdiri membelakanginya. Ia sedang mengelap meja. Gerakannya lambat. Teratur. Seperti bapak yang menyapu tadi.

Raka membuka mulut.

"Permisi."

Lelaki itu tidak menoleh.

"Permisi, Pak. Saya mau tanya."

Gerakan mengelap itu berhenti.

Pelan. Sangat pelan.

Lelaki itu meletakkan kainnya di atas meja, lalu berbalik. Wajahnya keriput. Matanya sipit. Kulitnya pucat seperti orang yang sudah lama tidak melihat matahari. Ia menatap Raka dari ujung sepatu sampai ujung helm, lalu berhenti di jaket ojek yang masih menempel di badan pemuda itu.

"Ojek," katanya.

Bukan pertanyaan.

Raka mengangguk. "Iya, Pak. Saya tersesat. Saya mau tanya—"

"Dari mana?"

Suaranya pelan. Datar. Seperti suara yang sudah lama tidak dipakai untuk bicara.

Raka ragu sejenak. Ia tidak tahu kenapa, tapi ada sesuatu di tenggorokannya yang menahan jawabannya. Sesuatu yang bilang, jangan bilang. Jangan sebut halte itu.

Tapi ia butuh jawaban.

"Dari halte, Pak. Halte Cempaka Lama."

Lelaki itu membeku.

Kain yang tadi ia letakkan di atas meja — tangannya belum lepas dari kain itu. Dan sekarang, jari-jari keriputnya mengetat di atas kain itu, memutih, seperti sedang menahan sesuatu yang ingin keluar dari dalam dirinya.

"Kamu dari halte itu?"

Raka mengangguk.

Lelaki itu menutup matanya. Pelan. Lama.

Ketika ia membukanya lagi, ada sesuatu yang berbeda di sana. Bukan marah. Bukan takut. Sesuatu yang lebih tua dari keduanya.

"Pergi," katanya.

Raka mengerutkan dahi. "Pak?"

"Pergi dari sini. Sebelum pukul satu."

Raka menoleh ke ponselnya. 06:04. Ia tidak tahu apakah itu berarti enam menit atau enam jam. Ia tidak tahu apa arti angka itu lagi.

"Pukul satu?"

"Sebelum pukul satu," ulang lelaki itu. "Jangan tunggu sampai pukul satu."

Ia berbalik, mengambil kainnya, dan mulai mengelap meja lagi. Krik. Krik. Seperti sapu tadi. Seperti sesuatu yang berulang.

Raka melangkah lebih dekat. Kakinya menyentuh ambang pintu warung. Dingin menjalar dari telapak sepatunya, naik ke tulang kering, ke lutut.

"Pak, tolong. Saya cuma mau tahu. Kenapa saya tidak boleh di sini setelah pukul satu?"

Kain itu berhenti di tengah meja.

Lelaki tua itu tidak berbalik. Punggungnya bungkuk. Bahunya turun. Dan suaranya keluar pelan, hampir tidak terdengar, seperti sesuatu yang sudah lama ia simpan dan akhirnya bocor juga.

"Kalau perempuan itu sudah sampai rumahnya," katanya, "biasanya ada yang harus menggantikan dia."

Raka membeku.

Dingin di kakinya merayap naik. Ke perut. Ke dada. Ke tenggorokan.

"Menggantikan?"

Lelaki itu tidak menjawab.

"Pak. Pak, maksudnya apa? Siapa yang menggantikan? Perempuan yang mana?"

Raka melangkah lagi. Satu langkah. Dua langkah. Ia sudah berdiri di dalam warung sekarang, di antara meja-meja panjang yang dipenuhi gelas kosong, dan ia bisa mencium bau sesuatu — bau kayu tua, bau debu, bau tanah yang lama tidak terkena cahaya.

"Pak."

Ia mengulurkan tangan. Menyentuh bahu lelaki tua itu.

Dan bahunya runtuh.

Bukan roboh. Bukan jatuh. Runtuh — seperti kain yang tiba-tiba kehilangan isinya, seperti debu yang tiba-tiba lepas dari tumpukannya. Tangan Raka menembus sesuatu yang tidak ada, dan di depannya, lelaki tua itu…

Hilang.

Tidak ada suara. Tidak ada angin. Tidak ada apa pun. Hanya ruang kosong di tempat bahu itu tadi.

Raka menahan napas.

Ia menoleh ke sekelilingnya.

Warung itu kosong.

Bukan kosong karena tidak ada orang. Kosong karena tidak pernah ada orang. Meja-meja itu tertutup debu tebal — setebal kuku, berlapis-lapis, seperti tidak pernah disentuh selama bertahun-tahun. Gelas-gelas di atasnya retak, sebagian sudah pecah, pecahannya masih di tempatnya, tidak bergeser. Stoples-stoples berisi sesuatu yang sudah mengering, berwarna cokelat kehitaman, dan di dalamnya, sesosok serangga mati membusuk.

Lampu minyak di depan warung masih menyala.

Tapi apinya tidak bergoyang lagi.

Raka mundur. Pelan. Satu langkah. Dua. Kakinya menyentuh sesuatu — sesuatu yang keras, dingin, di lantai. Ia menunduk.

Sebuah kain.

Kain lap. Yang tadi dipegang lelaki itu. Tergeletak di lantai, terlipat rapi, dan di atasnya…

Sebuah foto.

Hitam putih. Sudah menguning di tepinya. Di dalamnya, sekelompok orang berdiri berbaris di depan sebuah warung — warung yang sama, dengan bangku panjang dan meja rendah yang sama — dan di tengah-tengah mereka, seorang lelaki tua berdiri dengan kain lap di tangannya.

Lelaki yang tadi bicara padanya.

Raka menatap foto itu lama. Terlalu lama. Matanya menyapu wajah-wajah di dalamnya — orang-orang yang tersenyum, orang-orang yang berdiri kaku, orang-orang yang…

Berhenti.

Di barisan paling kanan, di ujung foto, berdiri seorang pemuda. Jaket ojek. Helm di tangan. Wajah yang ia kenal.

Wajahnya sendiri.

Raka menjatuhkan foto itu. Tangannya gemetar. Ia menoleh ke pintu warung, ke arah motornya yang masih menyala di tengah lapangan, ke arah lampu minyak yang apinya kini padam.

Dan di luar, di kejauhan, di balik pohon-pohon pisang itu, sesuatu menyala.

Sebuah rumah.

Bercat biru.

Pintunya terbuka.

kembali ke daftar story episode 2