TAGAR MISTERI

jangan dibaca sendirian

story 1 · episode 2

Warga yang Menghilang

05 menit membaca

Warga yang Menghilang

Raka menyeberangi jembatan itu tanpa bernapas.

Bukan karena ia memutuskan. Bukan karena ia berani. Tapi karena motornya bergerak sendiri — pelan, hati-hati, seperti ada yang menuntun dari belakang — dan sebelum ia sempat menarik napas, roda-rodanya sudah menyentuh aspal di seberang.

Beton itu tidak berbunyi.

Tidak ada getaran. Tidak ada retakan yang mengeluh. Hanya sunyi yang mengikuti, seperti jembatan itu menahan diri agar tidak ketahuan.

Raka menoleh ke spion.

Jembatan itu masih di sana. Pagar berkarat. Beton retak. Kabut yang mengambang di tengahnya.

Tapi tidak ada rumah.

Lampu kuning yang tadi menyala di balik jendela — hilang. Tidak ada kabut yang membelah. Tidak ada bangunan. Hanya jalan tanah yang melanjutkan diri ke dalam gelap, dan di ujungnya, samar-samar, sesosok papan nama desa.

Raka menghentikan motornya.

Ia menatap ponselnya. Angka itu masih berjalan.

08:41.

08:40.

Titik tujuan itu masih bergerak. Masih menjauh. Masih menuntun.

"Apa-apaan ini," bisiknya.

Ia menutup aplikasi. Membukanya lagi. Menutupnya. Membukanya lagi.

Titik itu tetap di sana. Tetap bergerak. Tetap menghitung.

Raka menghela napas panjang, lalu memutar gas. Tidak ada pilihan lain. Ia sudah di sini. Ia sudah menyeberangi jembatan yang tidak ada di peta. Ia sudah kehilangan penumpangnya di tengah hutan.

Yang bisa ia lakukan hanya satu: sampai.

* * *

Desa Kalipandan tidak muncul seperti desa.

Tidak ada gerbang. Tidak ada gapura. Tidak ada lampu penerangan. Rumah-rumah itu hanya ada — tiba-tiba, di kanan dan kiri, setelah jalan tanah itu berbelok, seperti mereka sudah berdiri di sana sejak lama dan baru memutuskan untuk terlihat.

Atap genting. Dinding kayu. Pagar-pagar rendah yang ditumbuhi tanaman menjalar.

Dan sunyi.

Bukan sunyi malam biasa. Bukan sunyi desa yang tidur. Sunyi yang menekan, seperti udara yang terlalu tebal untuk dihirup.

Tidak ada suara jangkrik. Tidak ada suara anjing. Tidak ada suara apa pun selain mesin motornya yang berdebar terlalu keras di antara rumah-rumah itu.

Raka memperlambat motornya. Matanya menyapu ke kiri dan ke kanan, mencari sesuatu — siapa pun — yang bisa ia tanyai.

Lalu ia melihatnya.

Seorang bapak.

Tua. Punggungnya bungkuk. Ia berdiri di halaman sebuah rumah, memegang sapu lidi, dan menyapu.

Menyapu.

Di tengah malam. Di halaman yang sudah bersih. Dengan gerakan lambat, teratur, seperti orang yang sudah melakukannya seribu kali dan tidak akan berhenti sampai sesuatu yang lain terjadi.

Raka menelan ludah. Ia menghentikan motornya di pinggir jalan, mematikan mesin, dan turun.

Kakinya terasa berat. Lututnya kaku. Tapi ia melangkah juga — pelan, hati-hati — mendekati pagar rendah itu.

"Permisi, Pak."

Bapak itu tidak menoleh. Sapunya tetap bergerak. Krik. Krik. Krik.

"Pak. Maaf mengganggu."

Suara Raka terdengar aneh di telinganya sendiri. Terlalu kecil. Terlalu tipis di tengah sunyi desa ini.

Bapak itu berhenti menyapu.

Pelan. Sangat pelan.

Ia mengangkat kepalanya, dan untuk pertama kalinya, Raka melihat wajahnya — keriput, pucat, mata yang sayu tapi tidak berkedip.

"Mau ke mana?"

Suaranya serak. Pelan. Seperti suara yang keluar dari dalam tanah.

"Saya cari rumah nomor tujuh, Pak."

Raka tidak tahu kenapa ia mengatakan itu. Ia tidak tahu nomor rumah tujuannya. Ia bahkan tidak tahu apakah rumah itu bernomor. Tapi kata-kata itu keluar dari mulutnya begitu saja, seperti sesuatu yang lain yang mengatakannya lewat tenggorokannya.

Bapak itu menatapnya lama.

Terlalu lama.

Lalu ia mengangkat tangan yang memegang sapu, dan menunjuk.

Ke sebuah gang sempit di antara dua rumah, di ujung jalan, gelap, seperti mulut yang menganga.

"Lewat situ."

Raka mengangguk. "Terima kasih, Pak."

Ia hendak berbalik.

"Nak."

Raka berhenti.

Bapak itu masih menatapnya. Sapunya sudah turun, ujungnya menyentuh tanah, dan tangannya yang keriput menggenggam gagangnya terlalu erat.

"Jangan antar siapa pun ke rumah bercat biru."

Raka mengerutkan dahi.

"Rumah bercat biru?"

"Jangan."

Suaranya lebih tegas sekarang. Tidak serak. Tidak pelan. Tegas.

"Kalau ada yang minta diantar ke sana, tinggalkan. Jangan peduli dia bayar berapa. Jangan peduli dia bilang apa."

Raka menelan ludah. Tenggorokannya kering.

"Kenapa, Pak?"

Bapak itu tidak menjawab.

Ia hanya menatap Raka — lama, dalam, seperti sedang mencari sesuatu di wajah pemuda itu — lalu ia berbalik dan mulai menyapu lagi.

Krik. Krik. Krik.

Raka berdiri di sana beberapa detik. Ia ingin bertanya lagi. Ia ingin tahu. Tapi ada sesuatu di punggung bungkuk itu yang membuatnya tidak berani.

"Terima kasih, Pak," katanya akhirnya. "Saya hati-hati."

Ia berbalik.

Dan ketika ia berbalik, ia melihat sesuatu yang membuat darahnya berhenti mengalir.

Dari balik jendela-jendela rumah di sepanjang jalan itu — jendela yang tadi gelap, jendela yang tadi kosong — beberapa pasang mata menatapnya.

Tidak ada yang menyala. Tidak ada lampu. Tidak ada sosok yang berdiri. Hanya mata.

Bulu tengkuk Raka berdiri. Ia menghitung dalam hati. Satu. Dua. Tiga. Empat pasang. Mungkin lebih. Semuanya menatapnya tanpa berkedip, dari balik kaca yang gelap, dari balik tirai yang tidak bergerak.

Raka mengalihkan pandangan. Menatap aspal. Menatap motornya. Menatap apa saja selain jendela-jendela itu.

"Terima kasih, Pak," ulangnya, lebih untuk mengisi sunyi daripada untuk siapa pun.

Tidak ada jawaban.

Tidak ada suara sapu.

Raka mendongak.

Bapak itu sudah tidak ada.

Halaman itu kosong. Pagar rendah itu kosong. Tidak ada sosok bungkuk. Tidak ada sapu lidi. Tidak ada apa pun selain…

Sapu itu.

Tergeletak di tengah jalan. Gagangnya menunjuk ke arah Raka. Ujungnya menyentuh aspal, seperti sesuatu yang baru saja jatuh — atau baru saja dilempar.

Raka menatap sapu itu lama.

Ia menoleh ke kiri. Ke kanan. Ke belakang.

Jendela-jendela itu masih menatapnya. Empat pasang mata. Tidak berkedip. Tidak bergerak. Tidak pergi.

Raka berjalan cepat ke motornya. Ia menyalakan mesin. Tangannya gemetar di atas setang. Ia tidak menoleh lagi. Tidak ke jendela. Tidak ke sapu. Tidak ke halaman kosong tempat seorang bapak tadi berdiri.

Ia memutar gas dan menyusup ke dalam gang sempit itu.

Gelap menelannya.

Dan di belakangnya, di tengah jalan desa yang sunyi, sapu itu masih tergeletak — dan salah satu pasang mata di balik jendela itu akhirnya berkedip.

Sekali. Seperti baru saja bangun.

kembali ke daftar story episode 2